Selasa, 08 Januari 2013

Diam-Diam Lelaki Juga Suka Membaca Majalah Wanita

Minggu, 6 Januari 2013 
Pundakku memikul tas hitam yang lebih berat dari biasanya karena di dalamnya ada laptop, aku pergi dibekali uang jajan dari ibuku hasil jerih payah ayah bekerja. Motorku ada sedikit masalah sehingga terdengar suara benturan antara rantai dan besi tapi itu tidak membuatku kalah sebelum berperang di jalanan. Hari ini ada janji tertulis tapi tidak terucap untuk bertemu dengan Bayu di Perum Damri Soekarno Hatta, ia tidak ada uang sama sekali sehabis lulus jadi sarjana masih mengais-ngais pekerjaan.

Sepanjang jalan peredaran anak-anak punk berkaos hitam bertambah banyak. Kehadiran mereka tidak lain untuk menonton acara konser musik metal. Hitam menjadi warna pengukuh identitas. Aku melihat seorang pasangan dari kelompok ini berjalan saling berdampingan, mereka berdua sama-sama mengenakan kaos hitam, kesannya kumuh dan sang lelaki berpotongan rambut layaknya personil band metal. Sejak musim hujan kondisi jalan raya banyak dipenuhi oleh lubang ditambah dengan genangan air. Jika aku terlalu cepat melaju dan tidak hati-hati bisa berakibat kecelakaan. Motor dan mobil bagaikan kendaraan harapan menuju tempat tujuan.

Metro Soekarno Hatta sudah aku lewati artinya Perum Damri telah dekat. Sampai di depan Perum Damri aku menunggu di persimpangan jalan. Puluhan tukang ojek tengah bersantai sambil menunggu penumpang. Mungkin Bayu sudah melihat sosokku dari jauh sehingga tidak perlu lagi susah mencariku. Ia tampil menawan dengan kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans cokelat. Aku mengendalikan laju motor dengan arah tujuan menuju asrama dua saudara. Dari belakang ada motor yang mendekat ke arahku pengemudi motor itu berteriak, aku menengok ke belakang wajahnya kukenali dengan baik, dia Salman. Kini dua motor melaju bersamaan, liburan semester ganjil membuat suasana terasa tepi itu terasa ketika aku sampai di Asrama Dua Saudara.

Salman bercerita kalau dirinya berkumpul bersama para jomblo di malam minggu kemarin di rumah Pradi. Baginya masih ada sisa kasih sayang yang tercurahkan lewat tayangan FTV. Lain dengan Bayu yang mengenalkan produk goodie bag produksinya bersama Aziz. Produk ini dipasarkan di Museum KAA sebagai marchandise dengan harga Rp 35.000,- ia mengaku desain goodie bag karyanya lebih banyak yang memesan daripada desain buatan Aziz. Sebelum hujan turun di waktu sore, kita bertiga langsung melesat pergi ke Gramedia.

Toko buku Gramedia Bandung terletak di lokasi yang strategis tapi masih belum bisa menarik banyak anak muda untuk berkunjung ke toko buku ini. Aku pertama kali melempar tatapan kedua mata ini ke arah rak berisikan majalah-majalah edisi terbaru. Dari setiap sampul tertuang berjuta keindahan, aku seperti menemukan kesegaran perawajahan media di tahun ini. Wajah-wajah cantik dan populer tercetak sempurna, bagi lelaki yang ingin lebih memahami wanita seharusnya membeli majalah untuk wanita. Alasannya karena apa yang wanita inginkan semua ada disana.

Aku dan Salman menyukai desain apalagi Bayu, kita bertiga sekarang berdiri di depan rak buku-buku impor tentang arsitektur rumah dan desain. Semua buku tertutup rapat oleh plastik tipis, aku menyentuhnya pelan-pelan, sayangnya buku semahal ini tidak bisa aku miliki. Malam datang menandai berakhirnya kunjungan kita bertiga di toko buku Gramedia.

Malam ini perutku belum terisi makanan, bunyinya berkoar-koar seperti aksi demontrasi mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Aku melangkah masuk ke Angkringan di jalan Ganesa berdekatan dengan kampus ITB. Sambil menikmati makanan yang sudah dipesan, kita bertiga mulai mengobrol. Awal tahun ini AddictedArea akan hadir dengan tampilan baru dan Bayu resmi bergabung sebagai bagian creative marketing. Setelah perut terisi dan ide-ide terlontarkan, aku kembali pulang ke tempat peristirahatan. Bintang perlu gelap untuk bisa bersinar dan manusia perlu waktu untuk berisrirahat.

Keesokan harinya, aku pergi ke toko buku Gunung Agung untuk membeli majalah Go Girl! edisi Januari 2013 secara diam-diam tanpa Salman dan Bayu. Ketertarikanku tertuju pada ulasan bulan ini tentang pop writing. Diam-diam lelaki juga suka membaca majalah wanita.

Jumat, 04 Januari 2013

Perayaan Tahun Baru Mereka

Selamat tahun baru 2013

Aku harus membuka kembali ingatan tahun lalu, diceritakan ada dua anak magang SUAKA punya kedekatan lain dari biasanya. Hubungan keduanya masih sebatas teman waktu itu, tapi tidak tahun ini. Ada cerita cinta baru lahir dari SUAKA. Apa yang menonjol dari keduanya adalah sama-sama memakai kacamata tapi berlainan jenis kelamin. Setahuku tidak pernah ada panggilan sayang, keromantisan mereka berdua tidak pernah ditunjukan kepada publik. Pada malam perayaan tahun baru keduanya saling berjauhan, aku mengetahuinya dari tulisan di blog recycle bin no right click. no empty recycle bin would be.

Alin dialah wanita yang dimaksud menulis di blognya dengan judul “New Years Eve. So What?” isi tulisannya menceritakan tentang perayaan tahun baru bersama keluarga. Ia tidak suka mengikuti kebiasaan orang lain merayakan tahun baru dengan pergi ke sebuah tempat dan ia tidak ingin membiasakannya. Apa yang menarik dari tulisan Alin adalah seseorang bernama Kryptonite, Tuhan mempertemukan mereka berdua tahun ini. Kryptonite yang dimaksud adalah Iqbal dia mahasiswa jurusan jurnalistik aktif di sebuah lembaga pers mahasiswa. Ia rela memotong rambutnya yang panjang untuk berkunjung ke rumah Alin mungkin yang terbesit di otaknya waktu itu tipe menantu idaman mertua adalah lelaki berambut pendek dan rapih.

Setiap orang punya harapan masing-masing di tahun baru ini contohnya Alin yang berharap bisa fokus KKN, proposal, skripsi dan lulus tahun ini benar-benar gambaran tepat mahasiswi tingkat akhir. Harapan lainnya adalah setelah lulus nanti bisa bekerja dan menikah tanpa harus menunggu berlama-lama. Alin ingin berat badannya kembali ke semula di angka 40 sedangkan Iqbal akan kembali berkunjung ke rumahnya sesuai dengan waktu yang telah direncanakan olehnya.

Cerita lain tentang tahun baru aku dapatkan dari seorang wanita yang usianya genap 20 tahun, aku bisa merasakan masih ada sisa kenangan lama pada dirinya. Hatinya belum terobati sepenuhnya, sisa jahitan luka tidak tampak tapi kepedihannya bisa dirasakan. Wanita itu merayakan tahun baru di tengah-tengah hangatnya sebuah keluarga, berkumpul dan menonton TV. Ia tidak pernah merasakan malam tahun baru bersama seseorang yang spesial.

Sentuhan lembutnya di malam tahun baru, ia berikan pada blog miliknya dengan nama Bukan Tulisan Luar Biasa tercatat tulisan terakhirnya di blog pada bulan September tahun 2012. Rasa sesal menghinggapi dirinya karena dalam satu tahun tidak mencapai 20 tulisan sama sekali. Waktunya terbuang dengan mengenaskan. Kemalasan mengalahkan segalanya. Ia menulis sebuah harapan yaitu “aku harus mampu menulis dan mengisi blog ini lebih banyak dan berbobot dibandingkan tahun 2012,” seperti itulah harapannya yang di tulis di blog. 

Cerita ketiga masih berlanjut, Desti pertama kalinya merayakan tahun baru bersama teman sekelasnya. Bagi wanita manis ini tahun 2012 dilalui dengan banyak kenangan indah, ia mengikuti ajang putri jurnal dan selain itu RINTIS mulai terbentuk. Awal terbentuknya sendiri berawal dari obrolan-obrolan ringan penuh impian dan harapan. RINTIS beranggotakan dua orang mahasiswa yaitu Saepul Hamdi, Fahmi Islami dan satu orang mahasiswi yaitu Desti Puspaningrum.

Kosan Opa menjadi tempat berkumpulnya Desti dan teman-temannya, ia datang bersama Lele pukul 13.00 Faqir, Oma dan Omet sudah ada di kosan lebih dulu. Menjelang sore Desti dan Oma mulai memperiapkan ayam untuk dimasak, satu persatu teman yang lain mulai berdatangan menambah semarak perayaan seperti Ojak dan Mamang. Langsung menuju kesimpulan, acara makan, melihat pesta kembang api dari luar pagar, bermain Uno sampai subuh itu semua terjadi pada Desti dan teman-temannya. Mungkin itulah manisnya pertemanan di semester-semester awal.

Untuk cerita keempat ini, aku seharusnya masuk ke dalam cerita dari empat orang pria yang merayakan tahun baru di Asrama Dua Saudara. Sejak hujan menahanku di rumah, aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Salman memberitahuku kalau di SUAKA tidak ada acara sama sekali baik dari pengurus atau pun anggota magang. Ia bercerita di malam tahun baru melihat pesta kembang api gratis di gunung Manglayang. Momen ini bisa dibilang spesial karena kehadiran Efrin, Andika dan Dodi di malam tahun baru untuk saling menukar cerita cinta bersama wanita pujaan mereka. Salman beruntung bisa mendengar kisah cinta Efrin dan Dodi. 

Postingan pertamanya di tahun ini membuat Salman kalut, dia dipaksa menjalani hari-hari yang berantakan. Semoga kalut tidak berubah menjadi kemelut. Dosen dan mata kuliah adalah dua hal yang membosankan, kini yang tertanam di kepalanya hanyalah mengejar karir. Mungkinkah dia akan meninggalkan aktivitas seperti mengobrol, nongkrong dan percintaan. Aku tidak bisa menjawab, silahkan tanyakan langsung pada dia. Salman tidak mungkin menolak ajakan wanita apalagi wanita itu punya nilai spesial di hatinya. 

Itulah empat cerita berbeda tapi ada sedikit kesamaan tentang perayaan tahun baru. Semua cerita ini aku ambil dari blog temanku. Sekali lagi aku mengucapkan selamat tahun baru 2013.

PS: Mulailah menulis dari hal yang kamu ketahui

Sabtu, 29 Desember 2012

Membeli Air Mata

Langkahku terhenti di depan sebuah tangga menuju bioskop 21 Jatos, aku mengetik sms untuk mengetahui keberadaan temanku.

“Utee lagi di mana?” begitulah isi smsnya
 “Aku di foodcourt,” balasnya
Aku membalas lagi smsnya “Aku udah ada di depan foodcourt,” kataku.

Tampak dari jauh dua orang wanita berjalan mendekat dan menunjuk ke arahku, kursi di dekatku yang tadinya kosong mulai ditempati olehku dan mereka berdua. Foodcourt ini sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya anak muda. Mereka datang, saling bertemu, memesan makanan, dan mengobrol sampai berjam-jam membicarakan banyak hal. Uteee dan Lia tengah menikmati minuman yang mereka beli. Minuman itu menarik perhatianku untuk mencobanya, aku bertanya pada Uteee “Itu minuman apa te.” Kataku.

Lalu ia menjawab “Gak tau sih ini apaan, mau nyobain gak?” katanya.

Aku membaca nama minumannya Air Mata Kucing , minuman kesehatan khas Malaysia. Warnanya coklat muda sama seperti teh, aku mulai mencoba menyedotnya. Rasanya tidak terlalu manis dan agak sedikit asam. Dalam hati aku berucap, kenapa minuman dari Malaysia ini bisa dijual di Indonesia terlebih rasanya terasa aneh di lidahku.

Minuman Air Mata Kucing aku berikan kembali kepada Uteee, es di dalamnya sudah mencair tak tersisa lagi. Tinggal beberapa menit lagi film 5cm akan tayang di bioskop. Aku menjadi pendengar setia obrolan dua wanita di depanku. Obrolan panjang keduanya sempat terpotong sebentar karena kedatangan dua orang teman mereka. Satu dari mereka duduk dan satu lagi memilih untuk berdiri.

Aku, Uteee dan Lia sudah masuk ke studio, kita bertiga mendapat kursi di jajaran depan dekat dengan layar bioskop. Kursi di studio hampir terisi semua oleh penonton. Lampu studio mulai di gelapkan dan akhirnya aku bisa mulai menonton film 5cm. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Donny Dirgantoro berkisah tentang persahabatan 5 anak muda dengan segala keunikan masing-masing, mereka adalah Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian. Mimpi mereka berlima adalah menaklukan puncak gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Mahameru.

Sejak awal pengenalan karakter seluruh penonton sudah dibuat tertawa. Hal-hal lucu ditampilkan dengan polos dan tidak ada kesan dibuat-buat. Kehadiran para pemain muda seperti Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, dan Denny Sumargo menjadi daya tarik dari film yang disutradari oleh Rizal Mantovani ini. Selain itu film 5cm mulai tayang di bioskop di tanggal cantik 12.12.2012.

Genta merasa persahabatan mereka selama ini hanya begitu-begitu saja. Ia mengusulkan untuk tidak bertemu dan menghentikan komunikasi antara mereka berlima selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, mereka berlima akan bertemu di sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Genta menjanjikan ini akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan selama hidup. Dari sinilah mimpi untuk menaklukan puncak gunung tertinggi di Jawa dimulai.

Pendakian demi pendakian membawa mereka berlima pada tantangan terakhir menaklukan puncak gunung Mahameru. Suasana romantis berubah menjadi ketegangan, aku bisa melihat itu dari raut muka Uteee dan Lia. Dikuatkan oleh scoring musik yang menegangkan. Arial merasa tidak sanggup lagi menuju ke puncak karena kedinginan, Ian terus berusaha mendaki,. Tiba-tiba banyak bebatuan dari puncak jatuh ke bawah. Dinda terjatuh, telinganya terluka dan Ian tidak sadarkan diri. Mata Lia dibanjiri air mata karena sedih dan khawatir Ian akan mati. Uteee juga mulai meneteskan air mata tapi tidak dengan aku. Ian terus dibangunkan, keempat sahabatnya tidak ingin ia mati. Ian akhirnya bisa kembali sadar, mereka berlima berhasil mewujudkan mimpi menaklukan puncak gunung Mahameru di tanggal 17 Agustus.

Seandainya tadi sebelum menonton Uteee dan Lia tidak membeli minuman air mata kucing mereka berdua tentu tidak harus menangisi lelaki bernama Ian yang matinya hanya pura-pura. Aku bangga bisa tinggal di Indonesia karena keindahan alamnya. Film 5cm mengajarkan untuk percaya pada kekuatan mimpi, persahabatan, dan cinta.

Kamis, 27 Desember 2012

Belajar Keaktoran Bersama Andika Akbar

Kamis, 27 Desember 2012
Aku punya seorang teman namanya Andika Akbar dia adalah mahasiswa jurusan Teknik Elektro. Selain kuliah di jurusan tersebut dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu Koperasi Mahasiswa (KOPMA) dan Teater Awal nama sebuah teater di kampusku. Hari kemarin aku bertemu dengannya di Asrama Dua Saudara, dalam keseharian Dika tampil apa adanya. Aku duduk di sebuah kursi lalu ia mendekatiku dengan santai.

“Dan, punya rokok gak?” pertanyaan itu dilemparkannya padaku.

Aku tersenyum dan bilang kalau aku tidak punya. Dika mulai mengeluarkan pesonanya sebagai lelaki yaitu senyuman menawannya. Suanana Asrama Dua Saudara ketika itu sepi karena para penghuni kamar No. 11 dan 12 sedang pergi menonton film “Kingdom of Heaven” di Museum Konfrensi Asia Afrika. Ia menceritakan tentang kepedihan hatinya padaku. Belum lama berhubungan, pacarnya sudah meminta untuk putus itu pun melalui pesan pendek. Aku bisa merasakan kepedihannya,  terlihat dari sedikit kata yang terucap darinya. Hatinya pasti tersayat luka dan bertabur air mata.

Tidak usah membahas lebih jauh lagi, biarkan luka yang membekas itu hilang dengan sendirinya. Aku punya keinginan besar untuk belajar teater kepada Dika temanku Aad juga begitu. Kita berdua hari ini akan mendapatkan sedikit pengenalan tentang teater dari salah satu aktor teater awal. Dika memintaku dan Aad untuk masuk ke dalam. Ucok teman dekat Aad ikut bergabung bersama kami bertiga di klinik teater sore itu. Pengenalan teater mulai dari sejarah mulai dikenalkan kepada kita bertiga. Dilanjutkan dengan 10 elemen yang harus ada dalam sebuah pertunjukan dan terakhir 4 unsur keaktoran dalam dunia teater.

Selama klinik keaktoran berlangsung tak hentinya secangkir kopi susu aku teguk sedangkan Dika setelah penjelasan selesai mulai menyebarkan asap dari sebatang rokok miliknya. Dari hasil catatanku, 4 unsur keaktoran diantaranya olah tubuh, olah vokal, olah mimik dan olah sukma. Agar bisa dimengerti Dika memberikan contoh dengan mempraktekannya dan kita bertiga mengikuti misalnya olah vokal mengucapkan huruf A, I, U, E, O dengan jelas mulai dari tempo pelan sampai paling cepat. Olah sukma adalah ditingkatan terakhir karena ini merupakan pamungkas dan berkaitan dengan latihan fokus.

Pada waktu prakter Dika bilang kita bertiga masih kalah oleh anak SMA yang diajarkannya. Apabila keempat unsur itu sudah bisa dikuasai dengan baik maka semuanya bisa mudah termasuk dalam mengolah akting, presentasi di hadapan dosen dan menghadapi jutaan penonton.

“Ini masih awal belum sampai tingkat 1% sama sekali,” ujarnya.

Selesai klinik keaktroan, kita bertiga diberikan tugas untuk mengulang kembali materi hari ini. Biasakan sesudah bangun pagi sebelum jam 6 untuk bergumam sebagai latihan olah vokal. Mulai untuk mengucapkan huruf vokal dengan jelas. Apa yang aku ingat dari Dika adalah ketika muka kita mulai terasa kaku lakukanlah olah mimik “hancurkan mukanya sekarang”. Siapa pun bisa mencobanya dan jangan pernah ragu.

Selasa, 25 Desember 2012

Kematian

Belum hilang dari ingatanku waktu hari kemarin paman masih mengenali satu persatu wajah saudara yang berkumpul pada waktu itu. Kondisinya belum juga membaik kedua kakinya bengkak seperti disengat jutaan lebah. Tubuhnya lemas dan sedikit kesulitan dalam hal bicara. Ayahku duduk disampingnya, memberikan semangat dan harapan kalau penyakitnya bisa sembuh. Kedua mata pamanku terus memandang ke arah jaket hitam yang digunakan oleh ayah. Sepertinya jaket itu begitu menggugah dirinya sampai-sampai mulutnya tertatih untuk mengucapkan sesuatu.

"A cing abdi hoyong nyobian jaket teh," katanya pada ayahku.

Ayah melepas jaket hitamnya perlahan-lahan lalu setelah menanggalkan dari tubuhnya, ia membantu memakaikan jaket itu di tubuh paman.Aku menyaksikan belaian kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Wajah paman terlihat bahagia setelah mengenakan jaket hitam milik ayah. Sesuai kesepakatan seluruh keluarga pada hari Senin paman akan dibawa berobat ke rumah sakit di Bandung. Rumah sakit di tempat pamanku tinggal sudah tidak sanggup lagi menangani penyakitnya.

Selama sakit istri pamanku setia merawat, tidak pernah terpancar sama sekali keluhan dari wajah cantiknya. Tiada hari tanpa cinta dan kobaran semangat dari istrinya. Waktu sudah mulai sore, hari esok ayah harus bekerja kembali. Dengan berat hati aku, adik perempuanku dan ayah berpamitan pergi meninggalkan paman. Senyum kesedihan tampak jelas di wajah pamanku. Sebelum pergi satu persatu dari kita diberinya senyuman, aku tahu paman ingin kembali sehat dan tidak lagi merepotkan orang lain.

Kita bertiga sudah sampai rumah, ayah berharap dengan membawa paman berobat ke Bandung kondisinya bisa lebih baik. Setidaknya kakinya tidak bengkak lagi dan buang air kecil bisa lancar. Hari Senin ini, aku pergi meninggalkan rumah menuju ke kampus. Kabar dari bibiku paman akan berangkat ke Bandung di waktu siang.

Selasa siang ayah meneleponku, katanya paman sudah ada di Bandung. Ia belum dirawat dirumah sakit sekarang masih tinggal dirumah om Kudus. Rumah sakit advent di Bandung harganya terbilang mahal dan tidak bisa menggunakan kartu Askes. Untuk itu paman akan dirawat di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. kata ayah mengakhiri percakapan singkatnya denganku. Ayahku berpesan untuk menyempatkan diri menengok paman di rumah sakit.

Melihat cuaca yang begitu cerah, siang menjelang sore aku pulang ke rumah. Siang terasa menyengat kulitku ditambah polusi dari asap kendaraan bermotor dan debu jalanan. Perjalananku terasa cepat, kini aku sudah sampai ke rumah disambut senyum rindu dari ibuku. Ayah tidak pulang hari itu karena sedang menjaga paman di rumah sakit. Aku mengobati kelelahanku hari ini dengan tidur. Selamat merajut mimpi kataku berucap dalam hati.

Tidur itu sebuah kenikmatan tidak berasa. Jangan pernah membawa banyak pikiran ketika tidur kelak itu bisa membangunkanmu. Malam sudah habis dan mulai terasa kenikmatan pagi biasanya menjelang subuh ibu sudah membangunkanku. Tiba-tiba ada suara menghentak tangga rumahku. Apakah ini sebuah pertanda sesuatu sedangkan tubuhku masih terlentang bebas di atas kasur.

"Aa bangun si mang cepi meninggal," kata-kata itu kelar dengan cepat dan jelas dari suara yang aku kenali.

Seketika aku terperanjat dan kaget mendengar kabar itu. Seakan masih tak percaya tapi tidak mungkin itu sebuah pesan kebohongan mulutnya mengalir mengucapkan kata "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," kataku.

Hari Kamis pagi keluargaku diselimuti oleh duka mendalam atas meninggalknya paman. Dalam sadarku aku bertanya, Tuhan mengapa kau panggil pamanku begitu cepat?. Aku, adik perempuanku dan ibu bergegas meninggalkan Bandung dengan membawa pakaian ganti secukupnya. Kami bertiga berharap semoga paman belum menyatu bersama tanah di liang kubur.

Suasana duka pekat terasa ketika kami bertiga sampai di rumah paman. Ada tangis dan haru dari setiap wajah saudaraku dan warga sekitar kampung yang melayat. Aku mendekat ke tempat pemandian jenazah, aku melihat wajah paman pucat dan matanya terpejam tenang. Kesedihan mendalam tentu saja sedang dirasakan oleh bibi dan anak mereka berdua yang ditinggalkan.Paman dan bibi dikaruniai tiga orang anak dua orang lelaki dan satu orang perempuan.

Selesai dimandikan jenazah pamanku dibawa masuk ke rumah. Sekujur tubuhnya mulai dipasangkan kain kafan putih. Air mata kesedihan di tempat itu belum juga mengering semua mencoba untuk tabah dan berserah diri pada Tuhan. Jenazah paman sudah harum wewangian surga selanjutnya siap untuk di shalatkan.

Keranda jenazah diangkat oleh beberapa warga, paman akan dimakamkan di tanah dekat rumahnya. Aku dan saudara lainnya berada di barisan depan mengiringi jenazah ke tempat pemakanan. Doa demi doa terus dipanjatkan semoga semua amal ibadah pamanku diterima di sisi Tuhan pemilik alam semesta. Paman berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali juga ke asal. Inilah kematian tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan datangnya semua hanya menjadi rahasia Tuhan.

Selasa, 04 Desember 2012

Proses Lahirnya Jurnalis Kampus Baru

Motorku berhenti di depan rumah yang dari luar terlihat biasa dan bentuknya sama seperti rumah lainnya. Halaman rumah itu banyak ditumbuhi oleh pepohonan, ada yang bentuknya besar dan kecil. Dibawahnya rerumputan hijau tumbuh subur. Beberapa motor terparkir tidak sejajar di garasi luar. Pintu masuk terbuka lebar membebaskan angin keluar masuk tanpa permisi. Aku mulai menginjakan kaki di lantai yang terbuat dari kayu. Salah satu alumni SUAKA yang ingin aku temui yaitu Ahmad Yunus terlihat masih duduk sambil berceloteh bersama Miko, Wicak, dan Nasrul. Dia adalah seorang jurnalis yang pernah berkeliling Indonesia dengan menggunakan motor bersama Farid Gaban. Hasil dari perjalanannya ditulis dalam buku “Meraba Indonesia”. Buku ini kental dengan gaya penulisan jurnalisme sastrawi.

Aku melihat ada tangga di dekat kamar, itu artinya rumah ini memiliki dua lantai. Titian demi titian tangga membawaku pada pemandangan penuh sesak. Tapi, dibalik kesesakan itu terpecik semangat baru. Para calon anggota baru SUAKA hening menyimak pemaparan materi kejurnalistikan. Dimulai dari kemarin sampai hari ini berlangsung Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) tahun 2012. Setelah materi berakhir para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya tentang apa yang masih belum dimengerti dan ingin diketahui lebih jauh. PJMTD merupakan langkah awal bagi calon jurnalis kampus sebelum bergelut langsung di lapangan.

Pada waktu sore para peserta PJMTD 2012 mendapatkan materi tentang teknik wawancara dari Enjang Muhaemin, dosen yang mengajar di jurusan Jurnalistik. Malam harinya ada simulasi wawancara. Isu yang diangkat telah ditentukan oleh panitia. Narasumber yang akan diwawancara oleh para peserta adalah para panitianya sendiri. Hasil dari wawancara harus ditulis dalam bentuk berita atau bisa juga feature.

Koran, majalah, kertas karton, kertas warna-warni, gunting, pisau lipat, dan lem kertas. Semua itu adalah alat bagi para peserta untuk membuat sebuah media. Malam hari para pementor dari panitia satu persatu membimbing dalm hal pembuatan media. Aku datang mengamati setiap peserta sambil meminum teh manis hangat di gelas plastik. Sebuah media bisa selesai tepat pada waktunya kalau dikerjakan bersama-sama. Maka dari itu harus ada pembagian tugas misalnya satu orang menulis ulang berita, satu lagi menggunting karton dan satu lagi menempelkan materi yang sudah selesai dipilih. Dengan begitu ketika medianya selesai dikerjakan ada kepuasan tersendiri dari setiap anggota kelompok.

Sekarang sedang berlangsung presentasi media dari setiap kelompok secara bergiliran. Penilaian media dipercayakan pada alumni dan senior SUAKA yaitu Jawa, Iqmah dan Ozan. Media yang telah selesai dibuat beragam bentuknya ada yang membuat dalam bentuk tabloid, majalah dan buletin. Nama medianya sendiri beragam dan punya karakteristik tersendiri.

Pemandangan Cilengkrang di waktu malam membuatku terpana. Gemerlap keindahan kota terpancar di tengah gelap. Semua pemandangan malam tertangkap dari tempatku berdiri. Tidak terasa presentasi media sudah selesai. Saatnya untuk menjalin kedekatan antara panitia dan peserta. Acara tukar menukar hadiah menjadi satu momen penting bagi para peserta. Nirra sebagai pembawa acara memberikan cara menukar hadiah yang berbeda kepada setiap peserta.

Beberapa jam tersisa mataku terpejam di lantai beralaskan karpet. Hari esok para jurnalis kampus baru akan lahir dari hasil pelatihan hari ini dan kemarin. Pasar Minggu di Manglayang menjadi tempat pertama untuk mendapatkan berita secara langsung di lapangan. Setelah jurnalis kampus baru lahir tantangan sebenarnya ada di depan mata. Siapkah mereka untuk terus memberitakan kebenaran?

Minggu, 02 Desember 2012

Desember

Laju waktu perharinya terhenti pada angka dua puluh empat. Bulan tetaplah berjumlah dua belas tidak bisa bertambah menjadi lebih. Desember sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi bulan penutup. Hujan masih setia datang setiap hari atau selang beberapa hari menuntaskan kerinduan akan kesejukan di setiap tetesannya. Semester adalah kerangka kehidupan mahasiswa yang terancang dengan apik. Mata kuliah dan SKS berujung pada pertemuan di lembah IP. Menyelami setiap semester membuat waktu merekam banyak ingatan. Memasuki masa akhir, menemui dosen tidak lagi di kelas tapi bisa dimana saja. Sidang demi sidang menjadi momok demi sebuah kelulusan dan gelar. 

Coba perhatikan hujan, kedatangannya tidak pernah disangka-sangka. Aku sering merasakan gerimis kala siang merasa lelah karena terbakar panas matahari yang menyengat. Mendekati tahun 2013 dan 2014 kursi jabatan dari Gubernur sampai orang nomor satu Indonesia banyak diburu. Berbagai kalangan muncul sebagai seseorang yang menawarkan perubahan. Tanpa menunggu komando, partai-partai politik sudah pintar memoles rasa manis dan menaburkan janji-janji lewat iklan di televisi. Tidak ada lagi kepercayaan masyarakat kepada para pemimpin mereka karena belum ada untaian-untaian masalah yang bisa diselesaikan dengan baik.

Masih ingatkah dirimu padaku saat kita pertama kali bertemu di sebuah lorong gelap tanpa lampu. Aku ingin mengajarimu mengupas buah mangga dengan baik. Aku tidak ingin pisau tajam itu melukai tangan mungilmu yang halus. Rasa manismu tertuang pada secangkir teh, aku menenguknya setiap pagi atau kala senja mulai menampakan diri. Lepaskanlah rasa takutmu dan perihara rasa cinta itu. Temui diriku kapan pun dirimu merinduiku.

Desember bangkit dan berjuang. Membuat karya segila adalah caraku keluar dari jeratan ketidakpastian. Tindakan besar tidak bisa ditunda-tunda menulislah demi perubahan nyata.