Saat loe punya temen yang ganteng pintar-pintarlah untuk menempatkannya pada posisi yang tepat terutamanya saat loe harus berada di tengah kerumunan cewek cantik. Kenapa gue bilang gitu? Soalnya mau segimana gede usaha loe, cewek-cewek itu pasti lebih tertarik buat cari perhatian dan kenalan sama temen cowok loe yang ganteng. Kalau loe belum merasa ganteng itu artinya nasibnya sama kayak gue. Gue punya temen namanya Bayu, orangnya ganteng, kulitnya putih, rapih dan wangi. Kurangnya cuma satu sih, dia sering banget ngelucu yang ngebuat tingkat kegantengannya menurun, itu menurut gue. Misalnya “Sebentar ya, saya mau ke WC dulu takut ee di celana.” Buat cowok ganteng gak perlu kan kalau ke WC itu dijelasin mau ngapainnya.
Bayu kebeneran harus dipertemukan bareng gue di sebuah organisasi kampus namanya SUAKA. Seberapa gantengnya seseorang belum tentu bisa terbebas dari bencana patah hati. Seringkali Bayu ngalamin patah hati, gue dapet kabarnya dari temen yang telah menderita syndrom kepo sejak lama. Darisana gue ngambil kesimpulan jadi ganteng itu gak selamanya menyenangkan.
Tapi, semua itu berubah ketika Bayu terpilih jadi Pimpinan Umum di organisasi gue. Kegantengannya kini punya daya jual. Waktu dia ngomong semua anggota fokus dan hening karena gue yakin bukan omongannya yang didengerin. Tapi, terpesona sama kemilau wajahnya yang ganteng. Gue punya temen yang nasibnya sama namanya Ozan. Kita berdua sering kehabisan kesempatan buat kenalan sama cewek karena banyak yang lebih memilih kenalan sama Bayu. Puncak-puncaknya pas waktu peresmian FKPMB dimana banyak cewek-cewek yang dateng. Waktu itu Bayu dateng dengan gayanya yang casual, baju kotak-kotak dan celana levis. Dari jauh banyak cewek dan juga cowok yang bertanya-tanya itu siapa sih? Gue dan Ozan yang kenal baik sama cowok itu langsung aja ngejawab tanpa perlu disuruh “Itu Pimpinan Umum SUAKA yang baru” kata kita berdua sambil coba tebar pesona. Perih rasanya respon yang dateng dari cewek-cewek itu cuma kata “Ohhhhhh”
Selesai gue ngasih tahu, tiba-tiba aja cewek-cewek yang tadinya pada ngumpul langsung ngedeketin Bayu ada magnet apa mereka kesana. Kejadian itu ngebuat gue dan Ozan kehilangan keperjakaan. Untungnya kita berdua belum jadi operasi plastik buat ngerubah muka jadi ganteng.
“Ini sama Bayu ya Pimpinan Umum SUAKA yang baru,” kata cewek-cewek itu. Bayu ngebales mereka sambil ngeluarin jurus senyumannya. “Iya, saya Bayu Pimpinan Umum SUAKA yang baru,” katanya.
Buat menarik perhatian lawan jenis cewek gak kalah pintar sama cowok. Habis kenalan sama Bayu salah seorang cewek ada yang ngajak foto bareng “Eh Bayu bisa foto bareng gak sama kita.” katanya genit. Nggak tahu kenapa waktu itu Bayu gak ngasih respon sama sekali, cuma kata “sebentar” yang terus-terusan keluar dari mulutnya. Gue dan Ozan bingung harus berbuat apa. Gue coba bujuk dia supaya mau foto bareng sama tiga cewek itu. Bujukan gue belum berhasi, Bayu terlihat sibuk dengan handphonenya dan mencoba keluar dari situasi ini. Pada akhirnya nggak ada seorangpun cewek yang berhasil foto bareng sama Bayu.
Gue berdua dateng ke Bayu buat nanyain, kenapa tadi nggak mau foto bareng sama mereka? Bayu ngejawab “Nggak mau ah malu” katanya. Dalem hati gue bilang “ada juga ya cowok ganteng yang masih malu-malu. Gimana kalau dia nggak ganteng?”
Dari semua kejadian yang pernah terjadi, gue suka ngambil kesimpulan penting. Kejadian waktu itu ngebuat gue dan Ozan sadar betapa pentingnya buat pergi kemana-mana tanpa harus ada Bayu. Seandainya dia ada kesempatan kita berdua buat kenalan dan bisa ngedapetin nomer handphone cewek cantik semakin sulit. Tempatkanlah kegantengan itu pada tempatnya cuma itu solusinya.
Jumat, 07 September 2012
Rabu, 05 September 2012
Pengalaman Menjadi Youth Leader di Konser MTV EXIT
Intro lagu “ Muda dan Berani” dari Speaker First di waktu sore menemaniku untuk membuat laporan Konser MTV EXIT Stop Human Trafficking ini. Tepatnya pada hari Sabtu, aku berhasil menembus jalanan dengan cepat memberanikan diriku untuk menjadi yang terdepan di jalanan ketika itu. Aku sudah sampai di lapangan Gasibu, disana berdiri panggung yang megah. Semangat dari sekumpulan anak muda yang ingin menonton konser MTV EXIT telah merasuk pada jiwaku. Gate masih belum dibuka penjagaan dari security begitu ketat. Bagi siapapun yang ingin masuk harus menunjukan id cardnya. Aku masuk lewat pintu belakang dan langsung bergabung dengan anggota MTV EXIT Youth Leader yang sudah datang terlebih dahulu.
Sebelum gate di buka ada briefing terlebih dahulu, kami bagi-bagi tugas untuk menjadi setiap sudut yang nantinya akan dipadati oleh ribuan orang yang datang bukan hanya dari Bandung tapi daerah laiinya juga. Aku mendapat kesempatan untuk menjaga stage di paling depan sebelah kanan. Tugas dari Youth Leader adalah menyampaikan pesan tentang apa itu perdagangan manusia dan membagi-bagikan gelang ungu. Gate telah dibuka satu persatu pengunjung yang kebanyakan dari anak muda mulai memadati lapangan Gasibu. Gaya mereka beragam ada yang datang dengan kaos hitam, baju kemeja kotak-kota, kaos dipadukan jaket, dll. Satu persatu anggota Youth Leader mulai menyapa pengunjung termasuk juga aku. Terkadang ada juga pengunjung yang sengaja datang untuk meminta gelang. Saat ditanya tentang apa itu Human Trafficking? Sebagian sudah ada yang tahu dan mengerti sebagian lagi ada yang baru mengetahui dan mengdengar lewat penjelasan dari kami. Gelang ungu habis lebih cepat karena banyaknya permintaan.
Satu persatu band pengisi acara mulai naik ke panggung MTV EXIT. Ketika ditanya band apa yang paling ditunggu? Kebanyakan jawaban yang keluar dari pengunjung asal Bandung adalah ROSEMARY. Bukan hanya ROSEMARY yang akan tampil ada juga Speaker First, Glory of Love, D’Masiv, The Changcuters, Bondan Prakoso feat Fade 2 Black, Winner, Pas Band dan band indie asal Australia Xpatriate. Walau konser MTV EXIT gratis banyak dari pengunjung yang belum mendapat tiket sehingga harus menontonnya dari luar. Selain sajian musik ada juga berbagai macam stand yang memberikan banyak pengetahuan tentang apa itu perdagangan manusia dan bagaimana cara menanggulanginya. Dari Bandung sendiri ada stand kreatif dari Bandung Creative City Forum (BCCF), Komunitas Air Foto Network, dan BULB (Barudak Urban Light Bandung).
Dari sekian banyak pengunjung di lapangan Gasibu, aku menemukan banyak dari temanku yang datang ke konser. Salman, Dody, Aad dan Ucok datang lebih awal diwaktu sore. Selanjutnya menyusul Miko Alonso, wartawan Bisnis Indonesia ditemani pacarnya Nabila. Rangga ada ditengah-tengah kerumunan penonton konser datang menanyakan kabar diriku dan ia sedikit bercerita tentang pacarnya Ifuu. Puncaknya pada saat sekumpulan mahasiswa tingkat akhir datang Ozan bersama Elia, Haveuk, Lette, Karyo, Fadil dan teman wanitanya. Gelang ungu yang masih tersisa aku bagikan kepada mereka.
Panggung yang megah, suara sound yang memuaskan ditambah percahayaan luar biasa menambah semarak konser MTV EXIT apalagi ditambah dengan ROSEMARY yang sekarang sudah ada dipanggung. Lagu “Heroes” membuka penampilan dari mereka. Penonton konser seketika larut dalam alunan lagu, bernyanyi dan bergoyang bersama. Band pop punk ini menyampaikan pesan untuk menghentikan perdangan manusia “Daripada jualan manusia mendingan oge jualan seblak jeung cireng” kata Ink
Konser berjalan dengan damai tidak ada kerusuhan karena pengamanan begitu ketat. Band asal Australia Xpatriate mendapat sedikit respon dari penonton karena nama dan lagu mereka masih asih di kalangan pendengar musik di Bandung. Sudah saatnya pulang karena tidak ada lagi band yang harus aku tonton. Menjadi Youth Leader merupakan sebuah pengalaman berharga. Aku, Bayu, dan Hardi yang terpilih dari kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jangan lagi ada dari Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia. Masih banyak peluang kerja atau menciptakan pekerjaan di Indonesia, jadi buat apa harus pergi ke luar negeri. Sadarlah manusia bukan untuk diperjual belikan. Stop Human Trafficking.
Sebelum gate di buka ada briefing terlebih dahulu, kami bagi-bagi tugas untuk menjadi setiap sudut yang nantinya akan dipadati oleh ribuan orang yang datang bukan hanya dari Bandung tapi daerah laiinya juga. Aku mendapat kesempatan untuk menjaga stage di paling depan sebelah kanan. Tugas dari Youth Leader adalah menyampaikan pesan tentang apa itu perdagangan manusia dan membagi-bagikan gelang ungu. Gate telah dibuka satu persatu pengunjung yang kebanyakan dari anak muda mulai memadati lapangan Gasibu. Gaya mereka beragam ada yang datang dengan kaos hitam, baju kemeja kotak-kota, kaos dipadukan jaket, dll. Satu persatu anggota Youth Leader mulai menyapa pengunjung termasuk juga aku. Terkadang ada juga pengunjung yang sengaja datang untuk meminta gelang. Saat ditanya tentang apa itu Human Trafficking? Sebagian sudah ada yang tahu dan mengerti sebagian lagi ada yang baru mengetahui dan mengdengar lewat penjelasan dari kami. Gelang ungu habis lebih cepat karena banyaknya permintaan.
Satu persatu band pengisi acara mulai naik ke panggung MTV EXIT. Ketika ditanya band apa yang paling ditunggu? Kebanyakan jawaban yang keluar dari pengunjung asal Bandung adalah ROSEMARY. Bukan hanya ROSEMARY yang akan tampil ada juga Speaker First, Glory of Love, D’Masiv, The Changcuters, Bondan Prakoso feat Fade 2 Black, Winner, Pas Band dan band indie asal Australia Xpatriate. Walau konser MTV EXIT gratis banyak dari pengunjung yang belum mendapat tiket sehingga harus menontonnya dari luar. Selain sajian musik ada juga berbagai macam stand yang memberikan banyak pengetahuan tentang apa itu perdagangan manusia dan bagaimana cara menanggulanginya. Dari Bandung sendiri ada stand kreatif dari Bandung Creative City Forum (BCCF), Komunitas Air Foto Network, dan BULB (Barudak Urban Light Bandung).
Dari sekian banyak pengunjung di lapangan Gasibu, aku menemukan banyak dari temanku yang datang ke konser. Salman, Dody, Aad dan Ucok datang lebih awal diwaktu sore. Selanjutnya menyusul Miko Alonso, wartawan Bisnis Indonesia ditemani pacarnya Nabila. Rangga ada ditengah-tengah kerumunan penonton konser datang menanyakan kabar diriku dan ia sedikit bercerita tentang pacarnya Ifuu. Puncaknya pada saat sekumpulan mahasiswa tingkat akhir datang Ozan bersama Elia, Haveuk, Lette, Karyo, Fadil dan teman wanitanya. Gelang ungu yang masih tersisa aku bagikan kepada mereka.
Panggung yang megah, suara sound yang memuaskan ditambah percahayaan luar biasa menambah semarak konser MTV EXIT apalagi ditambah dengan ROSEMARY yang sekarang sudah ada dipanggung. Lagu “Heroes” membuka penampilan dari mereka. Penonton konser seketika larut dalam alunan lagu, bernyanyi dan bergoyang bersama. Band pop punk ini menyampaikan pesan untuk menghentikan perdangan manusia “Daripada jualan manusia mendingan oge jualan seblak jeung cireng” kata Ink
Konser berjalan dengan damai tidak ada kerusuhan karena pengamanan begitu ketat. Band asal Australia Xpatriate mendapat sedikit respon dari penonton karena nama dan lagu mereka masih asih di kalangan pendengar musik di Bandung. Sudah saatnya pulang karena tidak ada lagi band yang harus aku tonton. Menjadi Youth Leader merupakan sebuah pengalaman berharga. Aku, Bayu, dan Hardi yang terpilih dari kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jangan lagi ada dari Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia. Masih banyak peluang kerja atau menciptakan pekerjaan di Indonesia, jadi buat apa harus pergi ke luar negeri. Sadarlah manusia bukan untuk diperjual belikan. Stop Human Trafficking.
Jumat, 31 Agustus 2012
Stop Human Trafficking Campaign at Taman Cempaka Bandung
Kampanye MTV EXIT Stop Human Trafficking kedua kalinya digelar pada hari Kamis (29/08) di Taman Cempaka Bandung, sebuah taman yang letaknya berdekatan dengan Taman Pramuka.Sejumlah anak muda dan komunitas-komunitas kreatif di Bandung sudah berkumpul sejak sore hari. Acara berlangsung sampai malam dengan berbagai macam kolaborasi yang unik seperti kolaborasi shuffle dance dan BULB Bandung, live graffiti dari BULB, Levitasi, dan yang tidak kalah menarik ada penampilan firewok dance. Waktu kemarin juga ada bagi-bagi tiket gratis Konser MTV EXIT Stop Human Trafficking hari Sabtu di Lapangan Gasibu Bandung oleh 50 orang youth leader.
Rabu, 15 Agustus 2012
Betapa Beruntungnya Diriku
“Halo kaka :) aku lg di kebun loh, ada acra bukber sm anak” jalanan. Trharu :(” tertulis jelas di depan layar handphoneku sms itu datang dari Anisa Isti, biasanya dibalik sebuah sms ada sesuatu yang ingin disampaikan. Aku biasa memanggilnya Isti, dia mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia lebih dikenal UPI. Ketertarikan besarnya terhadap dunia sastra membuat Isti banyak menyukai kegiatan-kegiatan sastra di Bandung. Satu jam sudah aku melewatinya bersama Ucay. Sudah tidak terhitung berapa makanan yang aku habiskan di Angkringan Magelang. Percayalah betapa intimnya kita berdua. Mengapa tidak ada satupun anggota pers mahasiswa yang berani untuk bergabung?
“Aku juga lagi di ITB, aku kesana ya. Udah pulang belum?” sms balasan itu aku kirim.
Selamat tinggal angkringan, aku pergi menjauh meninggalkan jalan Ganesa menuju Kebun Seni. Dari kejauhan sudah terdengar bebunyian lain belum bisa ditebak darimana bunyi itu berasal. Saat sampai di Kebun Seni puluhan anak jalanan sudah duduk tidak beraturan di depan dan belakang panggung diterangi lampu seadanya. Lelaki kesepian sepertiku jarang sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan wanita. Tapi lain dengan malam ini. Rasa-rasanya sepi itu telah menjauh ditelan malam. Isti masih mencari-cari keberadaanku dimana? Dari depan panggung menuju ke belakang. Berjalan manis mencariku. Terima kasih Tuhan kita berdua sudah dipertemukan.
Saat berkenalan dengan Anisa Isti logat sundanya melekat pekat. Sulit untuk melupakan wajah semanis ini. Tiada warna hijau seindah baju dan kerudung yang dipakainya. Obrolan demi obrolan tak hentinya mengalir. Jika wanita ingin mendapat perhatian maka lelakilah orang yang tepat untuk memberi perhatian itu. Aku sengaja datang dengan membawa susu wedang jahe untuknya. Sungguh senyumnya semakin manis. Sebenarnya masih ada yang ingin kuberikan yaitu jaket sebagai pengusir rasa dingin. Sepertinya itu terlalu cepat di awal-awal masa perkenalan.
Kata Isti anak-anak jalanan ini datang sekitar pukul 17.00 dengan membawa bendera. Ada nama lain yang baru aku tahu tentang Anisa Isti, teman-teman di Kebun Seni biasanya memanggilnya Cha. Anak-anak jalanan di Kebun Seni menunjukan kreasi seninya diatas panggung mulai dari menyanyi, menari sampai membaca puisi. Mereka datang dari daerah Sudirman, Dewi Sartika dan Pasir Kaliki. Aku menikmati setiap serangan pertanyaan dan senyuman darinya.
Cha membuatku merasa nyaman. Sebuah keberuntungan buatku bisa berdiri disampingnya menikmati aroma malam dan nyanyian anak-anak jalanan. Dia ingin sekali membeli buku-buku sastra mulai dari novel Promoedya Ananta Toer, kumpulan catatan pinggir Goenawan Mohamad. Bahasanya sulit dimengerti memang yang terpenting terus membacanya itu katanya. Satu lagi buku dari Putu Wijaya. Sastra sudah akrab sejak Cha SMA kegemarannya menulis puisi berlanjut sampai masuk kuliah di UPI.
“Pas awal-awal sih ngerasa beda dari yang lain soalnya kan mereka habis kuliah biasanya jalan-jalan. Kalau aku sama Resti biasanya janjian di kantin buat ngebahas puisi.” Kata-kata itu mewakili perasaan hati dari wanita penyuka sastra yang berdiri tepat disampingku.
Terima kasih Cha atas keceriaan dan senyuman terindah darimu. Minumlah susu wedang jahe dariku supaya tubuhmu hangat. Tolong jangan larang aku menulis tentangmu. Mungkinkah hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman?
“Aku juga lagi di ITB, aku kesana ya. Udah pulang belum?” sms balasan itu aku kirim.
Selamat tinggal angkringan, aku pergi menjauh meninggalkan jalan Ganesa menuju Kebun Seni. Dari kejauhan sudah terdengar bebunyian lain belum bisa ditebak darimana bunyi itu berasal. Saat sampai di Kebun Seni puluhan anak jalanan sudah duduk tidak beraturan di depan dan belakang panggung diterangi lampu seadanya. Lelaki kesepian sepertiku jarang sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan wanita. Tapi lain dengan malam ini. Rasa-rasanya sepi itu telah menjauh ditelan malam. Isti masih mencari-cari keberadaanku dimana? Dari depan panggung menuju ke belakang. Berjalan manis mencariku. Terima kasih Tuhan kita berdua sudah dipertemukan.
Saat berkenalan dengan Anisa Isti logat sundanya melekat pekat. Sulit untuk melupakan wajah semanis ini. Tiada warna hijau seindah baju dan kerudung yang dipakainya. Obrolan demi obrolan tak hentinya mengalir. Jika wanita ingin mendapat perhatian maka lelakilah orang yang tepat untuk memberi perhatian itu. Aku sengaja datang dengan membawa susu wedang jahe untuknya. Sungguh senyumnya semakin manis. Sebenarnya masih ada yang ingin kuberikan yaitu jaket sebagai pengusir rasa dingin. Sepertinya itu terlalu cepat di awal-awal masa perkenalan.
Kata Isti anak-anak jalanan ini datang sekitar pukul 17.00 dengan membawa bendera. Ada nama lain yang baru aku tahu tentang Anisa Isti, teman-teman di Kebun Seni biasanya memanggilnya Cha. Anak-anak jalanan di Kebun Seni menunjukan kreasi seninya diatas panggung mulai dari menyanyi, menari sampai membaca puisi. Mereka datang dari daerah Sudirman, Dewi Sartika dan Pasir Kaliki. Aku menikmati setiap serangan pertanyaan dan senyuman darinya.
Cha membuatku merasa nyaman. Sebuah keberuntungan buatku bisa berdiri disampingnya menikmati aroma malam dan nyanyian anak-anak jalanan. Dia ingin sekali membeli buku-buku sastra mulai dari novel Promoedya Ananta Toer, kumpulan catatan pinggir Goenawan Mohamad. Bahasanya sulit dimengerti memang yang terpenting terus membacanya itu katanya. Satu lagi buku dari Putu Wijaya. Sastra sudah akrab sejak Cha SMA kegemarannya menulis puisi berlanjut sampai masuk kuliah di UPI.
“Pas awal-awal sih ngerasa beda dari yang lain soalnya kan mereka habis kuliah biasanya jalan-jalan. Kalau aku sama Resti biasanya janjian di kantin buat ngebahas puisi.” Kata-kata itu mewakili perasaan hati dari wanita penyuka sastra yang berdiri tepat disampingku.
Terima kasih Cha atas keceriaan dan senyuman terindah darimu. Minumlah susu wedang jahe dariku supaya tubuhmu hangat. Tolong jangan larang aku menulis tentangmu. Mungkinkah hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman?
Senin, 13 Agustus 2012
Buka Puasa Bersama FKPMB di Punclut
![]() |
| Kemacetan di Punclut menjelang buka puasa. Minggu (12/08). |
Karena kemarin ada acara buka bersama teman-teman dari Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) aku menunda kepulangan ke rumah. Ramadhan tinggal tersisa beberapa hari lagi sudah dipastikan jalanan di Bandung pasti macet terutama di hari Minggu. Aku, Ozan, Lette dan HVK berangkat dari kostan sekitar pukul 15.00 menuju kampus STIE Equitas untuk bertemu dengan Tiara. Perjalanan singkat telah membawa kami sampai di kampus Equitas, Ozan turun dari mobil untuk bertemu Tiara. Setelah bertemu Tiara belum ditentukan tempat mana yang akan kita kunjungi. Rencana awal di Punclut namun masih ada rasa ragu dari Ozan sedangkan Tiara sendiri sudah yakin. Maka diputuskan Punclut jadi tempat tujuan buka bersama FKPMB. Tiara langsung sibuk dengan menghubungi teman-teman yang lain yang dipastikan akan ikut kesana.
Belum lama Siti muncul dari kejauhan dan langsung naik ke dalam mobil. Dia adalah salah satu anggota dari ISOLA Pos yang baru pulang KKN dari Garut. Saat melewati jalan-jlaan strategis di Bandung seperti Gasibu dan Dago belum terasa sama sekali kemacetan. Mobil dan mobil masih bisa berjalan seperti biasa tanpa harus menunggu. Waktu adzan maghrib sudah semakin dekat, kita mulai memasuki daerah Ciumbeluit. Saat aku masih menunggu Isman, ada-ada saja kelakuan dari Lette dan HVK mereka yang duduk di jok paling belakang ke luar untuk mencari gorengan dan air minum. Perjalanan kembali dilanjutkan langit sudah mulai gerimis Isman masih ada diluar lalu masuk ke dalam mobil.
Laju mobil harus terhenti saat jalanan sudah dipenuhi oleh tumpukan mobil dan mobil. Jalan menuju Punclut mulai macet terlebih waktu buka puasa sebentar lagi. Keputusan tepat harus diambil, aku mengusulkan untuk buka puasa di warung yang ada didepan. Ozan memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang hampir dekat dengan jurang. Lahan itu memang bukan tempat yang tepat untuk parkir. Belum juga satu menit berselang sudah ada mobil lagi yang parkir disana mengikuti jejak kita. Jadi, kalau di Indonesia segala sesuatu harus ada yang mengawali. Kemacetan total semakin menjadi-jadi. Mobil dan motor sulit untuk bergerak sudah tidak ada ruang kosong lagi. Punclut sore itu macet total. Kita dan orang-orang yang ada disanalah yang jadi saksinya.
Nasi, ayam, tahu dan tempe ditambah sambel sudah tersaji dengan rapi di depan mataku. Alhamdulillah sudah adzan maghrib walau belum terdengar karena aku tahu itu dari twitter @infobandung dengan twitnya “Selamat berbuka puasa untuk warga Bandung dan sekitarnya” . “Kamu lebih percaya ke twitter daripada adzan maghrib,” kata Isman. Aku tersenyum sambil mulai minum segelas teh manis hangat. Lette dan HVK sudah sibuk dengan gorengannya. Prediksi mereka berdua tepat. Gorengan yang sudah dibeli jadi konsumsi kita semua. Kemacetan di Punclut jadi pemandangan pelengkap buka puasa.
Tidak perlu diceritakan seperti apa aku makan. Cukup bayangkan saja bagaimana nikmatnya makan nasi, ayam bakar, tahu-tempe dan sambal. Buka puasa bersama FKPM sore itu tidak lengkap yg tidak bisa datang diantaranya Gandjar Daun Djati, Aziz Birama UNIKOM, Pimen Jumpa, Teta Djatinangor, Ucayy Gema Suara, dll.
Selesai makan satu-persatu pers mahasiswa mulai menceritakan permasalahannya masing-masing. SUAKA misalnya yang sekarang sedang menggarap majalah tapi para anggota barunya tidak kuat untuk rapat berlama-lama. Suara Mahasiswa (SM) baru saja punya pimpinan umum yang baru namanya Ujang. Tidak lupa kelanjutan forum ini dibicarakan. FKPMB sekarang kehilangan sosok figur tidak seperti Gandjar. Sekjen FKPMB, Ucayy masih belum bisa merangkul anggota pers lain itu curhanan hati para senior FKPMB. Untuk website saja yang diusulan dari jauh-jauh hari belum sama sekali dibuat. Ozan bilang paling tidak gunakan layanan gratis dulu seperti blogspot lalu nanti baru dijadikan website. Aku sendiri merasa FKPMB sudah tidak berapi-api lagi. Setiap persma yang tegabung di forum terutama sekjen berperan besar untuk membuat api itu tetap menyala. Regenerasi harus tetap ada jangan biarkan ketika satu orang hilang semuanya menghilang.
Dari kejauhan terlihat cahaya lampu di kota Bandung sudah semakin terang, itu menunjukan malam semakin terasa gelap. Masih ada banyak mobil dan motor yang menuju Punclut. Aku bersama yang lainnya kembali pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada ketika pergi. Pasti ada cerita lain di hari esok bukan lagi tentang Punclut dan kemacetannya.
Sabtu, 11 Agustus 2012
Mesin-Mesin tak Bernyawa
Aku tidak suka memulai menulis dengan kata 'tapi', 'terkadang' dan kata-kata yang punya arti ketidakpastian. Jadi biarkan aku menempatkan kata yang pas di paragraf pertama ini. Pernahkan terpikir kenapa di bumi ini harus ada mesin, listrik dan teknologi? Semua jawaban pasti terpusat pada satu kata yaitu 'perubahan' gagasan perubahan tentu muncul dari orang-orang yang tidak ingin menjalani kehidupan yang sama secara terus menerus. Jika dulu orang-orang ingin berkomunikasi dengan teman, saudara, dan tetangga mereka biasanya bertatap muka di rumah atau tempat yang sudah dijanjikan. Berbeda dengan sekarang perkembangan teknologi yang pesat mempermudah jalur komunikasi lewat pesan pendek atau telepon genggam. Serba mudah hanya cukup menggerakan jari sambil memijit angka-angka atau nomor.
Perubahan demi perubahan terus terjadi. Manusia-manusia digital tidak perlu lagi bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ingin pergi ke suatu tempat cukup gunakan kendaraan bermotor bisa itu mobil atau motor. Ingin mengusir rasa lapar cukup memesan makanan siap saji yang diantar langsung ke tempat. Ingin menghubungi teman di luar kota tidak perlu lagi kesana cukup sms atau telepon dengan handphone. Semua hal tentang dunia bisa didapatkan lewat internet yang sudah mudah diakses dimana-mana. Jadi, apa lagi yang dirasa masih kurang?
Jika melihat apa yang terjadi di Indonesia kepemilikan barang-barang yang sekarang menjamur seperti BlackBerry, Handphone canggih, iPad, iPhone, dll menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Para produsen dari luar sana optimis negeri ini menjadi pasar yang empuk untuk memasarkan produk-produk mereka. Produk lokal tidak pernah sama sekali dilirik oleh pasar. Alasannya tentu karena banyaknya kekurangan dari produk itu. Permasalahan kemacetan terjadi karena kendaraan bermotor semakin banyak. Tidak ada undang-undang yang jelas. Tidak ada pembatasan produksi kendaraan. Jebakan kredit dengan tawaran manis di awal dan pahit di akhir menjadi straategi pemasaran ampuh. Masyarakat yang ingin mendapatkan gengsi banyak menjadi korbannya.
Alur kehidupan manusia sekarang tidak sepenuhnya diatur oleh jiwa masing-masing. Ada energi lain yang bisa mengubah kepribadian yaitu mesin-mesin tak bernyawa. Bayangkan tanpa ada perintah mobil dan motor rajin dirawat kadang jika sedikit tergores sedikit membuat hidup tidak tenang. Panggilan nyata sering dilupakan karena suara-suara bising dari telepon genggam. Berlama-lama menghabiskan waktu dengan handphone lebih menyenangkan daripada harus bertemu dengan teman. Ada apa sebenarnya? Apakah ini perubahan yang dimaksud!
Musuh yang sebenarnya sudah muncul ke permukaan. Mesin-mesin tak bernyawa mencoba mengambil sebagian dari nyawa manusia. Tujuan untuk mempermudah kehidupan telah meleset jauh. Memang tidak semua seperti itu merupakan sebuah alasan pembelaan. Manusia sudah bersahabat baik dengan mesin. Haruskan jalan perang dipilih jika perlu memusnahkannya. Silahkan memilih karena disini tidak ada paksaan sama sekali.
Perubahan demi perubahan terus terjadi. Manusia-manusia digital tidak perlu lagi bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ingin pergi ke suatu tempat cukup gunakan kendaraan bermotor bisa itu mobil atau motor. Ingin mengusir rasa lapar cukup memesan makanan siap saji yang diantar langsung ke tempat. Ingin menghubungi teman di luar kota tidak perlu lagi kesana cukup sms atau telepon dengan handphone. Semua hal tentang dunia bisa didapatkan lewat internet yang sudah mudah diakses dimana-mana. Jadi, apa lagi yang dirasa masih kurang?
Jika melihat apa yang terjadi di Indonesia kepemilikan barang-barang yang sekarang menjamur seperti BlackBerry, Handphone canggih, iPad, iPhone, dll menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Para produsen dari luar sana optimis negeri ini menjadi pasar yang empuk untuk memasarkan produk-produk mereka. Produk lokal tidak pernah sama sekali dilirik oleh pasar. Alasannya tentu karena banyaknya kekurangan dari produk itu. Permasalahan kemacetan terjadi karena kendaraan bermotor semakin banyak. Tidak ada undang-undang yang jelas. Tidak ada pembatasan produksi kendaraan. Jebakan kredit dengan tawaran manis di awal dan pahit di akhir menjadi straategi pemasaran ampuh. Masyarakat yang ingin mendapatkan gengsi banyak menjadi korbannya.
Alur kehidupan manusia sekarang tidak sepenuhnya diatur oleh jiwa masing-masing. Ada energi lain yang bisa mengubah kepribadian yaitu mesin-mesin tak bernyawa. Bayangkan tanpa ada perintah mobil dan motor rajin dirawat kadang jika sedikit tergores sedikit membuat hidup tidak tenang. Panggilan nyata sering dilupakan karena suara-suara bising dari telepon genggam. Berlama-lama menghabiskan waktu dengan handphone lebih menyenangkan daripada harus bertemu dengan teman. Ada apa sebenarnya? Apakah ini perubahan yang dimaksud!
Musuh yang sebenarnya sudah muncul ke permukaan. Mesin-mesin tak bernyawa mencoba mengambil sebagian dari nyawa manusia. Tujuan untuk mempermudah kehidupan telah meleset jauh. Memang tidak semua seperti itu merupakan sebuah alasan pembelaan. Manusia sudah bersahabat baik dengan mesin. Haruskan jalan perang dipilih jika perlu memusnahkannya. Silahkan memilih karena disini tidak ada paksaan sama sekali.
Jumat, 03 Agustus 2012
Proses Panjang Demi Sebuah Kualitas
Waktu telah membawaku sampai menuju bulan Agustus bertepatan juga dengan bulan Ramadhan. Tiada hentinya aku berusaha untuk menemukan judul skripsi dengan berbagai cara. Mulai dari pergi ke perpustakaan, membaca artikel dan mengobrol bersama teman. Pada waktu pagi, aku datang ke kantor jurusan untuk daftar Semester Pendek mata kuliah Pendalaman Bahasa Inggris. Pada waktu itu, ibu Lia bilang kalau pendataran SP sudah ditutup. Seharusnya aku daftar dari beberapa hari sebelumnya. Ada sistem baru yang diterapkan untuk mengikuti SP dari pihak birokrat termasuk dalam hal biaya SP seharga Rp 150.000,- pembayaran dilakukan melalui bank BRI. Quota SP adalah 20 orang untuk satu kelas, dengan mendaftarkan diri sebelumnya ke jurusan masing-masing.
Saat ini, aku kehilangan kesempatan untuk mengikuti SP karena terlambat daftar ke jurusan. Aku terbilang mahasiswa yang jarang berkunjung ke jurusan. Ibu Lia bilang aku terlalu sibuk diluar sehingga melupakan akademik “Organisasi itu tidak bisa membantu dalam hal nilai akademik,” katanya.
Aktif di organisasi adalah jalan yang kuambil. Buatku keilmuan tidak hanya didapatkan di kelas tapi bisa lewat proses pencarian. Betapa menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang baru, mendengarkan setiap cerita dari mereka dan belajar apa yang belum aku ketahui dari mereka. Beberapa temanku yang lain satu angkatan sudah mengikuti sidang komprehensif beberapa dari mereka dikabarkan lulus dan ada yang lulusnya ditangguhkan. Jadi, ketika sidang kompre nilai dari 3 orang penguji harus keluar. Untuk mengikuti sidang kompre semua nilai mulai dari semester awal sampai akhir harus keluar. Jika ada nilai ‘E’ tentu saja harus mengulang paling tidak ‘D’ sudah bisa ikut.
Sejak berlakunya peraturan baru, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) tidak mempermasalahkan lagi sampai berapa kali seorang mahasiswa harus mengikuti sidang kompre karena untuk mengikuti sidang setiap mahasiswa harus membayar Rp 150.000,-. Lagi-lagi harga yang cukup mahal untuk dunia pendidikan. Aku belum membandingkan seperti apa sidang kompre yang terjadi pada seniorku dulu. Apakah sama atau ada perbedaan.
Aku ingin terbentuk sebagai mahasiswa tangguh yang tidak membangga-banggakan nilai. Proses panjang demi sebuah kualitas lebih baik aku jalani. Sebagai mahasiswa, aku sendiri jangan pernah merasa benar lalu lupa untuk intropeksi diri. Jangan pernah merasa puas teruslah mencari dan banyak belajar dari pengalaman. Aku percaya skripsi pasti selesai. Semangat perjuangan harus lebih aku kobarkan. Agustus mengingat jasa-jasa para pahlawan Indonesia. Bisa, bisa dan bisa. Semangat!
Saat ini, aku kehilangan kesempatan untuk mengikuti SP karena terlambat daftar ke jurusan. Aku terbilang mahasiswa yang jarang berkunjung ke jurusan. Ibu Lia bilang aku terlalu sibuk diluar sehingga melupakan akademik “Organisasi itu tidak bisa membantu dalam hal nilai akademik,” katanya.
Aktif di organisasi adalah jalan yang kuambil. Buatku keilmuan tidak hanya didapatkan di kelas tapi bisa lewat proses pencarian. Betapa menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang baru, mendengarkan setiap cerita dari mereka dan belajar apa yang belum aku ketahui dari mereka. Beberapa temanku yang lain satu angkatan sudah mengikuti sidang komprehensif beberapa dari mereka dikabarkan lulus dan ada yang lulusnya ditangguhkan. Jadi, ketika sidang kompre nilai dari 3 orang penguji harus keluar. Untuk mengikuti sidang kompre semua nilai mulai dari semester awal sampai akhir harus keluar. Jika ada nilai ‘E’ tentu saja harus mengulang paling tidak ‘D’ sudah bisa ikut.
Sejak berlakunya peraturan baru, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) tidak mempermasalahkan lagi sampai berapa kali seorang mahasiswa harus mengikuti sidang kompre karena untuk mengikuti sidang setiap mahasiswa harus membayar Rp 150.000,-. Lagi-lagi harga yang cukup mahal untuk dunia pendidikan. Aku belum membandingkan seperti apa sidang kompre yang terjadi pada seniorku dulu. Apakah sama atau ada perbedaan.
Aku ingin terbentuk sebagai mahasiswa tangguh yang tidak membangga-banggakan nilai. Proses panjang demi sebuah kualitas lebih baik aku jalani. Sebagai mahasiswa, aku sendiri jangan pernah merasa benar lalu lupa untuk intropeksi diri. Jangan pernah merasa puas teruslah mencari dan banyak belajar dari pengalaman. Aku percaya skripsi pasti selesai. Semangat perjuangan harus lebih aku kobarkan. Agustus mengingat jasa-jasa para pahlawan Indonesia. Bisa, bisa dan bisa. Semangat!
Langganan:
Postingan (Atom)







