Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Mengenal Tintin Lewat Sosok Seno Gumira Ajidarma

Setelah melewati Simpang Dago saya begitu yakin sebentar lagi akan sampai menuju ke Cigadung. Nama daerah ini masih terasa asing bagi saya biarpun begitu perjalanan tidak bisa berhenti sampai di sini. Berkat petunjuk dari beberapa orang mulai dari pengguna motor, pejalan kaki dan tukang parkir, saya tidak lagi merasa bingung. Untuk pertama kalinya motor Honda Beat hitam saya mulai memasuki daerah Tubagus Ismail. Atas arahan dari tukang parkir di Tubagus Ismail saat berada di depan rumah makan Ampera langsung belok kiri. Saya pun menemukan Ampera yang letaknya bersebelahan dengan Alfamart lalu belok kiri. 

Setelah belok kiri beberapa ratus meter tampak sebuah gapura disana tertulis Komplek Perum UNPAD Cigadung I tugas saya selanjutnya adalah mencari jalan Sosiologi No. 14 yang menariknya di depan gapura pintu masuk ada plang yang memuat peta di komplek ini. Di peta jalan Sosiologi letaknya berdekatan dengan Paramita. Saya kini telah menemukan Jl. Sosiologi No.14 yang dimaksud . yaitu sebuah rumah minimalis yang menyatu dengan galeri juga perpustakaan. Terasa sekali nuansa art begitu kental seperti susu kental manis saat saya mulai memasuki ruangan setelah mendaftar ulang sebagai peserta diskusi.

Warna hitam begitu melekat pada sosok seorang Seno Gumira Ajidarma itulah yang saya lihat saat kali pertama bertemu dengannnya di sebuah perpustakaan dengan nama s.14. Dia datang dengan begitu santainya sambil menggendong tas ransel ketika itu memakai kaos polo hitam dimasukan ke dalam celana cargonya tidak ketinggalan jam tangan hitam mungkin mereknya g shock. Mas Seno duduk ditengah diapit oleh Ucok di sebelah kiri selaku moderator dan sebelah kanan Adhya Ranadiraksa seorang  seniman yang tengah memamerkan karyanya tentang tokoh komik  Tintin dengan judul “Si Tintin Positif”.  Saya duduk di kursi nomor 5 letaknya ada di pojok sebelah kanan dekat dengan rak buku.

Sebelum diskusi dimulai terjadi obrolan ringan antara mas Seno dan bang Ucok yang mengometari kondisi perpustakaan s.14 yang dipenuhi oleh lighting yang cukup banyak. Cerpenis yang akrab dengan sosok Sukab ini pernah menemukan hal yang sama saat membaca koran Jakarta Post. Di Jakarta ada sebuah galeri juga perpustakaan yang konsepnya sama seperti ini. Tapi tentunya di s.14 yang ada di Bandung jaiuh lebih baik daripada yang di Jakarta begitulah katanya.

Mas Seno sepertinya punya keinginan untuk memasang lighting di rumahnya tapi niatnya itu enggan diwujudkan mengingat respon dari orang rumah. “Berapa ini,” seperti itulah ekspresinya Tapi seketika ia terbayang akan respon akan orang orang yang ada di rumahnya. Semua peserta diskusi sudah menempati kursinya masing-masing. Diskusi pun dibuka oleh bang Ucok sebagai moderatornya. Di awal awal diskusi sosok Seno Gumira Ajidarma dikenalkan lebih dulu kepada semua peserta. Pada saat bang Ucok kuliah ia bercerita pernah membaca tiga buah buku karya mas Seno diantaranya Saksi Mata, Jazz, Parfum dan Insiden dan buku terakhir ketika Jurnalisme Dibungkam Sasta Bicara. Masih dalam cerita perkenalan Seno diceritakan bang Ucok sebagai seorang yang senang memotret juga jalannya cepat.

Selesai perkenalan singkat kesempatan untuk bercerita banyak diberikan bang Ucok kepada mas Seno. Saya pun sudah tidak sabar untuk menyimak pemikirannya pada diskusi kali ini. Sebelum membahas tentang tema diskusi, mas Seno sedikit mengomentari tentang karya karya yang dipamerankan. Tema yang diangkat pada sosok Tintin berkaitan dengan agama ada poster, mug, boneka, postcard, dll.

Dalam diskusinya Seno menyampaikan bahwasannya semua orangtua percaya, kalau komik Tintin adalah bacaan komik yang baik untuk anak anak tapi ternyata tidak benar. Isi dari komik Tintin sendiri sebenarnya merupakan sebuah bentuk perlawanan Eropa terhadap Amerika, Eropa tidak ingin bangsanya tercuni oleh budaya Amerika. Komik Tintin sendiri lahir dari negeri  Belgia di mana negara ini memang benar banar berdekatan dengan perancis. Dalam percakapan komik Tintin ada semacam realisme magis. Di Indonesia komik Tintin pernah menjadi perdebatan ketika versi terjemahannya salah menafsirkan ketika pesawat 714 mendarat di Indonesia.

Pada saat bercerita tentang Tintin menurut sudut pandang seorang Seno, pikiran saya ini tidak bisa bergerak jauh melampauinya. Sejak awal pemaparan saja sudah menggunakan teori kontruksi. Dari teori kontruksi berlanjut pada teori ideologi. Sejujurnya saya agak kesulitan untuk menulis ulang teori teorinya secara detail. Pada sebuah kesimpulan mas Seno bilang hal yang tersulit adalah mengungkap sebuah kebenaran.

Kata itu seperti tekstil yang membuat 1000 serat menjadi benang. Benang kemudian menjadi kain dan kain menjadi baju. Seperti itulah kata kata dari satu kata bisa membawa banyak makna. Kata itu tidak terbatas kecuali dibatasi oleh interpretasi. Jawaban itulah yang secara utuh coba saya tuliskan dalam catatan ini.

Diskusi berakhir dengan menyenangkan karena penyelenggara menyediakan makanan dan minuman alakadarnya untuk para peserta termasuk saya. Setelah selesai banyak dari peserta yang minta foto bersama dan tanda tangan pada mas Seno. Saya pun tidak menyia-nyiakan moment ini dengan meminta tanda tangan di atas postcard Tintin yang dibagiakn secara gratis untuk peserta. Di atas postcard saya meminta mas Seno untuk menuliskan tanda tangan buat Hamdan dari Seno Gumira Ajidarma.

Jumat, 31 Oktober 2014

Setengah Kilo Gram Ikan Mas

Tanah yang saya injak terasa lain, basah tapi tidak terlalu mengganggu langkah kaki selanjutnya. Bagi yang tidak suka becek dan kotor perlulah berhati-hati. Dalam keadaan seperti ini pasar tradisional kian tidak diminati utamanya bagi mereka yang betah bermalas-malasan. Pagi terasa indah saat berada di pasar walau yang terjadi tidak seindah apa yang tampak karena inilah pasar bukan mall atau supermarket. 

Saya mencoba masuk lewat gang sempit yang letaknya ada di tengah. Tampaklah di depan mata sebuah toko yang menjual baju anak-anak sudah mulai buka sepagi ini. Kemudian saya mampir di kios yang menjual snack dan kacang-kacang dalam plastik kecil. Harga per plastiknya sekitar Rp 4.00,- ada juga kios yang menjual kelapa tua untuk keperluan masak. Tidak ketinggalan kios makanan olahan seperti baso, chicken, sosis, makroni sedang dikunjungi oleh pembeli dari kalangan ibu-ibu. Makanan makanan olahan seperti ini besar kemungkinan akan dijual lagi untuk di konsumsi oleh banyak orang.

Sejenak saya tertarik untuk memiliki tas karung warna putih yang ukurannya besar. Di sebuah kios yang menjual beragam macam plastik tas karung ini dijual seharga Rp 2.000,- tas karung biasa digunakan untuk membawa banyak barang belanjaan. Saya terpikir untuk membuat tas yang ukurannya sama besar dengan bahan dari blacu. Untuk kantong kresek hitam ukuran besar harga satuannya seribu untuk satu paknya Rp 18.000 dengan isi 48 buah.

Mengingat tujuan saya datang ke sini untuk membeli ikan mas, maka ikanlah yang harus dibawa pulang bukan sayuran apalagi daging sapi. Ikan itu sudah jadi menu harian yang sering ayah saya santap baik itu waktu sarapan, makan siang, atau makan malam. Cara pengolahannya sendiri tidak digoreng tapi dipepes. Persoalan usia dan penyakit menjadi penyebab kenapa makanan saat usia tua harus dijaga. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah korestorel tinggi juga gula darah naik.

Penjual ikan mas segar di pasar tradisional Soreang tidaklah sulit ditemukan. Pilihan saya tertuju pada seorang pedagang dari sekian banyak yang ada. Letak kios ikan miliknya bersebelahan dengan kios penjual daging ayam. Kios daging ayam dimiliki oleh sepasang suami istri sang suami punya panggilan Ateng. Mungkin karena mukanya bulat juga tubuhnya pendek. Saya membeli ikan mas setengah kilo gram saja rasanya itu sudah cukup untuk sarapan ayah hari ini.

Tentu ada alasan kenapa saya memilih untuk membeli ikan di kios ini. Alasannya sederhana karena penjualnya mau dengan senang hari membersihkan ikan-ikan itu, mengeluarkan isinya lalu mencucinya di dalam kios. Selesai dibersihkan, ikan ikan itu dimasukan ke plastik hitam. Untuk setengah kilo gram ikan mas dihargai sebesar Rp 11.000,- di depan kios ikan miliknya, ada sebuah kios yang menjual gorengan sekaligus juga jadi tempat nongkrong pegawai pabrik atau pekerja pasar. Ada sejuta cerita yang dilontarkan tentang kehidupan di kios itu. Di suatu pagi yang santai, saya mungkin akan mencoba minum kopi sambil menikmati pisang goreng di sana. Adakah yang ikut menemani saya?

Rabu, 27 Agustus 2014

Siapa Yang Pertama Kali Menemukan Cappucino Cingcau?

Mahasiswa yang hidup di era smartphone setiap obrolan mereka pasti ada kaitannya dengan dunia sosial media. Kali ini giliran Path yang jadi keriuhan dalam obrolan di kantor redaksi SUAKA siang itu. Berawal dari Salman yang sibuk dengan smartphone barunya yang memancing Rama untuk iseng mengomentari kalau dia pasti sedang ngepath. Salman malah menjawab kalau Path miliknya sudah di delete. Rama bilang kalau Path itu kebanyakan digunakan untuk eksis. Setiap kali pergi pasti cek in dulu, pas lagi nongkrong update Path, nonton film dan dengerin musik juga ngepath, sampai-sampai sebelum tidur juga update Path dulu. Kalau Rizal mengomentari para pengguna Path itu sebagai orang yang alay. Aku sendiri tidak berkomentar apa-apa cukup menjadi pendengar yang ingin tahu saja.

Keriuhan tentang Path tidak bertahan lama sebatas komentar itu-itu saja. Rama mulai mengeluhkan kalau dia saat ini butuh admin dan meminta infonya padaku. Aku jawab saja tidak punya karena teman-teman di jurusanku rata-rata bekerja sebagai pengajar bimber dan guru di sekolah. Aku akan tercengang kalau ada lulusan dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) yang jadi pemadam kebakaran, pemburu hantu atau barista. Ah mana mungkin juga leluconku ini terlalu mengada-ngada. Kalau pun mungkin itu bisa terjadi pasti akan menjadi sesuatu yang baru di tengah kebiasaan yang terjadi.

Menurutku untuk bisa bekerja di luar jurusan yang kita pilih perlu dukungan soft skill yang mumpuni karena dunia kerja/industri benar-benar membutuhkan tenaga yang profesional. Soft skill itu bisa didapatkan lewat proses yang dijalani berdasarkan apa yang menjadi passion dari seseorang. Contoh terdekat adalah teman kita sendiri, ada yang sejak awal menggeluti dunia fotografi pada akhirnya, ia bisa menjadi seorang fotografer dengan skill yang dimilikinya.

Saat tenggorokan mulai menjerit-jerit kehausan maka yang terbayang saat ini juga adalah Cappucino Cingcau. Aku ingin meminumnya tapi cuaca yang panas membuatku malas untuk keluar ruangan. Melihat ada gelas yang berisikan cappucino aku langsung meminumnya tanpa permisi.Sungguh tragis galon di sekre SUAKA tidak terisi air jadilah tidak ada seorang pun yang membuat kopi ketika itu.

Tiba-tiba saja muncul pertanyaan, siapa sebenarnya orang yang pertama kali menemukan Cappucino Cingcau?  Dari semua teman yang aku tanyai tidak ada yang bisa menjawabnya dengan penuh keyakinan. Mungkin bagi mereka pertanyaan ini jauh lebih sulit dari soal-soal UAS. Pari peneliti dari kalangan akademisi harusnya bisa meneliti juga tentang hal ini. Sudah saatnya para inovator di bidang kuliner harusnya mendapat juga pengakuan yang layak.

Masih banyak lagi inovasi di bidang kuliner seperti cireng isi, es krim goreng, mocilok, dll. Mereka yang telah membuat inovasi itu pasti bersusah payah untuk bisa membuat sebuah racikan makanan yang nikmat di lidah. Indonesia sendiri kayak akan makanan yang nikmat dari soto saja ada beberapa macam seperti soto betawi, soto lamongan, soto madura dan masih banyak lagi. Setahuku belum ada yang membukukan para penemu makanan dari masa ke masa. Kalau ini bisa diwujudkan maka para pembacanya akan tahu kalau makanan ini ternyata punya sejarahnya tidak sebatas makanan saja.

Anisa bilang pada kita semua, kalau kakek buyutnya adalah penemu dari Goyobod yang terkenal di jalan Kliningan, Buah Batu. Ia bercerita yang menjadi ciri khas dari Goyobod yang dirintis kakek buyutnya adalah bahannya yang terbuat dari sagu. Seiring berjalannya waktu usaha kakek buyutnya itu kemudian berkempang dan diwariskan ke semua cucu-cucunya. Ibunya Anisa adalah salah seorang dari cucunya. Saudaranya yang ada di Garut juga berjualan Goyobod, yang membedakan kalau di Garut gulanya terbuat dari gula aren yang dicampur dengan gula putih.

Nisa berkali-kali bilang kalau dia tidak bisa bisnis. Di akhir cerita ia mempromosikan kepada kita semua  bagi yang ingin memesan goyobod untuk pesta pernikahan bisa menghubunginya. Untuk soal harga bisa murah sekitaran Rp 500.000,- untuk seribu gelas. Ada yang tertarik untuk memesannya? Kembali lagi ke pertanyaan awal, Siapa yang pertama kali menemukan Cappucino Cingcau?

Senin, 31 Maret 2014

Untuk Apa Belajar Branding?

Saya bisa dibilang mendadak tau informasi kalau ada pelatihan Brandung UKM karena melihat dari timeline milik @yuswohady seorang marketer yang tulisan tulisannya suka saya bacca. Brandiung untuk UKM diadakan oleh komunitas Memberi yaitu sebuah komunitas yang berdiri belum lama dengan maksud dan tujuan untuk membuat UKM merdeka dan bebas dari serangan produk produk asing.

Acara kelas Pengetahuan ini sedniri diadakan di gedung Infomedia yang letaknya ada di jalan Malabar No. 37 saya sempat berkeliling keliling dulu untuk bisa sampai ke tempat ini. Dari depan memang lebih tampak seperti pabrik karena menutur teman saya dulunya memang pabrik kemudian digunakan untuk kantor Tribun Jabar dan terakhir digunakan untuk kantor infomedia yaitu sebuah perusahaan turunan milik TELKOM Indonesia. Saya yakin banyak pembacca juga yang belum tau tentang infomedia ini.

Sebelum ke dalam saya sempat di tanya dulu oleh Satpam atau security dalam bahasa kerennya mamaksud kedatangannya ke kantor infomedia kemudian saya menjawab untuk ikut pelatihan atau seminar. Kemudian salah seorang security menunjukan jalan untuk masuk ke dalam. Saya masuk dan melihat halaman di kantor cukup luar juga apalagi area parkirnya. Saat sampai rasanya belum banyak peserta yang datang lalu saya mengambil kesimpulan sendiri kalau saya ada 10 orang peserta yang datang tepat waktu.

Salah satu keuntungan datang ke seminar yang didanai oleh p[erusahaan besar seperti TELKOM adalah bisa dapat makan gratis. Hal ini terbukti sebelum dimulai semua peserta mendapat jamuan coffee break dan snack dari tuan rumah. Saya langsung senang ketika itu karena bisa menikmati kopi juga creamer di waktu pagi.

Pemateri yang di undang untuk memberi ilumunya adalah Subiakto dia seorang legenda branding Indonesia. Beberapa brand terkenal di Indonesia sudah dia tangani dan terbukti berhasil oleh karena itu dia menjabat julukan maestro branding Indonesia. Sebagai seorang pelaku industry kreatif tampilannya kala itu santai berkemeja jeans dilapisi kaos juga ramput panjang yang diikat sanggung kebelakang. Pak bi berkacamata kala itu.

Senin, 24 Juni 2013

Tiga Wejangan Sakti Bagi Lelaki Sejati

Minggu, 23 Juni 2013
Hari ini, aku sekeluarga sepakat untuk makan malam diluar karena ayah baru saja mendapat honor dari kantor. Sore itu senja menyala-nyala, aku sekeluarga berangkat dari rumah menuju tempat makan terdekat yaitu sate Cilampeni yang letaknya di daerah Katapang. Warung sate ini bersebelahan dengan tukang bajigur durian. Di sepanjang perjalanan mulut ibuku tidak pernah lelah bicara, ada saja topik yang disiarkannya kepada kita. Lain halnya dengan ayah yang bicara seperlunya saja. Jadi tidak perlu dijelaskan lagi siapa yang lebih sering bicara ketika ada di rumah. 

Walaupunn ayah sedikit bicara, sekalinya memberi wejangan bisa panjang dan bercabang. Pada kesempatan kali ini, ia pelan-pelan memaparkan tiga hal yang harus dimiliki oleh orang Sunda yaitu Paseug, Fisik dan Pesak. Aku tangkap dan simpan baik-baik ketiga wejangan ini, ayah kemudian menjelaskannya satu persatu.
Wejangan pertama adalah Paseug kata ini diambil dari bahasa Sunda yang punya arti pondasi. Sebagai contoh rumah yang mewah tanpa pondasi kuat akan mudah roboh begitu juga hidup agar hidup kita tidak kehilangan arah perlu adanya pondasi. Salah satu pondasinya adalah agama. Apabila keimanan kita kuat maka di mana pun kita berada akan ingat selalu kepada Tuhan. Kewajiban seperti shalat dan puasa tidak akan ditinggalkan karena sudah menjadi sebuah kebutuhan. 

Melangkah ke wejangan kedua yaitu Fisik, fisik seorang lelaki harus kuat. Bagaimana caranya supaya fisik kuat? Yaitu dengan membiasakan diri hidup sehat, berolahraga dan tidak sering makan makanan yang mengandung bahan pengawet kimia. Makanan yang sehat adalah makanan yang berasal dari alam. Dengan menjalani hidup sehat maka fisik kita akan terjaga dan tidak mudah sakit. Berolahraga di waktu pagi juga bisa membuat tubuh sehat dan pikiran cemerlang.

Wejangan terakhir adalah Pesak, apabila hal satu ini belum bisa terpenuhi semua hal yang kita lakukan bisa kehilangan gairah dan tidak jarang malah kacau. Pesak adalah bahasa Sunda yang artinya saku. Apa yang biasanya ada di dalam saku adalah dompet  atau uang. Uang memang bukan segala-galanya tapi tanpa uang tidak bisa membeli apa-apa. Untuk apa manusia bekerja keras, salah satu alasannya pasti untuk mendapatkan uang. Ayah mencontohkan dari ayam dan burung yang pagi-pagi sudah bangun untuk mencari makan, apabila manusia tidur di waktu pagi dan bermalas-malasan maka rezekinya akan dipatuk oleh ayam dan dimakan oleh burung.

Kalau ingin hidup bahagia dan lebih daripada orang lain, ketiga wejangan itu harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ayah dengan baik hatinya mengulangi tiga wejangan sakti itu pertama Paseug, kedua Fisik dan ketiga Pesak. Tidak terasa perjalanan ke Sate Cilampeni sudah sampai, aku tidak sabar untuk menyantap sate sapi di tempat ini yang dikenal empuk dan bumbu kacangnya yang sulit dilupakan oleh lidah. 

Kamis, 20 Juni 2013

Akta Kelahiran

Ayah jarang sekali menyuruhku, ia memanggilku ketika membutuhkan sesuatu. Rentetan keperluannya selalu aku ingat. Misalnya saja tolong masak air hangat untuk ayah, tolong ambilkan air minum, tolong siram tanaman, tolong belikan lampu, dan tolong bantu ayah mencuci mobil. Satu permintaannya yang belum bisa aku penuhi adalah lulus kuliah dan menjadi sarjana pendidikan. Kulewati sore di rumah bersama ayah, sehabis pulang kerja ia memanggilku.

“Aa... turun dulu sebentar bapak mau nyuruh,” kata ayah.

Kamarku yang letaknya di atas membuatku tidak langsung bergegas mangambil langkah untuk turun ke bawah, aku masih menerka apa yang ayah suruh padaku.

“Iyaaaa pak,” aku jawab panggilannya dengan berteriak.

Aku turun ke bawah lewat tangga yang terbuat dari kayu, ayah sudah ada tepat di depan meja makan sambil tangannya membawa sebuah map. Dipegangnya erat map biru itu, mulutnya mulai komat-kamit merajut kata-kata perintah untuk aku jalankan. Setelah penjelasan berakhir, map biru itu dipindah tangankan padaku. Lantas aku bergegas pergi ke luar rumah untuk menuju tempat yang dituju.

Sore itu, aku melihat awan tersenyum cerah, aku pikir suasana hatinya sedang bahagia. Kini aku sudah sampai di sebuah rumah yang pagarnya dibiarkan terbuka lebar. Aku melangkahkan kaki tanpa ragu mencari orang yang dituju. Pemilik rumah pasti gemar sekali mengoleksi tanaman bonsai. Seorang lelaki mengahampiriku, ia bertanya maksud tujuanku datang kesini.

“Bisa ketemu sama pak Ramlan,” kataku

Seakan mengerti keinginanku, lelaki berkaos hitam itu memanggil pak Ramlan agar keluar rumah menemuiku. Aku melihat lelaki berkacamata sudah berdiri dihadapanku dan masih asing melihat wajahku, rambutnya hampir semuanya sudah memutih. Belum bicara apa-apa kedua matanya menatapku, ia bertanya lebih dulu tentang apa keperluanku padanya.

“Saya anaknya pak Agus mau ketemu sama yang kerja disini namanya Ndi,”

Pak Ramlah sepertinya tidak pernah mengenal Ndi itu terlihat dari gelagatnya yang sedikit bingung.
“Disini nggak ada yang namanya Ndi,” katanya.

Lalu, ia mencoba memanggil salah seorang lelaki dengan nama aa di dalam rumah.

“Aa.......Aaaa...... kesini sebentar,” teriaknya dari pelataran rumah.

Lelaki bertubuh kurus dan berkulit sawo matang itu menghampiriku. Ia memenuhi panggilan dari pak Ramlan. Map biru yang sedari tadi aku dekat erat, perlahan aku berikan pada lelaki itu bukan Ndi tapi kakaknya yang belum aku ketahui namanya. Aku memberi penjelasan singkat, kertas di dalam map ini harus ditanda tangan oleh orang yang bersangkutan dan dua lagi oleh saksi mata.

Seakan sudah mengerti pak Ramlah dan lelaki itu masuk kembali ke dalam untuk untuk menandatangani kertas yang ada di dalam map. Aku berdiri menunggu dengan perasaan tenang. Tawaran untuk masuk ke dalam rumah mulai dilancarkan oleh pak Ramlan, namun aku menolak dengan halus sambil sesekali tersenyum.

Kertas putih dalam map biru sudah dikembalikan padaku dengan tanda tiga buah tanda tangan, lelaki itu dan pak Ramlah mengucapkan terima kasih. Aku pamit pulang untuk mengembalikan map biru itu pada ayah.
Ayah kemudian bercerita kalau kertas yang ada di map biru itu adalah akta kelahiran seorang anak laki-laki dengan nama Rizky Aditya anak dari kakaknya Ndi yang sehari-hari bekerja menarik becak atau jadi tukang kebun di rumah pak Ramlan. Yang jadi herannya anak-anak tukang becak sekarang punya nama yang keren-keren, ayah juga mengumpulkan data-data untuk anak dari tukang becak. Kalau untuk perempuannya sendiri nama yang sering digunakannya adalah Nazwa.

Ayah sudah tahu nama-nama itu pasti diambil dari nama para pemain sinetron yang setiap hari menjadi hiburan setelah menarik becak. Mungkin ibu mereka menamai nama yang sama punya harapan kelak ketika sudah besar bisa menjadi tampan seperti pemain sinetron atau ada harapan lain yang dirahasiakan dalam hati yang Kelak jika sudah besar nanti bisa diberi tahu kepada anaknya.

Nama-nama seperti Entis, Asep, Ujang, dll mungkin akan sulit ditemukan lagi. Akta kelahiran bukan hanya selembar kertas saja tapi ini adalah bukti perjalanan awal dari seorang anak. Menjelang masuk SD, mengurus pekerjaan di Instansi pemerintahan sampai dengan pergi naik haji.

Rabu, 12 Juni 2013

Membongkar Kenangan Cinta Dalam Kardus

“Acaranya udah mulai ya mas?” tanyaku pada salah seorang panitia lalu ia menjawab

“Iya mas ini baru aja pembukaan” jawabnya singkat sambil menujukan mukanya yang sedikit gelisah.

Aku belum diperbolehkan masuk ke Aula Pascasarjana UNPAD karena setiap peserta harus menunjukan tiket terlebih dahulu, aku berdiri melebarkan dada menunggu temanku keluar membawakan tiket seminar.  Dari balik pintu keluarlah wanita berkerudung, pancaran auranya menyapaku dari dekat. Lalu ia menunjukan potongan tiket ke panitia acara untuk menegaskan aku adalah temannya. Aku masuk ke dalam aula dibekali makanan snack dan air minum gelasan. Duduk di kursi paling belakang bukan pilihanku karena hampir semua tempat duduk sudah ditempati. Aku tidak kecewa karena kursi yang aku duduki sama empuknya dengan kursi-kursi lainnya. Inilah salah satu keunggulan Aula di kampus UNPAD.

Suara riuh dan teriakan memecah kesunyian di dalam ruangan yang terasa sekali intimnya. Saat pembicara pertama Salman Aristo dipanggil oleh pembawa acara, sambutannya hanya terdengar puluhan suara saja berbeda ketika Raditka Dika hadir dengan topi khas yang menutupi kesendirian hatinya sejuta sambutan terdengar lebih meriah. Salman Aristo mengawali kisah dibalik pembuatan film Cinta Dalam Kardus, pada awalnya ia bertemu dengan Raditya Dika kemudian ada obrolan tentang membuat sebuah karya. Saat mendengar cerita dari Dika tentang 21 satu barang dari mantan gebetan yang di simpan di dalam kardus kemudian dia tertarik untuk membuat filmnya.

Film berawal dari cerita dalam hal membuat sebuah cerita harus ada premisnya dulu. Premis itu apa yang ingin kita bicarakan atau apa yang ingin kita cob angkat. Dalam film Cinta Dalam Kardus sendiri yang ingin kita bicarakan adalah tentang seorang lelaki yang menyimpan kenangan bersama 21 orang mantan gebetannya dalam sebuah kardus.

Salman Aristo menuturkan uniknya dari film ini ada di divisi art director yang merancang setting tempat dengan menggunakan kardus. Tidak terhitung berapa banyak kardus yang dihabiskan untuk menggarap film ini. Untuk mendalami film ini ia dan Raditya Dika sampai masuk ke dalam kardus. Sayangnya budget total keseluruhan film dan sumber pendanaan tidak dibeberkan disini.

“Kita bisa saksikan seperti apa kardus-kardus itu ditata sedemikian rupa di filmnya nanti,” katanya.

Aku sendiri heran pada moderatornya setiap pertanyaan yang dilemparkannya terlalu berbelit-belit sampai muncul kesan membingungkan. Mungkin maksudnya ingin kritis tapi cara komunikasinya malah melelahkan tidak singkat, padat dan jelas. Itu terus berlanjut sampai giliran Raditya Dika yang berkisah tentang proses kreatifnya.

“Mungkin dari Raditya Dika sendiri gimana proses kreatifnya,” kata moderator bertanya

Lalu Raditya Dika menjawab “Super sekali, gila dia sampai gak nafas satu setengah menit cuma buat  nanyain gue aja haha,” suara kocaknya terdengar lepas sampai ke telingaku.

“Mungkin disini masih ada yang sampai sekarang nyimpen barang dari mantannya mau itu baju atau sepatu dan gue yakin itu barang masih loe simpen nggak dibuang”

Sendirian demi sindiran terus dilemparkan terlebih pada orang-orang yang jomblo

“Ada yang jomblo seumur hidup nggak? Kalau ada keluar sekarang itu hina sekali,” katanya dengan penuh kepuasan.

Dalam film ini ia akan bercerita tentang 21 mantan gebetannya dalam bentuk Stand Up Comedy, setiap mantan-mantannya itu punya cerita tersendiri. Dika menulis skenarionya tidak sendiri tapi dibantu oleh Salman Aristo. Pada waktu itu hadir juga Anizabella Lesmana salah seorang aktris di film tersebut.

Pada kenyataannya materi tentang creative writing minim sekali yang akan hanya beberapa komedi Raditya Dika yang terus diulang-ulang. Menulis itu adalah proses pembiasaan diri menuangkan gagasan itu bisa dilatih dari hari ke hari. Bagi yang ingin jadi penulis sebaiknya sejak awal acara sudah keluar dari Aula Pascasarjana UNPAD dan langsung menulis.

Video dibalik layar Cinta Dalam Kardus turut dipertontonkan ke semua peserta sudah jelas alasannya sebagai bentuk promosi film. Tidak lupa beberapa potongan adegan dalam bentuk foto diperlihatkan diawali foto Miko (Raditya Dika) bersama Putri (Anizella Lesmana) duduk saling bersebelahan menatap jauh ke langit yang dilintasi oleh pesawat terbang dan foto-foto adegan filmnya lainnnya. Hanya lewat foto saja para peserta sudah dibuat tertawa tanpa beban melihat wajah dari Miko ditambah mendengar komentar lucu dari Raditya Dika tentang fotonya sendiri.

Memang bukan perkara mudah untuk membongkar kenangan 21 satu mantan gebetan dan menceritakan satu persatu barang pemberian dari mereka semua. Namun kardus mampu menampung cinta yang bersarang dalam hati untuk bisa disimpan dan kelak suatu hari nanti akan menjadi kenangan yang utuh.

Kamis, 30 Mei 2013

Membongkar Rahasia Cinema Ciromedo

Sudah lama aku menyimpan rasa penasaran ini darimana sebenarnya film-film baru itu didapatkan. Aku dibuat kaget setiap kali membuka folder bertuliskan Cinema Ciromedo didalamnya dipenuhi oleh puluhan film baru, dari sekian banyaknya judul selalu terselip folder bertuliskan X-Art mungkin itulah puncak klimaks dari itu semua. Adanya poster adalah sebagai bentuk gambaran sebagian isi dari film dan sebuah totalitas dari Cinema Ciromedo.

Tidak butuh waktu lama dari Cileunyi untuk pergi ke Ciromed jarak tempuhnya dekat ditambah jalan menuju kesana tidak padat oleh kendaraan. Salah satu kampus negeri terkenal di daerah Jatinangora aku lewati, sekilas pandanganku tertuju pada kehidupan malam disana yang tidak pernah sepi. Dari kegagalan membeli martabak untuk mang Omed aku belajar bahwa membeli sesuatu itu lebih baik ketika sang penjual itu ada di depan mata dan jangan menunggu nanti.

Melewati jalanan terjal dan menungkik menjadi tantangan terberat untuk menuju Ciromed disamping jalannya yang licin, aku sendiri khawatir pada kondisi ban motor yang karetnya sudah menipis. Akhir dari perjalanan membawaku pada sebuah rumah sederhana disekelilingnya dipenuhi oleh pepohonan rimbun rasanya sejuk sekali. Suara-suara dari alam mengalun indah dengan jujur.

Aku berdiri tepat di depan pintu rumah, Ozan mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam dan berteriak pelan nama “Omed” belum ada jawaban dari pemilik rumah. Aku menunggu sebentar sambil berharap pintu segera dibuka. Sampai akhirnya keluarlah sosok lelaki bertubuh besar dengan tatapan genit layaknya seorang tante muda atau bisa dibilang mamah muda dalam bahasa kerennya mahmud. Ia mempersilahkan kita masuk dan langsung menuju kamarnya.

Disinilah aku melihat kamar dari seorang lelaki lajang kesepian yang sehari-hari mengumpulkan film demi menuntaskan hasrat dan mengusir kegelisahan. Dalam keadaan haus berlebih, aku disuguhi minuman hangat yang pas yaitu segelas teh tarik belum lagi ada ali agrem makanan manis yang bentuknya menyerupai donat. Terlihat satu film di komputer yang belum habis ditonton. Aku masih belum tahu darimana film-film baru itu didapatkan karena rahasianya belum terbongkar.

Obrolan tentang mahmud menjadi penting sebagai pembuka karena hampir semua dari kita terkagum-kagum setiap kali melihat sepak terjang mereka, aku misalnya lebih suka melihat mahmud di pusat perbelanjaan, mang Omed suka melihat mahmud di pasar-pasar dekat rumahnya dan Ozan lebih suka mengincar mahmud di undangan perkawinan atau acara sunatan.

Kembali lagi ke tujuan awal, kedatanganku kali ini lebih tepatnya untuk meminta koleksi film-film terbaru dari Cinema Ciromedo sambil sedikit ingin tahu perkembangan film-film di Eropa kepada pengamat film terkemuka yaitu mang Omed. Ketika itu di ruang produksi Cinema Ciromedo sedang heboh dengan film bergenre komedi romantis yang diperankan oleh Cameron Diaz berjudul “Gambit”. Cukup dengan satu modem dan kesabaran satu film bisa selesai di waktu malam itulah sedikit rahasia yang mulai aku ketahui.

Aku merasa perut ini belum disesaki oleh makanan apa pun. Tanpa perlu isyarat dan permintaan mang Omet pergi meninggalkan kita berdua untuk memasak mie di dapur. Tidak lama dua mangkuk mie kuah tersaji, aku tidak menyangka ia bisa memasak mie rebuh dalam waktu sesingkat itu. Sebuah teko yang isinya teh hangat dituangkan dengan penuh kelembutan. Aku dan Ozan sendiri jadi terharu dan ingin meneteskan air mata ketika itu. Keinginan untuk meneteskan air mata seakan sirna saat semangkuk mie kuah menghampiri lidahku rasa nikmatnya melupakan segalanya. Terima kasih tante genit Omed atas nikmatnya malam dalam semangkuk mie dan secangkir teh.

Malam sudah semakin larut tiba waktunya untukku pergi meninggalkan ruang pertunjukan Cinema Ciromedo, tiga film baru sudah aku simpan dengan baik di sebuah flashdisc hitam milik Ozan. Aku pulang dengan perut kenyang dan hati riang.

Rabu, 13 Februari 2013

Skenario Penjebakan Iqbal

Sudah sejak lama lelaki itu memelihara rambutnya untuk tetap panjang, mengikatnya dengan karet demi membuat  rambutnya tertata rapih membentuk gelembung di kepalanya. Tercipta kesan santai dari setiap gerak geriknya. Hari ini, aku tidak lagi melihat rambut keriting sepanjang dulu. Penampilannya kini sudah seperti pegawai kantoran. Tidak hanya aku yang keheranan tapi juga teman-temannya yang lain di kampus.

Aku dibuat terkejut ketika mendengar cerita dari Norman tentang kegiatannya selama magang di salah satu bank syariah. Bukan tentang nominal uang yang ia ceritakan tapi malah menyebutkan satu persatu nama pegawai wanita disana seperti Ibu Novi, Ibu Endah, dll. Temanku ini magang sebagai bagian marketing yang tugasnya mempromosikan setiap layanan, membagikan brosur dan mengikuti kemana manager pergi misalnya datang ke sebuah acara di hotel Savoy Homan. Berada di lingkungan pegawai bank membuat uangnya cepat habis untuk nongkrong dan membeli konsumsi. Aku menulis kali ini bukan dalam rangka promosi Bank Syariah Mandiri. Setiap pagi sebelum bekerja harus membaca ayat-ayat Al-Qur’an terlebih dahulu dan mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh manager atau dari pegawai sendirinya. Sebagai kampus islam mahasiswa UIN dipercaya bisa untuk menyampaikan ceramah sampai-sampai ia mendapat kesempatan untuk ceramah.

Bank Syariah mandiri punya layanan tabungan priority yaitu tabungan untuk nasabah dengan saldo awal sekitar 500 juta. Kelebihannya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk meningkatkan pelayanan tidak jarang ada pelatihan untuk customer service. Di kantor ada ruangan untuk tenis jadi sehabisa jam kerja biasanya para pegawai langsung bermain tenis.

Cerita beralih pada surat pengunduran diri bertuliskan sebuah nama Penny, dia menjabat sebagai bagian sekretaris umum di kepengurusan tahun ini. Pengunduran diri ini terjadi belum begitu lama, ada tiga alasan yang sempat aku baca salah satunya adalah sudah tidak fokus dan produktif lagi. Penny yang aku kenal adalah seorang wanita yang lembut itu terlihat dari caranya bicara pelan dan temponya tidak pernah secepat laju detak jantung ketika berdegup kencang. Untuk memastikan berita itu, aku sampai bertanya ke Norman tiga kali dengan pertanyaan yang sama. Obrolan sengit sempat terjadi antar sesama anggota SUAKA karena Penny mengundurkan diri.

Seorang lelaki biasanya punya rencana terpendam untuk membuat temannya ikut merasakan kepedihan hatinya. Hal ini terjadi secara nyata tidak pernah didasari oleh apa pun. Salman mengenal baik seorang Iqbal itu dibuktikan dari setiap smsnya yang dikirimnya ke Alin sampai hafal secara detail. Pradi punya rencana untuk membuat Iqbal menjadi khawatir pada pacarnya. Mungkin selama di lokasi KKM bisa saja terjadi cinta lokasi mengingat dibalik uniknya wanita berkacamata ini ada semacam magnet yang bisa mengundang cinta untuk datang. Pradi telah membuat skenario untuk menjebal Iqbal, dia membuat kabar kalau Alin terlibat cinta lokasi bersama teman sekelompoknya. Tujuan penjebakan ini Cuma satu ingin membuat Iqbal patah hati.

Iqbal sudah berdiri dari luar dan mulai masuk menyapa semua yang ada di sekre. Ia mendapat serangan pertanyaan awal tentang kabar terbaru seputar KKM?

“Bal, kamu tahu nggak selama Alin di Sukabumi kegiatannya apa aja?” tanya Salman

Dari dalam suara sorak tidak berhenti untuk meruntuhkan keyakinan cinta Iqbal. Aku, Pradi, Norman, Salman dan Ozan. Belum sampai ke tahap selanjutnya, Alin sudah datang dibalik pintu itu artinya rencana Pradi untuk membuat Iqbal patah hati gagal. Untuk meluapkan kegagalan bersama ini, kita terus berteriak-teriak dan mengeluarkan pertanyaan yang tidak bisa dikontrol oleh pikiran. Jangan pernah bayangkan bagaimana ekspresi dari wajah Alin ketika itu. Ia sengaja pulang ke Bandung dari Sukabumi untuk pergi ke Jakarta menghadiri acara Indonesia Fashion Week 2013.

KKM dijalani tidak sendiri tapi berkelompok dimana setiap kelompoknya diisi oleh orang yang berbeda-beda. Alin bercerita kalau semua anggota wanita di kelompoknya pernah menangis karena dibentak oleh ketua kelompok alasannya sederhana karena makan sendiri-sendiri. Apa yang dibutuhkan bukan hanya bicara tapi tindakan nyata.Konfilik bisa saja terjadi silih berganti tapi kebersamaan antar kelompok itulah yang sulit dilupakan untuk menjadi cerita di kemudian hari.

Tidak lama Iqbal pergi untuk mengantar Alin, pada akhirnya juga rencana Pradi telah berhasil digagalkan oleh Alin sendiri. Kini giliran kita untuk menggoyahkan keyakinan cintanya pada Wulan. Pradi senang di kelompok KKM wulan tidak ada yang ganteng kekhawatiran akan cinta baru itu sedikit tersingkir. Aku bisa melihat betapa gelisahnya Pradi membalas setiap sms dari pacarnya. Sampai-sampai ia bilang kalau Wulan membalas smsnya dengan marah dan bilang

“Bagus ya sekarang udah gampang lupa”

Kamis, 31 Januari 2013

Melepas Urat Kemaluan Demi Dua Snack Kotak

Rabu, 30 Januari 2013
Sama seperti hati, tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa isi dari sebuah kotak. Bisa saja kotak itu berisi pertanyaan atau pesan bukan dari manusia. Aku telah dibuat tidak berdaya dan hati ini seakan luluh demi mendapatkan satu kotak di dalam plastik besar yang tersusun rapih. Ternyata sebelum aku sudah ada orang lain yang mencicipi isi kotaknya. Saat kupegang beratnya tidak seberapa. Tidak lama setelah itu, aku malah menyimpan kotaknya di sudut ujung yang tidak terjamah oleh mata elang. 

Selasa, 08 Januari 2013

Diam-Diam Lelaki Juga Suka Membaca Majalah Wanita

Minggu, 6 Januari 2013 
Pundakku memikul tas hitam yang lebih berat dari biasanya karena di dalamnya ada laptop, aku pergi dibekali uang jajan dari ibuku hasil jerih payah ayah bekerja. Motorku ada sedikit masalah sehingga terdengar suara benturan antara rantai dan besi tapi itu tidak membuatku kalah sebelum berperang di jalanan. Hari ini ada janji tertulis tapi tidak terucap untuk bertemu dengan Bayu di Perum Damri Soekarno Hatta, ia tidak ada uang sama sekali sehabis lulus jadi sarjana masih mengais-ngais pekerjaan.

Sepanjang jalan peredaran anak-anak punk berkaos hitam bertambah banyak. Kehadiran mereka tidak lain untuk menonton acara konser musik metal. Hitam menjadi warna pengukuh identitas. Aku melihat seorang pasangan dari kelompok ini berjalan saling berdampingan, mereka berdua sama-sama mengenakan kaos hitam, kesannya kumuh dan sang lelaki berpotongan rambut layaknya personil band metal. Sejak musim hujan kondisi jalan raya banyak dipenuhi oleh lubang ditambah dengan genangan air. Jika aku terlalu cepat melaju dan tidak hati-hati bisa berakibat kecelakaan. Motor dan mobil bagaikan kendaraan harapan menuju tempat tujuan.

Metro Soekarno Hatta sudah aku lewati artinya Perum Damri telah dekat. Sampai di depan Perum Damri aku menunggu di persimpangan jalan. Puluhan tukang ojek tengah bersantai sambil menunggu penumpang. Mungkin Bayu sudah melihat sosokku dari jauh sehingga tidak perlu lagi susah mencariku. Ia tampil menawan dengan kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans cokelat. Aku mengendalikan laju motor dengan arah tujuan menuju asrama dua saudara. Dari belakang ada motor yang mendekat ke arahku pengemudi motor itu berteriak, aku menengok ke belakang wajahnya kukenali dengan baik, dia Salman. Kini dua motor melaju bersamaan, liburan semester ganjil membuat suasana terasa tepi itu terasa ketika aku sampai di Asrama Dua Saudara.

Salman bercerita kalau dirinya berkumpul bersama para jomblo di malam minggu kemarin di rumah Pradi. Baginya masih ada sisa kasih sayang yang tercurahkan lewat tayangan FTV. Lain dengan Bayu yang mengenalkan produk goodie bag produksinya bersama Aziz. Produk ini dipasarkan di Museum KAA sebagai marchandise dengan harga Rp 35.000,- ia mengaku desain goodie bag karyanya lebih banyak yang memesan daripada desain buatan Aziz. Sebelum hujan turun di waktu sore, kita bertiga langsung melesat pergi ke Gramedia.

Toko buku Gramedia Bandung terletak di lokasi yang strategis tapi masih belum bisa menarik banyak anak muda untuk berkunjung ke toko buku ini. Aku pertama kali melempar tatapan kedua mata ini ke arah rak berisikan majalah-majalah edisi terbaru. Dari setiap sampul tertuang berjuta keindahan, aku seperti menemukan kesegaran perawajahan media di tahun ini. Wajah-wajah cantik dan populer tercetak sempurna, bagi lelaki yang ingin lebih memahami wanita seharusnya membeli majalah untuk wanita. Alasannya karena apa yang wanita inginkan semua ada disana.

Aku dan Salman menyukai desain apalagi Bayu, kita bertiga sekarang berdiri di depan rak buku-buku impor tentang arsitektur rumah dan desain. Semua buku tertutup rapat oleh plastik tipis, aku menyentuhnya pelan-pelan, sayangnya buku semahal ini tidak bisa aku miliki. Malam datang menandai berakhirnya kunjungan kita bertiga di toko buku Gramedia.

Malam ini perutku belum terisi makanan, bunyinya berkoar-koar seperti aksi demontrasi mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Aku melangkah masuk ke Angkringan di jalan Ganesa berdekatan dengan kampus ITB. Sambil menikmati makanan yang sudah dipesan, kita bertiga mulai mengobrol. Awal tahun ini AddictedArea akan hadir dengan tampilan baru dan Bayu resmi bergabung sebagai bagian creative marketing. Setelah perut terisi dan ide-ide terlontarkan, aku kembali pulang ke tempat peristirahatan. Bintang perlu gelap untuk bisa bersinar dan manusia perlu waktu untuk berisrirahat.

Keesokan harinya, aku pergi ke toko buku Gunung Agung untuk membeli majalah Go Girl! edisi Januari 2013 secara diam-diam tanpa Salman dan Bayu. Ketertarikanku tertuju pada ulasan bulan ini tentang pop writing. Diam-diam lelaki juga suka membaca majalah wanita.

Jumat, 04 Januari 2013

Perayaan Tahun Baru Mereka

Selamat tahun baru 2013

Aku harus membuka kembali ingatan tahun lalu, diceritakan ada dua anak magang SUAKA punya kedekatan lain dari biasanya. Hubungan keduanya masih sebatas teman waktu itu, tapi tidak tahun ini. Ada cerita cinta baru lahir dari SUAKA. Apa yang menonjol dari keduanya adalah sama-sama memakai kacamata tapi berlainan jenis kelamin. Setahuku tidak pernah ada panggilan sayang, keromantisan mereka berdua tidak pernah ditunjukan kepada publik. Pada malam perayaan tahun baru keduanya saling berjauhan, aku mengetahuinya dari tulisan di blog recycle bin no right click. no empty recycle bin would be.

Alin dialah wanita yang dimaksud menulis di blognya dengan judul “New Years Eve. So What?” isi tulisannya menceritakan tentang perayaan tahun baru bersama keluarga. Ia tidak suka mengikuti kebiasaan orang lain merayakan tahun baru dengan pergi ke sebuah tempat dan ia tidak ingin membiasakannya. Apa yang menarik dari tulisan Alin adalah seseorang bernama Kryptonite, Tuhan mempertemukan mereka berdua tahun ini. Kryptonite yang dimaksud adalah Iqbal dia mahasiswa jurusan jurnalistik aktif di sebuah lembaga pers mahasiswa. Ia rela memotong rambutnya yang panjang untuk berkunjung ke rumah Alin mungkin yang terbesit di otaknya waktu itu tipe menantu idaman mertua adalah lelaki berambut pendek dan rapih.

Setiap orang punya harapan masing-masing di tahun baru ini contohnya Alin yang berharap bisa fokus KKN, proposal, skripsi dan lulus tahun ini benar-benar gambaran tepat mahasiswi tingkat akhir. Harapan lainnya adalah setelah lulus nanti bisa bekerja dan menikah tanpa harus menunggu berlama-lama. Alin ingin berat badannya kembali ke semula di angka 40 sedangkan Iqbal akan kembali berkunjung ke rumahnya sesuai dengan waktu yang telah direncanakan olehnya.

Cerita lain tentang tahun baru aku dapatkan dari seorang wanita yang usianya genap 20 tahun, aku bisa merasakan masih ada sisa kenangan lama pada dirinya. Hatinya belum terobati sepenuhnya, sisa jahitan luka tidak tampak tapi kepedihannya bisa dirasakan. Wanita itu merayakan tahun baru di tengah-tengah hangatnya sebuah keluarga, berkumpul dan menonton TV. Ia tidak pernah merasakan malam tahun baru bersama seseorang yang spesial.

Sentuhan lembutnya di malam tahun baru, ia berikan pada blog miliknya dengan nama Bukan Tulisan Luar Biasa tercatat tulisan terakhirnya di blog pada bulan September tahun 2012. Rasa sesal menghinggapi dirinya karena dalam satu tahun tidak mencapai 20 tulisan sama sekali. Waktunya terbuang dengan mengenaskan. Kemalasan mengalahkan segalanya. Ia menulis sebuah harapan yaitu “aku harus mampu menulis dan mengisi blog ini lebih banyak dan berbobot dibandingkan tahun 2012,” seperti itulah harapannya yang di tulis di blog. 

Cerita ketiga masih berlanjut, Desti pertama kalinya merayakan tahun baru bersama teman sekelasnya. Bagi wanita manis ini tahun 2012 dilalui dengan banyak kenangan indah, ia mengikuti ajang putri jurnal dan selain itu RINTIS mulai terbentuk. Awal terbentuknya sendiri berawal dari obrolan-obrolan ringan penuh impian dan harapan. RINTIS beranggotakan dua orang mahasiswa yaitu Saepul Hamdi, Fahmi Islami dan satu orang mahasiswi yaitu Desti Puspaningrum.

Kosan Opa menjadi tempat berkumpulnya Desti dan teman-temannya, ia datang bersama Lele pukul 13.00 Faqir, Oma dan Omet sudah ada di kosan lebih dulu. Menjelang sore Desti dan Oma mulai memperiapkan ayam untuk dimasak, satu persatu teman yang lain mulai berdatangan menambah semarak perayaan seperti Ojak dan Mamang. Langsung menuju kesimpulan, acara makan, melihat pesta kembang api dari luar pagar, bermain Uno sampai subuh itu semua terjadi pada Desti dan teman-temannya. Mungkin itulah manisnya pertemanan di semester-semester awal.

Untuk cerita keempat ini, aku seharusnya masuk ke dalam cerita dari empat orang pria yang merayakan tahun baru di Asrama Dua Saudara. Sejak hujan menahanku di rumah, aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Salman memberitahuku kalau di SUAKA tidak ada acara sama sekali baik dari pengurus atau pun anggota magang. Ia bercerita di malam tahun baru melihat pesta kembang api gratis di gunung Manglayang. Momen ini bisa dibilang spesial karena kehadiran Efrin, Andika dan Dodi di malam tahun baru untuk saling menukar cerita cinta bersama wanita pujaan mereka. Salman beruntung bisa mendengar kisah cinta Efrin dan Dodi. 

Postingan pertamanya di tahun ini membuat Salman kalut, dia dipaksa menjalani hari-hari yang berantakan. Semoga kalut tidak berubah menjadi kemelut. Dosen dan mata kuliah adalah dua hal yang membosankan, kini yang tertanam di kepalanya hanyalah mengejar karir. Mungkinkah dia akan meninggalkan aktivitas seperti mengobrol, nongkrong dan percintaan. Aku tidak bisa menjawab, silahkan tanyakan langsung pada dia. Salman tidak mungkin menolak ajakan wanita apalagi wanita itu punya nilai spesial di hatinya. 

Itulah empat cerita berbeda tapi ada sedikit kesamaan tentang perayaan tahun baru. Semua cerita ini aku ambil dari blog temanku. Sekali lagi aku mengucapkan selamat tahun baru 2013.

PS: Mulailah menulis dari hal yang kamu ketahui

Sabtu, 29 Desember 2012

Membeli Air Mata

Langkahku terhenti di depan sebuah tangga menuju bioskop 21 Jatos, aku mengetik sms untuk mengetahui keberadaan temanku.

“Utee lagi di mana?” begitulah isi smsnya
 “Aku di foodcourt,” balasnya
Aku membalas lagi smsnya “Aku udah ada di depan foodcourt,” kataku.

Tampak dari jauh dua orang wanita berjalan mendekat dan menunjuk ke arahku, kursi di dekatku yang tadinya kosong mulai ditempati olehku dan mereka berdua. Foodcourt ini sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya anak muda. Mereka datang, saling bertemu, memesan makanan, dan mengobrol sampai berjam-jam membicarakan banyak hal. Uteee dan Lia tengah menikmati minuman yang mereka beli. Minuman itu menarik perhatianku untuk mencobanya, aku bertanya pada Uteee “Itu minuman apa te.” Kataku.

Lalu ia menjawab “Gak tau sih ini apaan, mau nyobain gak?” katanya.

Aku membaca nama minumannya Air Mata Kucing , minuman kesehatan khas Malaysia. Warnanya coklat muda sama seperti teh, aku mulai mencoba menyedotnya. Rasanya tidak terlalu manis dan agak sedikit asam. Dalam hati aku berucap, kenapa minuman dari Malaysia ini bisa dijual di Indonesia terlebih rasanya terasa aneh di lidahku.

Minuman Air Mata Kucing aku berikan kembali kepada Uteee, es di dalamnya sudah mencair tak tersisa lagi. Tinggal beberapa menit lagi film 5cm akan tayang di bioskop. Aku menjadi pendengar setia obrolan dua wanita di depanku. Obrolan panjang keduanya sempat terpotong sebentar karena kedatangan dua orang teman mereka. Satu dari mereka duduk dan satu lagi memilih untuk berdiri.

Aku, Uteee dan Lia sudah masuk ke studio, kita bertiga mendapat kursi di jajaran depan dekat dengan layar bioskop. Kursi di studio hampir terisi semua oleh penonton. Lampu studio mulai di gelapkan dan akhirnya aku bisa mulai menonton film 5cm. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Donny Dirgantoro berkisah tentang persahabatan 5 anak muda dengan segala keunikan masing-masing, mereka adalah Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian. Mimpi mereka berlima adalah menaklukan puncak gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Mahameru.

Sejak awal pengenalan karakter seluruh penonton sudah dibuat tertawa. Hal-hal lucu ditampilkan dengan polos dan tidak ada kesan dibuat-buat. Kehadiran para pemain muda seperti Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, dan Denny Sumargo menjadi daya tarik dari film yang disutradari oleh Rizal Mantovani ini. Selain itu film 5cm mulai tayang di bioskop di tanggal cantik 12.12.2012.

Genta merasa persahabatan mereka selama ini hanya begitu-begitu saja. Ia mengusulkan untuk tidak bertemu dan menghentikan komunikasi antara mereka berlima selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, mereka berlima akan bertemu di sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Genta menjanjikan ini akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan selama hidup. Dari sinilah mimpi untuk menaklukan puncak gunung tertinggi di Jawa dimulai.

Pendakian demi pendakian membawa mereka berlima pada tantangan terakhir menaklukan puncak gunung Mahameru. Suasana romantis berubah menjadi ketegangan, aku bisa melihat itu dari raut muka Uteee dan Lia. Dikuatkan oleh scoring musik yang menegangkan. Arial merasa tidak sanggup lagi menuju ke puncak karena kedinginan, Ian terus berusaha mendaki,. Tiba-tiba banyak bebatuan dari puncak jatuh ke bawah. Dinda terjatuh, telinganya terluka dan Ian tidak sadarkan diri. Mata Lia dibanjiri air mata karena sedih dan khawatir Ian akan mati. Uteee juga mulai meneteskan air mata tapi tidak dengan aku. Ian terus dibangunkan, keempat sahabatnya tidak ingin ia mati. Ian akhirnya bisa kembali sadar, mereka berlima berhasil mewujudkan mimpi menaklukan puncak gunung Mahameru di tanggal 17 Agustus.

Seandainya tadi sebelum menonton Uteee dan Lia tidak membeli minuman air mata kucing mereka berdua tentu tidak harus menangisi lelaki bernama Ian yang matinya hanya pura-pura. Aku bangga bisa tinggal di Indonesia karena keindahan alamnya. Film 5cm mengajarkan untuk percaya pada kekuatan mimpi, persahabatan, dan cinta.

Kamis, 27 Desember 2012

Belajar Keaktoran Bersama Andika Akbar

Kamis, 27 Desember 2012
Aku punya seorang teman namanya Andika Akbar dia adalah mahasiswa jurusan Teknik Elektro. Selain kuliah di jurusan tersebut dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu Koperasi Mahasiswa (KOPMA) dan Teater Awal nama sebuah teater di kampusku. Hari kemarin aku bertemu dengannya di Asrama Dua Saudara, dalam keseharian Dika tampil apa adanya. Aku duduk di sebuah kursi lalu ia mendekatiku dengan santai.

“Dan, punya rokok gak?” pertanyaan itu dilemparkannya padaku.

Aku tersenyum dan bilang kalau aku tidak punya. Dika mulai mengeluarkan pesonanya sebagai lelaki yaitu senyuman menawannya. Suanana Asrama Dua Saudara ketika itu sepi karena para penghuni kamar No. 11 dan 12 sedang pergi menonton film “Kingdom of Heaven” di Museum Konfrensi Asia Afrika. Ia menceritakan tentang kepedihan hatinya padaku. Belum lama berhubungan, pacarnya sudah meminta untuk putus itu pun melalui pesan pendek. Aku bisa merasakan kepedihannya,  terlihat dari sedikit kata yang terucap darinya. Hatinya pasti tersayat luka dan bertabur air mata.

Tidak usah membahas lebih jauh lagi, biarkan luka yang membekas itu hilang dengan sendirinya. Aku punya keinginan besar untuk belajar teater kepada Dika temanku Aad juga begitu. Kita berdua hari ini akan mendapatkan sedikit pengenalan tentang teater dari salah satu aktor teater awal. Dika memintaku dan Aad untuk masuk ke dalam. Ucok teman dekat Aad ikut bergabung bersama kami bertiga di klinik teater sore itu. Pengenalan teater mulai dari sejarah mulai dikenalkan kepada kita bertiga. Dilanjutkan dengan 10 elemen yang harus ada dalam sebuah pertunjukan dan terakhir 4 unsur keaktoran dalam dunia teater.

Selama klinik keaktoran berlangsung tak hentinya secangkir kopi susu aku teguk sedangkan Dika setelah penjelasan selesai mulai menyebarkan asap dari sebatang rokok miliknya. Dari hasil catatanku, 4 unsur keaktoran diantaranya olah tubuh, olah vokal, olah mimik dan olah sukma. Agar bisa dimengerti Dika memberikan contoh dengan mempraktekannya dan kita bertiga mengikuti misalnya olah vokal mengucapkan huruf A, I, U, E, O dengan jelas mulai dari tempo pelan sampai paling cepat. Olah sukma adalah ditingkatan terakhir karena ini merupakan pamungkas dan berkaitan dengan latihan fokus.

Pada waktu prakter Dika bilang kita bertiga masih kalah oleh anak SMA yang diajarkannya. Apabila keempat unsur itu sudah bisa dikuasai dengan baik maka semuanya bisa mudah termasuk dalam mengolah akting, presentasi di hadapan dosen dan menghadapi jutaan penonton.

“Ini masih awal belum sampai tingkat 1% sama sekali,” ujarnya.

Selesai klinik keaktroan, kita bertiga diberikan tugas untuk mengulang kembali materi hari ini. Biasakan sesudah bangun pagi sebelum jam 6 untuk bergumam sebagai latihan olah vokal. Mulai untuk mengucapkan huruf vokal dengan jelas. Apa yang aku ingat dari Dika adalah ketika muka kita mulai terasa kaku lakukanlah olah mimik “hancurkan mukanya sekarang”. Siapa pun bisa mencobanya dan jangan pernah ragu.

Selasa, 25 Desember 2012

Kematian

Belum hilang dari ingatanku waktu hari kemarin paman masih mengenali satu persatu wajah saudara yang berkumpul pada waktu itu. Kondisinya belum juga membaik kedua kakinya bengkak seperti disengat jutaan lebah. Tubuhnya lemas dan sedikit kesulitan dalam hal bicara. Ayahku duduk disampingnya, memberikan semangat dan harapan kalau penyakitnya bisa sembuh. Kedua mata pamanku terus memandang ke arah jaket hitam yang digunakan oleh ayah. Sepertinya jaket itu begitu menggugah dirinya sampai-sampai mulutnya tertatih untuk mengucapkan sesuatu.

"A cing abdi hoyong nyobian jaket teh," katanya pada ayahku.

Ayah melepas jaket hitamnya perlahan-lahan lalu setelah menanggalkan dari tubuhnya, ia membantu memakaikan jaket itu di tubuh paman.Aku menyaksikan belaian kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Wajah paman terlihat bahagia setelah mengenakan jaket hitam milik ayah. Sesuai kesepakatan seluruh keluarga pada hari Senin paman akan dibawa berobat ke rumah sakit di Bandung. Rumah sakit di tempat pamanku tinggal sudah tidak sanggup lagi menangani penyakitnya.

Selama sakit istri pamanku setia merawat, tidak pernah terpancar sama sekali keluhan dari wajah cantiknya. Tiada hari tanpa cinta dan kobaran semangat dari istrinya. Waktu sudah mulai sore, hari esok ayah harus bekerja kembali. Dengan berat hati aku, adik perempuanku dan ayah berpamitan pergi meninggalkan paman. Senyum kesedihan tampak jelas di wajah pamanku. Sebelum pergi satu persatu dari kita diberinya senyuman, aku tahu paman ingin kembali sehat dan tidak lagi merepotkan orang lain.

Kita bertiga sudah sampai rumah, ayah berharap dengan membawa paman berobat ke Bandung kondisinya bisa lebih baik. Setidaknya kakinya tidak bengkak lagi dan buang air kecil bisa lancar. Hari Senin ini, aku pergi meninggalkan rumah menuju ke kampus. Kabar dari bibiku paman akan berangkat ke Bandung di waktu siang.

Selasa siang ayah meneleponku, katanya paman sudah ada di Bandung. Ia belum dirawat dirumah sakit sekarang masih tinggal dirumah om Kudus. Rumah sakit advent di Bandung harganya terbilang mahal dan tidak bisa menggunakan kartu Askes. Untuk itu paman akan dirawat di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. kata ayah mengakhiri percakapan singkatnya denganku. Ayahku berpesan untuk menyempatkan diri menengok paman di rumah sakit.

Melihat cuaca yang begitu cerah, siang menjelang sore aku pulang ke rumah. Siang terasa menyengat kulitku ditambah polusi dari asap kendaraan bermotor dan debu jalanan. Perjalananku terasa cepat, kini aku sudah sampai ke rumah disambut senyum rindu dari ibuku. Ayah tidak pulang hari itu karena sedang menjaga paman di rumah sakit. Aku mengobati kelelahanku hari ini dengan tidur. Selamat merajut mimpi kataku berucap dalam hati.

Tidur itu sebuah kenikmatan tidak berasa. Jangan pernah membawa banyak pikiran ketika tidur kelak itu bisa membangunkanmu. Malam sudah habis dan mulai terasa kenikmatan pagi biasanya menjelang subuh ibu sudah membangunkanku. Tiba-tiba ada suara menghentak tangga rumahku. Apakah ini sebuah pertanda sesuatu sedangkan tubuhku masih terlentang bebas di atas kasur.

"Aa bangun si mang cepi meninggal," kata-kata itu kelar dengan cepat dan jelas dari suara yang aku kenali.

Seketika aku terperanjat dan kaget mendengar kabar itu. Seakan masih tak percaya tapi tidak mungkin itu sebuah pesan kebohongan mulutnya mengalir mengucapkan kata "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," kataku.

Hari Kamis pagi keluargaku diselimuti oleh duka mendalam atas meninggalknya paman. Dalam sadarku aku bertanya, Tuhan mengapa kau panggil pamanku begitu cepat?. Aku, adik perempuanku dan ibu bergegas meninggalkan Bandung dengan membawa pakaian ganti secukupnya. Kami bertiga berharap semoga paman belum menyatu bersama tanah di liang kubur.

Suasana duka pekat terasa ketika kami bertiga sampai di rumah paman. Ada tangis dan haru dari setiap wajah saudaraku dan warga sekitar kampung yang melayat. Aku mendekat ke tempat pemandian jenazah, aku melihat wajah paman pucat dan matanya terpejam tenang. Kesedihan mendalam tentu saja sedang dirasakan oleh bibi dan anak mereka berdua yang ditinggalkan.Paman dan bibi dikaruniai tiga orang anak dua orang lelaki dan satu orang perempuan.

Selesai dimandikan jenazah pamanku dibawa masuk ke rumah. Sekujur tubuhnya mulai dipasangkan kain kafan putih. Air mata kesedihan di tempat itu belum juga mengering semua mencoba untuk tabah dan berserah diri pada Tuhan. Jenazah paman sudah harum wewangian surga selanjutnya siap untuk di shalatkan.

Keranda jenazah diangkat oleh beberapa warga, paman akan dimakamkan di tanah dekat rumahnya. Aku dan saudara lainnya berada di barisan depan mengiringi jenazah ke tempat pemakanan. Doa demi doa terus dipanjatkan semoga semua amal ibadah pamanku diterima di sisi Tuhan pemilik alam semesta. Paman berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali juga ke asal. Inilah kematian tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan datangnya semua hanya menjadi rahasia Tuhan.

Selasa, 04 Desember 2012

Proses Lahirnya Jurnalis Kampus Baru

Motorku berhenti di depan rumah yang dari luar terlihat biasa dan bentuknya sama seperti rumah lainnya. Halaman rumah itu banyak ditumbuhi oleh pepohonan, ada yang bentuknya besar dan kecil. Dibawahnya rerumputan hijau tumbuh subur. Beberapa motor terparkir tidak sejajar di garasi luar. Pintu masuk terbuka lebar membebaskan angin keluar masuk tanpa permisi. Aku mulai menginjakan kaki di lantai yang terbuat dari kayu. Salah satu alumni SUAKA yang ingin aku temui yaitu Ahmad Yunus terlihat masih duduk sambil berceloteh bersama Miko, Wicak, dan Nasrul. Dia adalah seorang jurnalis yang pernah berkeliling Indonesia dengan menggunakan motor bersama Farid Gaban. Hasil dari perjalanannya ditulis dalam buku “Meraba Indonesia”. Buku ini kental dengan gaya penulisan jurnalisme sastrawi.

Aku melihat ada tangga di dekat kamar, itu artinya rumah ini memiliki dua lantai. Titian demi titian tangga membawaku pada pemandangan penuh sesak. Tapi, dibalik kesesakan itu terpecik semangat baru. Para calon anggota baru SUAKA hening menyimak pemaparan materi kejurnalistikan. Dimulai dari kemarin sampai hari ini berlangsung Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) tahun 2012. Setelah materi berakhir para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya tentang apa yang masih belum dimengerti dan ingin diketahui lebih jauh. PJMTD merupakan langkah awal bagi calon jurnalis kampus sebelum bergelut langsung di lapangan.

Pada waktu sore para peserta PJMTD 2012 mendapatkan materi tentang teknik wawancara dari Enjang Muhaemin, dosen yang mengajar di jurusan Jurnalistik. Malam harinya ada simulasi wawancara. Isu yang diangkat telah ditentukan oleh panitia. Narasumber yang akan diwawancara oleh para peserta adalah para panitianya sendiri. Hasil dari wawancara harus ditulis dalam bentuk berita atau bisa juga feature.

Koran, majalah, kertas karton, kertas warna-warni, gunting, pisau lipat, dan lem kertas. Semua itu adalah alat bagi para peserta untuk membuat sebuah media. Malam hari para pementor dari panitia satu persatu membimbing dalm hal pembuatan media. Aku datang mengamati setiap peserta sambil meminum teh manis hangat di gelas plastik. Sebuah media bisa selesai tepat pada waktunya kalau dikerjakan bersama-sama. Maka dari itu harus ada pembagian tugas misalnya satu orang menulis ulang berita, satu lagi menggunting karton dan satu lagi menempelkan materi yang sudah selesai dipilih. Dengan begitu ketika medianya selesai dikerjakan ada kepuasan tersendiri dari setiap anggota kelompok.

Sekarang sedang berlangsung presentasi media dari setiap kelompok secara bergiliran. Penilaian media dipercayakan pada alumni dan senior SUAKA yaitu Jawa, Iqmah dan Ozan. Media yang telah selesai dibuat beragam bentuknya ada yang membuat dalam bentuk tabloid, majalah dan buletin. Nama medianya sendiri beragam dan punya karakteristik tersendiri.

Pemandangan Cilengkrang di waktu malam membuatku terpana. Gemerlap keindahan kota terpancar di tengah gelap. Semua pemandangan malam tertangkap dari tempatku berdiri. Tidak terasa presentasi media sudah selesai. Saatnya untuk menjalin kedekatan antara panitia dan peserta. Acara tukar menukar hadiah menjadi satu momen penting bagi para peserta. Nirra sebagai pembawa acara memberikan cara menukar hadiah yang berbeda kepada setiap peserta.

Beberapa jam tersisa mataku terpejam di lantai beralaskan karpet. Hari esok para jurnalis kampus baru akan lahir dari hasil pelatihan hari ini dan kemarin. Pasar Minggu di Manglayang menjadi tempat pertama untuk mendapatkan berita secara langsung di lapangan. Setelah jurnalis kampus baru lahir tantangan sebenarnya ada di depan mata. Siapkah mereka untuk terus memberitakan kebenaran?

Minggu, 02 Desember 2012

Desember

Laju waktu perharinya terhenti pada angka dua puluh empat. Bulan tetaplah berjumlah dua belas tidak bisa bertambah menjadi lebih. Desember sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi bulan penutup. Hujan masih setia datang setiap hari atau selang beberapa hari menuntaskan kerinduan akan kesejukan di setiap tetesannya. Semester adalah kerangka kehidupan mahasiswa yang terancang dengan apik. Mata kuliah dan SKS berujung pada pertemuan di lembah IP. Menyelami setiap semester membuat waktu merekam banyak ingatan. Memasuki masa akhir, menemui dosen tidak lagi di kelas tapi bisa dimana saja. Sidang demi sidang menjadi momok demi sebuah kelulusan dan gelar. 

Coba perhatikan hujan, kedatangannya tidak pernah disangka-sangka. Aku sering merasakan gerimis kala siang merasa lelah karena terbakar panas matahari yang menyengat. Mendekati tahun 2013 dan 2014 kursi jabatan dari Gubernur sampai orang nomor satu Indonesia banyak diburu. Berbagai kalangan muncul sebagai seseorang yang menawarkan perubahan. Tanpa menunggu komando, partai-partai politik sudah pintar memoles rasa manis dan menaburkan janji-janji lewat iklan di televisi. Tidak ada lagi kepercayaan masyarakat kepada para pemimpin mereka karena belum ada untaian-untaian masalah yang bisa diselesaikan dengan baik.

Masih ingatkah dirimu padaku saat kita pertama kali bertemu di sebuah lorong gelap tanpa lampu. Aku ingin mengajarimu mengupas buah mangga dengan baik. Aku tidak ingin pisau tajam itu melukai tangan mungilmu yang halus. Rasa manismu tertuang pada secangkir teh, aku menenguknya setiap pagi atau kala senja mulai menampakan diri. Lepaskanlah rasa takutmu dan perihara rasa cinta itu. Temui diriku kapan pun dirimu merinduiku.

Desember bangkit dan berjuang. Membuat karya segila adalah caraku keluar dari jeratan ketidakpastian. Tindakan besar tidak bisa ditunda-tunda menulislah demi perubahan nyata.

Kamis, 29 November 2012

Menjadi Juri Stand Up Comedy

Rabu, 28 November 2012

Bisa dibilang wajah gue ini gak ada lucu-lucunya sama sekali. Gue itu tipikal cowok yang miskin ekspresi.Buat ngasih senyuman ke cewek aja, gue harus latihan tarik ulur muka di depan kaca. Gak usah ikut-ikutan ngebayangin cukup gue aja yang ngerasain. Terus kenapa bisa gue yang jomblo ini kepilih buat jadi juri stand up comedy di jurusan Sosiologi. Jawabannya sih simple , gue diminta buat jadi juri sama panitia lewat pelantara temen gue Galah Denawa.

Dari pagi, gue udah ngecekin handphone barangkali aja ada sms nyasar yang isinya ucapan “Selamat Pagi Sayang”. Di kotak masuk masih aja kosong artinya gue harus ngelanjutin kegiatan hari ini. Air di bak mandi lagi penuh-penuhnya. Tadinya gue males mandi tapi demi ngerubah status akhirnya tubuh ini harus rela diguyur air. Selesai mandi kemeja yang disiapin buat pedekate sama cewek gue pake ke kampus. Dengan harapan cewek kecengan gue bisa ngeliat biarpun sedetik. Gue berangkat ke kampus dari kosan dengan tujuan pertama ke DPR tempat nongkrongnya kumpulan cowok-cowok galau dan kesepian.

Gue jadi juri Stand Up Comedy hari ini rasanya kayak nunggu kepastian cinta. Pihak panitia gak ada komunikasi sama sekali. Tiap kali ada kepastian waktu itu pasti datangnya dari Galah Denawa. Kalau gini udah kebaca panitianya kurang persiapan. Bang haji Rhoma Irama Bilang “Sungguh terlalu”. Panita bilang udah dzuhur siap-siap, ada kabar lagi mulainya jam tiga. Dari jam tiga dipindah lagi jadi sore. Gue disuruh dateng sore ke aula UIN , katanya acara mau dimulai sebentar lagi. Galah si rambut gondrong udah duduk di aula daritadi ditemenin sama pacarnya Hani. Selesai penyampaian materi dari dosen dari luar hujan mulai turun. Awalnya cuma gerimis lama-lama gede juga mana ada suara petir lagi.

Hujan diluar semakin gede suaranya ngalahin suara kerumunan mahasiswa dan sound system di aula. Acara lomba Stand Up Comedy baru aja dimulai sistemnya gantian puisi dulu baru Stand Up Comedy. Gue duduk di kursi paling depan bareng Galah yang sama-sama jadi juri juga. Materi Stand Up Comedy kali ini tentang “Budaya Pop” setiap peserta yang jadi perwakilan dari setiap kelas dan angkatan harus sedikitnya ngomongin tentang materi itu.

Peserta pertama datang dari semester tujuh. Modus ikutan stand up comedy ini karena dipaksa sama Kosma, katanya hadiah dari lomba ini bisa dipake buat bayar uang kas selama dua bulan. Dimana-mana peserta pertama bakal ngerasain gugup biarpun wajahnya ganteng. Ada tips dari gue supaya gak keliatan gugup di setiap penampilan apapun di atas panggung. Kuncinya jangan pernah mau tampil jadi yang pertama kalaupun dapet mendingan jadi yang pertama dari akhir aja. Waktunya peserta kedua yang tampil jadi comic. Beda dari yang pertama peserta kedua ini malah nyeritain kisah cintanya dari pertama sampai penutupan.

Materi yang dibawain sama setiap comic rata-rata hampir sama misalnya tentang hubungan cinta mahasiswa, jomblo dan lagi-lagi homo harus dibawa-bawa. Belum ada satupun comic yang ngasih sesuatu yang beda . Padahal banyak banget masalah di kampus yang bisa dijadiin materi stand up. Ada satu peserta terakhir namanya Asep, dia bawain materi yang cukup ngehibur dan ngebuat semua penonton ketawa. Asep bilang kalau Rhoma Irama jadi presiden gak bakal ada lagi mahasiswa yang jomblo soalnya di lagunya bilang “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”

Tragisnya acara lomba baca puisi dan Stand Up Comedy di jurusan Sosiologi harus ditutup pas mati lampu. Mungkin kejadian kayak gini cuma ada di UIN. Banyak dosen yang ngasih materi kuliah sambil berdiri tapi sedikit dosen yang lucu. Oleh karena itu dosen juga harus nonton acara Stand Up Comedy.

Rabu, 21 November 2012

Pencurian Motor Bisa Terjadi Kapan Saja

Usiamu kini genap 21 tahun. Selamat ulang tahun untuk Nabila semoga apa yang menjadi harapanmu kemarin malam dikabulkan oleh Tuhan. Terima kasih telah membuat perutku kenyang. Rasa kuenya enak, cuma sayang ayam bakarnya kurang banyak. Semoga perayaan kecilmu berkesan. Bahagia itu sederhana sama seperti mencintai seseorang.

Dari hari ke hari Bandung terus dihujani oleh air dari langit. Pada malam berakhirnya perayaan kecil itu, aku mencoba menjaring kehangatan. Tubuhku sedikit menggigil. Sisa angin malam menjelajahiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Motorku terperangkap gelap, suara gas yang khas terdengar saat tanganku menyalakan mesin. Ritual malamku berlanjut bersama Hapeuk menuju Al-Jawami, Ozan dan Jawa sudah berangkat terebih dulu.

Jarak tempuh ke Al-Jawami yang dekat membuat waktu terbuang sedikit di perjalanan. Aku baru pertama kalinya menginjakan kaki di tempat ini. Belum terlihat Ozan sampai ke tempat hanya pesan pendek yang aku dapati darinya.

“Bray, dagoan heula hareupeun Al-Jawami sakedeung. Urang nganter si Jawa,” begitulah isi sms singkat darinya.

Motorku berhenti persis di depan pintu masuk Al-Jawami. Ada satu pintu terbuka lebar, aku sendiri belum berani untuk masuk. Dinginnya malam semakin menjadi-jadi. Aku dan Hapeuk berjalan mendekati gelap di sisi pojok gedung untuk menghangatkan diri. Beberapa menit pendek telah kita lewati, terdengar suara motor mendekat. Jelas sekali aku mengenal wajah sang pengendara, ia adalah mang Kerewed. Motornya diparkir di pojok sebelah kiri tidak terlihat dari tempatku duduk karena terhalang oleh tembok. Selesai memarkirkan motoronya, mang Kerewed mempersilahkan kita berdua masuk.

Aku memasuki ruangan cukup luas beralaskan keramik. Terbentang karpet biru untuk duduk kita bertiga. Mang Kerewed bertanya keberadaan Ozan dimana, kita berdua menjawab ia masih diperjalanan menuju kesini bersama Jawa. Malam itu kita akan membicarakan acara launching antologi buku sajak Sunda. Sambil menunggu Ozan datang, mang Kerewed bercerita banyak hal utamanya apa yang sudah terjadi pada dirinya selama beberapa hari kemarin.

Ozan telah datang bersama Jawa. Obrolan tentang launcing langsung kita mulai. Acara launcingnya sendiri akan digelar bulan Desember awal di DPR kampus. Sementara kita mengobrol di samping beberapa lelaki malam bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji. Ajakan untuk bergabung makan tak berhentinya menghampiriku. Tawa lepas mengalir deras, beban pikiran seketika terhempas. Apa saja yang dibutuhkan mulai dari pembicara, pengisi acara sampai pembawa acara Ozan tentukan satu persatu. Mang Kerewed menyetujui setiap pilihannya. Terlihat nasi dan laup pauknya sudah habis dilahap oleh mereka tapi obrolan kami masih berlanjut.

Dalam waktu seketika tawa berubah menjadi keramaian ketika motor salah seorang teman mang Kerewed dibobol. Lubang kunci penutup berhasil dibuka oleh maling. Motor Satria yang tadinya di parkir diluar dibawa masuk ke dalam. Obrolan terhenti sejenak, semua dari kita mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Motornya benar baru saja dibobol, sang pemilik beruntung karena maling belum berhasil menggasak motornya. Rasa penasaranku mulai muncul. Beraninya maling datang padahal keadaan di dalam malam itu sedang ramai. Setelah kejadian itu terjadi pengawasan diperketat dan kewaspadaan ditingkatkan. Semua motor yang di parkir di depan Al-Jawami dipindahkan masuk ke dalam ruangan. Pencurian motor sekarang rawan sekali terjadi.

Aku, Hapeuk, Ozan, Jawa dan Mang Kerewed tak habis pikir sang maling punya keberanian cukup tinggi untuk datang dan membobol motor Satria tadi. Sebelumnya pernah terjadi pencurian motor ninja di tempat ini kata Mang Kerewed. Obrolan kita kembali dilanjutkan, satu persatu batang rokok dinyalakan. Asap rokok lebih dulu keluar daripada kata. Tanpa komando Mang Kerewed menyuruh temannya untuk membeli kopi sebagai pelengkap kebersamaan. Lelaki itu bertanya

“Mang ari motorna mana,” katanya

“Ieu koncina motorna anu REVO aya di tukang,” kata mang Kerewed menjawab

Lelaki berjaket kuning itu berjalan keluar meninggalkan kita. Aku duduk dalam penantian pada secangkir kopi hangat. Belum lama, lelaki itu datang lagi. Apa yang keluar dari mulutnya kali ini membuat kita terbujur kaku katanya motor Honda REVO yang diparkir dibelakang tidak ada. Mang Kerewed bergegas mengecek keluar seperti dihujani ketidakpercayaan. Aku dan yang lainnya masih menunggu tentang kebenaran berita itu. Dengan berat hati mang Kerewed mengatakan kalau motornya sudah dibobol maling. Untuk kedua kalinya kita dibuat takut oleh maling bukan maling yang takut oleh kita. Malam sunyi diramaikan oleh orang-orang yang berkumpul karena penasaran dan bertanya-tanya. Seingatku motor honda REVO memang diparkir di belakang karena terhalang oleh tembok jadi tidak terpantau dari dalam ruangan. Motor itu kini pergi menghilang dibawa oleh bukan pemiliknya.

Kejadian kehilangan motor di Al-Jawami malam itu membekas dihatiku.Tertulis lewat catatan ini. Setiap komentar yang keluar dari kita berbeda-beda-misalnya Ozan yang berencana membeli gembok untuk motornya. Aku harus lebih waspada menjaga motor milkku satu-satunya. Semoga mang Kerewed diberi kesabaran karena motor Honda REVO yang dibobol maling bukan miliknya sendiri. Berhati-hatilah pencurian motor bisa terjadi kapan saja tidak mengenal waktu. Semakin maraknya motor keluaran baru semakin mudah didapatnya tidak hanya bagi para pengendara motor tapi juga maling. 19 November 2012

Selasa, 30 Oktober 2012

Sengaja Tidak Memikirkan Judul

Pintu gerbang telah terbuka, sebuah motor melesat masuk membawa dua orang lelaki. Aku mengikuti laju motor itu dari belakang. Satu orang berjaket cokelat berjalan tegas manaiki setiap titian tangga, temannya mengikuti dari belakang. Sampailah mereka berdua pada sebuah kamar berukuran cukup besar, aku menyebut kamar itu sebagai markas Squad Bulukutek. Tidak pernah ada penjagaan ketat di markas ini, siapa pun bisa masuk tanpa syarat. Buktinya, sosok yang sudah tidak asing lagi pelantun tembang “Fana”, Salman bisa masuk secara terang-terangan. Kita punya cara untuk membuat dunia lebih baik yaitu dengan bersenang-senang. Squad Bulukutek punya tujuan menghapus semua kegelisahan di bumi pertiwi ini utamanya di kalangan generasi muda. Pemuda punya peranan besar untuk membahagiakan para wanita.

Ragil membaringkan badannya, matanya terpaku menatap setiap adegan di film. Ia tidak sendiri, ada Tachi duduk disampingnya. Aku baru mengenal Tachi dalam beberapa hari ini. Dia baru menyandang gelar sarjana. Sehari-harinya selalu bersama botak (panggilan akrab Ragil) berdua bersama mencari cinta. Taci masih punya tekad kuat untuk tidak berpacaran selain dengan Irma. Untuk bisa mengenal wanita ini lebih dekat, ia tak hentinya mengirim sms kepada Irma. Cobaan pertama sungguh berat sekali, sms pertamanya sampai sekarang belum di balas oleh Irma.

Patah hati tidak cukup hanya sekali harus sampai berkali-kali. Menertawakan kisah cinta orang lain dan meceritakannnya kedua perilaku ini bisa ditemukan pada diri Ozan. Tingkat keponya sudah tidak bisa diobati lagi. Dari sekian banyak kisah, satu kisah cinta dari Aksay yang terus menerus disebar luaskan ke semua orang. Aksay lelaki berkulit hitam dan berperawakan tinggi ini berkenalan dengan seorang wanita bernama Lala. Setelah berkenalan ia menyimpan harapan besar bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Belum lama kata-kata seperti ini keluar dari mulut Lala “Lebih baik kita temenan aja,” katanya.

Akhir bulan mendekati akhir tahun 2012, bulan Oktober bisa pergi bebas karena tidak ada ikatan. Aku mengakhiri tawa sesudah satu persatu mata terpejam. Bulan November nanti aku akan sedikit membumbui tulisan dengan bahasa asing yang kupelajari. Semoga saja aku bisa dan dirimu mengeti.