Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Gelang Ungu Untuk Riska

Sabtu, 8 September 2012
Dari judulnya saja sudah seperti judul cerpen atau judul salah satu bagian dari novel. Aku sedang belajar membuat serangkaian cerita yang menarik. Kali ini mari kita memulainya dari janji. Apa yang pernah aku tawarkan pada seseorang lantas belum bisa aku penuhi, buatku itu menjadi sebuah janji. Seseorang yang pernah membuat janji pasti akan terus teringat kalau janjinya belum ditepati terlebih janji pria pada seorang wanita.

Sejenak kita pindah ke cerita lain, pada waktu pagi saat mentari sedang giat-giatnya bekerja. Aku sudah bertarung mengalahkan diri sendiri pergi menuju ke sebuah toko yang menjual beragam makanan dan minuman. Toko itu letaknya berdekatan dengan kampusku namanya Toko Dani mungkin itu nama dari pemiliknya atau nama salah setu orang yang paling disayangi oleh pemilliknya. Belum lama duduk di bangku panjang, Pungkit datang menyapaku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dibelinya. Kalau tidak rokok pasti kopi. Dia baru saja pulang dari Ujung Berung untuk mengecilkan baju. Jemariku tak hentinya mengetik sms menanyakan dimana keberadaan dirinya sekarang. Beberapa sms sudah aku kirim tapi belum ada sama sekali jawabannya di kotak masuk. Sampai akhirnya aku harus pergi dari Toko Dani menuju Asrama 2 Saudara.

Handphoneku bergetar pertanda ada sms yang masuk. Sejuta rasa penasaran muncul saat nama Riska Q Sakinah tampil di kotak masuk.

“My mother is sick. So, I’ll go after dzuhur. Sorry,” itulah isi sms singkat darinya.

“Well cha never mind. Get well soon for your mom. Leave a massage if you already come.” balasku sambil menunggu kiriman sms itu sampai.

Pada hari yang sama di waktu berbeda, aku kembali datang ke Toko Dani untuk kedua kalinya. Kursi yang tadi aku duduki masih saja kosong. Tempat itu sepertinya sudah dipersiapkan untuk aku tempati bersama Icha. Mataku masih terus menatap setiap barisan kata yang tercetak di dalam buku “Semiotika Visual” karangan Kris Budiman. Ada sedikit kejutan kecil di hatiku, katanya ia sudah datang coba pindahkan tatapan matamu kedepan. Benar saja hati tidak bisa bohong Icha sudah datang mendekatiku lalu tangan lembutnya bersentuhan dengan tanganku. Inilah kali pertama aku bertemu dengannya.

“Maaf icha jadi ke kampusnya siang soalnya tadi pas mau berangkat pagi mamah Icha sakit,” katanya meminta maaf padaku. Aku dan Icha sudah duduk berdekatan di satu tempat. “Maaf ya, kalau aku orangnya cerewet” katanya lagi. Seberapa cerewetnya dirimu yang terpenting jangan ada seorang pun yang mengusik kita walaupun hanya butiran debu.

Wajahnya imut, bibirnya manis tanpa polesan lipstick. Senyumnya mampu mengundang hujan setidaknya gerimis juga iri. Aku jadi teringat akan gelang ungu yang aku bawa untuknya. Gelang itu warnanya ungu, aku berikan kepadanya dengan tulus. Tangannya dengan lembut penerima gelang ungu pemberianku. Kini gelang itu sudah melingkar indah di tangan kirinya. Rasa bahagiaku kian bertambah saat apa yang aku lihat itu nyata. Warna baju yang Icha kenakan sama warnanya dengan kaos milikku. Ia mengenakan rok, tas kecil bentuknya kotak berwarna biru dan 2 buku tebal dibawanya.

Seandainya ada kamera disampingku pasti sekarang sudah ada beberapa foto cantiknya tersimpan dengan baik di ruang hatiku. Icha bercerita tentang perkuliahannya. Hampir semua dosen sudah masuk dan memberikan tugas cukup banyak. Selesai kita bertemu, ia harus pergi untuk mengerjakan tugas di kosan temannya.

Sudah beberapa pasang mata lewat mengamati dan mengawasi kita. Dirimu terus menyemangatiku untuk tidak galau. Maaf kalau jawaban yang keluar dari mulutku hanya kata “galau” ketika dirimu bertanya apa kegiatanku sehari-hari sekarang? Dirimu pergi meninggalkan rindu bagiku bersama sebuah pesan “Jangan galau lagi ya”

Jumat, 07 September 2012

Tempatkanlah Kegantengan itu Pada Tempatnya

Saat loe punya temen yang ganteng pintar-pintarlah untuk menempatkannya pada posisi yang tepat terutamanya saat loe harus berada di tengah kerumunan cewek cantik. Kenapa gue bilang gitu? Soalnya mau segimana gede usaha loe, cewek-cewek itu pasti lebih tertarik buat cari perhatian dan kenalan sama temen cowok loe yang ganteng. Kalau loe belum merasa ganteng itu artinya nasibnya sama kayak gue. Gue punya temen namanya Bayu, orangnya ganteng, kulitnya putih, rapih dan wangi. Kurangnya cuma satu sih, dia sering banget ngelucu yang ngebuat tingkat kegantengannya menurun, itu menurut gue. Misalnya “Sebentar ya, saya mau ke WC dulu takut ee di celana.” Buat cowok ganteng gak perlu kan kalau ke WC itu dijelasin mau ngapainnya.

Bayu kebeneran harus dipertemukan bareng gue di sebuah organisasi kampus namanya SUAKA. Seberapa gantengnya seseorang belum tentu bisa terbebas dari bencana patah hati. Seringkali Bayu ngalamin patah hati, gue dapet kabarnya dari temen yang telah menderita syndrom kepo sejak lama. Darisana gue ngambil kesimpulan jadi ganteng itu gak selamanya menyenangkan.

Tapi, semua itu berubah ketika Bayu terpilih jadi Pimpinan Umum di organisasi gue. Kegantengannya kini punya daya jual. Waktu dia ngomong semua anggota fokus dan hening karena gue yakin bukan omongannya yang didengerin. Tapi, terpesona sama kemilau wajahnya yang ganteng. Gue punya temen yang nasibnya sama namanya Ozan. Kita berdua sering kehabisan kesempatan buat kenalan sama cewek karena banyak yang lebih memilih kenalan sama Bayu. Puncak-puncaknya pas waktu peresmian FKPMB dimana banyak cewek-cewek yang dateng. Waktu itu Bayu dateng dengan gayanya yang casual, baju kotak-kotak dan celana levis. Dari jauh banyak cewek dan juga cowok yang bertanya-tanya itu siapa sih? Gue dan Ozan yang kenal baik sama cowok itu langsung aja ngejawab tanpa perlu disuruh “Itu Pimpinan Umum SUAKA yang baru” kata kita berdua sambil coba tebar pesona. Perih rasanya respon yang dateng dari cewek-cewek itu cuma kata “Ohhhhhh”

Selesai gue ngasih tahu, tiba-tiba aja cewek-cewek yang tadinya pada ngumpul langsung ngedeketin Bayu ada magnet apa mereka kesana. Kejadian itu ngebuat gue dan Ozan kehilangan keperjakaan. Untungnya kita berdua belum jadi operasi plastik buat ngerubah muka jadi ganteng. 

“Ini sama Bayu ya Pimpinan Umum SUAKA yang baru,” kata cewek-cewek itu. Bayu ngebales mereka sambil ngeluarin jurus senyumannya. “Iya, saya Bayu Pimpinan Umum SUAKA yang baru,” katanya.

Buat menarik perhatian lawan jenis cewek gak kalah pintar sama cowok. Habis kenalan sama Bayu salah seorang cewek ada yang ngajak foto bareng “Eh Bayu bisa foto bareng gak sama kita.” katanya genit. Nggak tahu kenapa waktu itu Bayu gak ngasih respon sama sekali, cuma kata “sebentar” yang terus-terusan keluar dari mulutnya. Gue dan Ozan bingung harus berbuat apa. Gue coba bujuk dia supaya mau foto bareng sama tiga cewek itu. Bujukan gue belum berhasi, Bayu terlihat sibuk dengan handphonenya dan mencoba keluar dari situasi ini. Pada akhirnya nggak ada seorangpun cewek yang berhasil foto bareng sama Bayu.

Gue berdua dateng ke Bayu buat nanyain, kenapa tadi nggak mau foto bareng sama mereka? Bayu ngejawab “Nggak mau ah malu” katanya. Dalem hati gue bilang “ada juga ya cowok ganteng yang masih malu-malu. Gimana kalau dia nggak ganteng?”

Dari semua kejadian yang pernah terjadi, gue suka ngambil kesimpulan penting. Kejadian waktu itu ngebuat gue dan Ozan sadar betapa pentingnya buat pergi kemana-mana tanpa harus ada Bayu. Seandainya dia ada kesempatan kita berdua buat kenalan dan bisa ngedapetin nomer handphone cewek cantik semakin sulit. Tempatkanlah kegantengan itu pada tempatnya cuma itu solusinya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Betapa Beruntungnya Diriku

“Halo kaka :) aku lg di kebun loh, ada acra bukber sm anak” jalanan. Trharu :(” tertulis jelas di depan layar handphoneku sms itu datang dari Anisa Isti, biasanya dibalik sebuah sms ada sesuatu yang ingin disampaikan. Aku biasa memanggilnya Isti, dia mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia lebih dikenal UPI. Ketertarikan besarnya terhadap dunia sastra membuat Isti banyak menyukai kegiatan-kegiatan sastra di Bandung. Satu jam sudah aku melewatinya bersama Ucay. Sudah tidak terhitung berapa makanan yang aku habiskan di Angkringan Magelang. Percayalah betapa intimnya kita berdua. Mengapa tidak ada satupun anggota pers mahasiswa yang berani untuk bergabung?

“Aku juga lagi di ITB, aku kesana ya. Udah pulang belum?” sms balasan itu aku kirim.

Selamat tinggal angkringan, aku pergi  menjauh meninggalkan jalan Ganesa menuju Kebun Seni. Dari kejauhan sudah terdengar bebunyian lain belum bisa ditebak darimana bunyi itu berasal. Saat sampai di Kebun Seni puluhan anak jalanan sudah duduk tidak beraturan di depan dan belakang panggung diterangi lampu seadanya. Lelaki kesepian sepertiku jarang sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan wanita. Tapi lain dengan malam ini. Rasa-rasanya sepi itu telah menjauh ditelan malam. Isti masih mencari-cari keberadaanku dimana? Dari depan panggung menuju ke belakang. Berjalan manis mencariku. Terima kasih Tuhan kita berdua sudah dipertemukan.

Saat berkenalan dengan Anisa Isti logat sundanya melekat pekat. Sulit untuk melupakan wajah semanis ini. Tiada warna hijau seindah baju dan kerudung yang dipakainya. Obrolan demi obrolan tak hentinya mengalir. Jika wanita ingin mendapat perhatian maka lelakilah orang yang tepat untuk memberi perhatian itu. Aku sengaja datang dengan membawa susu wedang jahe untuknya. Sungguh senyumnya semakin manis. Sebenarnya masih ada yang ingin kuberikan yaitu jaket sebagai pengusir rasa dingin. Sepertinya itu terlalu cepat  di awal-awal masa perkenalan.

Kata Isti anak-anak jalanan ini datang sekitar pukul 17.00 dengan membawa bendera. Ada nama lain yang baru aku tahu tentang Anisa Isti, teman-teman di Kebun Seni biasanya memanggilnya Cha. Anak-anak jalanan di Kebun Seni menunjukan kreasi seninya diatas panggung mulai dari menyanyi, menari sampai membaca puisi. Mereka datang dari daerah Sudirman, Dewi Sartika dan Pasir Kaliki. Aku menikmati setiap serangan pertanyaan dan senyuman darinya.

Cha membuatku merasa nyaman. Sebuah keberuntungan buatku bisa berdiri disampingnya menikmati aroma malam dan nyanyian anak-anak jalanan. Dia ingin sekali membeli buku-buku sastra mulai dari novel Promoedya Ananta Toer, kumpulan catatan pinggir Goenawan Mohamad. Bahasanya sulit dimengerti memang yang terpenting terus membacanya itu katanya. Satu lagi buku dari Putu Wijaya. Sastra sudah akrab sejak Cha SMA kegemarannya menulis puisi berlanjut sampai masuk kuliah di UPI.

“Pas awal-awal sih ngerasa beda dari yang lain soalnya kan mereka habis kuliah biasanya jalan-jalan. Kalau aku sama Resti biasanya janjian di kantin buat ngebahas puisi.” Kata-kata itu mewakili perasaan hati dari wanita penyuka sastra yang berdiri tepat disampingku.

Terima kasih Cha atas keceriaan dan senyuman terindah darimu. Minumlah susu wedang jahe dariku supaya tubuhmu hangat. Tolong jangan larang aku menulis tentangmu. Mungkinkah hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman?

Sabtu, 11 Agustus 2012

Mesin-Mesin tak Bernyawa

Aku tidak suka memulai menulis dengan kata 'tapi', 'terkadang' dan kata-kata yang punya arti ketidakpastian. Jadi biarkan aku menempatkan kata yang pas di paragraf pertama ini. Pernahkan terpikir kenapa di bumi ini harus ada mesin, listrik dan teknologi? Semua jawaban pasti terpusat pada satu kata yaitu 'perubahan' gagasan perubahan tentu muncul dari orang-orang yang tidak ingin menjalani kehidupan yang sama secara terus menerus. Jika dulu orang-orang ingin berkomunikasi dengan teman, saudara, dan tetangga mereka biasanya bertatap muka  di rumah atau tempat yang sudah dijanjikan. Berbeda dengan sekarang perkembangan teknologi yang pesat mempermudah jalur komunikasi lewat pesan pendek atau telepon genggam. Serba mudah hanya cukup menggerakan jari sambil memijit angka-angka atau nomor.

Perubahan demi perubahan terus terjadi. Manusia-manusia digital tidak perlu lagi bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ingin pergi ke suatu tempat cukup gunakan kendaraan bermotor bisa itu mobil atau motor. Ingin mengusir rasa lapar cukup memesan makanan siap saji yang diantar langsung ke tempat. Ingin menghubungi teman di luar kota tidak perlu lagi kesana cukup sms atau telepon dengan handphone. Semua hal tentang dunia bisa didapatkan lewat internet yang sudah mudah diakses dimana-mana. Jadi, apa lagi yang dirasa masih kurang?

Jika melihat apa yang terjadi di Indonesia kepemilikan barang-barang yang sekarang menjamur seperti BlackBerry, Handphone canggih, iPad, iPhone, dll menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Para produsen dari luar sana optimis negeri ini menjadi pasar yang empuk untuk memasarkan produk-produk mereka. Produk lokal tidak pernah sama sekali dilirik oleh pasar. Alasannya tentu karena banyaknya kekurangan dari produk itu. Permasalahan kemacetan terjadi karena kendaraan bermotor semakin banyak. Tidak ada undang-undang yang jelas. Tidak ada pembatasan produksi kendaraan. Jebakan kredit dengan tawaran manis di awal dan pahit di akhir menjadi straategi pemasaran ampuh. Masyarakat yang ingin mendapatkan gengsi banyak menjadi korbannya.

Alur kehidupan manusia sekarang tidak sepenuhnya diatur oleh jiwa masing-masing. Ada energi lain yang bisa mengubah kepribadian yaitu mesin-mesin tak bernyawa. Bayangkan tanpa ada perintah mobil dan motor rajin dirawat kadang jika sedikit tergores sedikit membuat hidup tidak tenang. Panggilan nyata sering dilupakan karena suara-suara bising dari telepon genggam. Berlama-lama menghabiskan waktu dengan handphone lebih menyenangkan daripada harus bertemu dengan teman. Ada apa sebenarnya? Apakah ini perubahan yang dimaksud!

Musuh yang sebenarnya sudah muncul ke permukaan. Mesin-mesin tak bernyawa mencoba mengambil sebagian dari nyawa manusia. Tujuan untuk mempermudah kehidupan telah meleset jauh. Memang tidak semua seperti itu merupakan sebuah alasan pembelaan. Manusia sudah bersahabat baik dengan mesin. Haruskan jalan perang dipilih jika perlu memusnahkannya. Silahkan memilih karena disini tidak ada paksaan sama sekali.

Selasa, 31 Juli 2012

Berbagi dan Bernyanyi di Konser Amal Hijabers

Bulan Ramadhan bukan cuma jadi bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Di bulan ini juga Jannaration bisa ngerasain gimana indahnya berbagi dengan sesama. Pada hari Minggu, 29 Juli 2012 Hijabers Community Bandung (HCB) ngadain acara Konser Amal Musik Positif Hijabers Community Bandung Cinta Anak Yatim bersama DPU Daarut Tauhid di Graha Pos, Bandung. Konser musik ini jadi konser musik positif terbesar pertama di Kota Bandung dengan menghadirkan 24 tim nasyid seperti Teddy Snada, Edcoustic, Daud Sakty, Sotul Harokah, Tashiru, Hawari, Fitri Widjayanti, Iccachinantya, Ghaida Tsurayya, HCB Voice, dll.

Acaranya dimulai dari jam 10.00 pagi yang dibuka oleh Sekertaris Daerah Kota Bandung, Edi Siswadi. Setiap pengunjung yang datang dikenakan tiket Rp 5.000,- dengan harga segitu Jannaration turut berbagi dengan anak-anak yatim. Bukan cuma penampilan musik ada juga penampilan fesyen show dari Gda’s by Ghaida, Cuba Klik Shop, Aiesha Abia, Queenerikha, Rauda, Riham Collection, Rehab, Flows, Prugna, DnC Shoes, Femme Outfit, Internal by Erin dan Soleil Muslim Fashion. Semua itu hasil karya dari desainer-desainer muda kota Bandung.

Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh setiap penyanyi dan grup nasyid bernafaskan religi. Menariknya setelah selesai penampilan musik diselingi oleh fesyen show. Setiap model yang berjalan catwalk nggak pernah lepas dari jepretan kamera fotografer. Aliesha Abia yang fokus ke scraft dan pashmina, Queenerikha ingin menginspirasi muslimah lewat desain working our dan Gda’s by Ghaida masih tetap dengan karakter khasnya bunga-bunga lewat tema “Picnic Romantic”

“Alhamdulillah nggak nyangka yang dateng banyak ternyata nggak cuma anak muda aja tapi anak muda yang bertambah umurnya.” Kata Ghaida saat naik ke panggung.

Menjelang waktu ashar ada penampilan spesial dari Dian Pelangi yang sengaja datang ke Bandung. Dia tampil cantik dengan gaya khasnya menyanyikan 2 buah salah satunya dari Maher Zain “Number One For Me” diiringi sama gitar akustik.

Mini Film Ramadhan di Kampung Hijabers
Waktu buka puasa terasa semakin dekat, sebanyak 200 anak yatim dari Dompet Peduli Umat (DPU) Daarut Tauhid sudah duduk manis di deretan bangku paling depan. Sajian konser musik berbeda sebentar lagi bisa dinikmati sama Jannaration. Konser musik bersama pemutaran film pendek “Ramadhan di Kampung Hijabers” berkisah tentang perjalanan seorang lelaki yang ingin memperdalam ilmu agama dengan pergi menuntut ilmu di kampung hijabers. Para pemain filmnya sendiri adalah penyanyi nasyid dan anggota Hijabers Community Bandung.

Cucu Hidayat perwakilan dari DPU Daarut Tauhid bilang kalau Jannaration punya harta berlebih ada baiknya dikeluarkan apalagi di bulan Ramadhan. “Adapun ketika kita punya harta berlebih ada baiknya kita keluarkan ketika Ramadhan karena sebaik-baiknya sedekah adalah di bulan Ramadhan,” katanya.

Mumpung masih bulan Ramadhan, udah saatnya Jannaration berbagi dengan sesama karena berbagi itu indah apalagi perhitungan pahala dari Allah buat orang yang sedekah berlipat-lipat. Salut buat Hijabers Community Bandung atas Konser Amal Musik Positifnya.

Indonesian Youth Conference 2012, Kita Yang Menentukan

Jurnalisme dan media sosial, kreativitas, dan kewirausahaan itulah tiga sesi yang aku ambil ketika mengikuti Indonesian Youth Conference 2012 di Thamrin Nine Ballrom. Forum IYC digagas oleh seorang wanita bernama Alanda Kariza banyak hal yang aku dapatkan termasuk ilmu dan pengalaman.

Rabu, 25 Juli 2012

Saat Janna Bertanya, Aku Menjawab

“Emangnya mau turun dimana?” tanya seorang pemuda berambut plontos kepadaku

“Mau turun di daerah Pejaten, Jakarta Selatan,” jawabku

Walau duduk di bis bersebelahan, percakapan antara aku dan pemuda itu baru dimulai saat ada pertanda dariku yang masih belum akrab dengan daerah di Jakarta. Malam itu bus Prima Jasa telah keluar dari gerbang tol, awan sudah gelap bercampur asap kendaraan bermotor yang tak hentinya membentuk kabut penuh polusi.

Obrolan kami berlanjut, “Sebentar, Pejatennya yang mana dulu? Ada Pejaten Pasar Minggu soalnya banyak daerah Pejaten di Jakarta Selatan,” tanyanya lagi

“Pokoknya daerah Pejaten aja yang ada di Jakarta Selatan,” jawabku sambil tersenyum

Aku disarankan untuk turun di daerah Cilandak lalu naik KOPAJA P20 karena jarak darisana lebih dekat daripada harus turun di terminal Lebak Bulus. Tibalah aku di daerah Pejaten dengan mengendarai KOPAJA P20 dari kejauhan terlihat sebuah gedung dengan tulisan REPUBLIKA itulah kantor yang aku cari. Laju kendaraan tak hentinya bergerak cepat tidak ada celah untuk melintas bagi pejalan kaki kecuali saat lampu merah menyala. Panas bercampur polusi mengiringi setiap langkah kakiku. Jangan tanya berapa banyak gedung pencakar lakngiit, apalagi jumlah setiap lantainya karena semakin tinggi gedung itu dan megah maka semakin bernilai harganya.

Iqbal datang menyapaku bersama temannya Faisal setelah selesai meliput rapat sidang isbat di Kementrian Agama RI. Aku pulang ke kostan Faisal untuk beristirahat. Besok masih belum puasa karena keputusan bersama awal puasa jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012.  Jika awal puasa hari Sabtu bukan berarti tidak ada yang puasa hari Jumat. Muhammadiyah mulai puasa hari Jumat lebih awal dari biasanya. Aku memilih untuk mulai berpuasa hari Sabtu bersama Iqbal dan Faisal.

Sejak pagi Faisal dan Iqbal sudah pergi ke kantor REPUBLIKA karena harus bertemu dengan redaktur menanyakan bahan liputan hari ini. Jam masuk kantor di Jakarta berlaku mulai dari jam 09.00 pagi itu juga biasanya kantor masih sepi waktu tersita saat perjalanan menuju kesana.

“Oiya, tapi besok loe interview di Kemang ya, bukan di Buncit. Takutnya salah,” itulah isi sms yang aku baca kemarin malam yang dikirim oleh Zelva Wardi reporter Majalah Janna.

Mandi, makan siang, mempersiapkan diri lalu berangkat menuju Kemang dengan menggunakan jasa ojek. Panggilan wawancara kerja membuatku penasaran dan merasa tertantang. Apa yang akan ditanyakan nanti oleh mas Agung Vazza, Editor In Chief dari Janna. Janna sendiri terbilang majalah baru dengan konsep mengedepakan anak muda yang islami. Petunjuk dari Zelva kantor Janna ada di belakang McD Kemang berjajaran dengan ruko-ruko No. 12H.

Saat melihat kantor Janna, bayang-bayang ketidakpercayaan hilang terhapus oleh keberadaan kantor yang aku tuju. Konsep kantor majalah anak muda dihadirkan lewat desain minimalis dan elegan. Beragam cover setiap edisi di tempel di dingding kantor dibingkai pigura berkaca. Mas Agung Vazza masih belum ada di kantor, aku menunggu sambil menikmati teh hangat yang disajikan.

Tidak perlu menunggu lama tiba-tiba ada suara yang menyapaku “Hamdi ya, tunggu dulu ya sebentar,” mungkin itu orang yang datang untuk menanyaiku sesuatu.

“Tau majalah Janna darimana? Hamdi suka ngerokok gak, saya gak apa-apa kan ngerokok?” Mas Agung melempar pertanyaan pertamanya kepadaku.

Aku sudah menjadi pembaca Janna sejak awal-awal majalah ini muncul. Desain dan isinya yang beda dari majalah yang ada menjadi alasan kuat kenapa Janna selalu aku nantikan. Apalagi setelah ulang tahun pertama ada perubahan dari segi ukuran, desain, dan kertas itu menjadi kekuatan baru untuk Janna. Gaya hidup anak muda yang kreatif sudah mulai masuk lewat bahasan gadget, gaya hidup hijau, komunitas dan industri kreatif anak muda.

Pertanyaan tentang diri pribadi termasuk kuliah harus aku jawab. Pertanyaan tentang kesiapan kerja sebagai reporter juga ditanyakan. Apakah aku siap untuk pindah ke Jakarta? Jika siap mulai besok sudah bisa ikut kegiatan semacam absen, rapat, dll. Aku masih belum bisa menjawab, memang untuk saat ini mas Agung bilang pemberitaan Janna masih fokus di Jakarta belum di kota-kota lainnya bukan menutup kemungkinan kedepannya akan ada di setiap kota karena permintaan untuk itu sudah banyak. Darisana aku berpikir ketika ada di Jakarta harus ada yang ditinggalkan. Tugas akhir mahasiswa lebih dikenal skripsi. Jujur tanggungjawab terbesar buatku itu bukan karena tuntutan dari orangtua lebih karena memang itu tugas yang tak terhingga bagi mahasiswa sebelum lulus.

Kiranya cukup pulang dengan membawa pengalaman, nasehat, stiker, dan majalah Janna edisi baru. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada office boy atas sajian teh hangatnya. “Janna butuh orang-orang kayak Hamdan ini yang suka nulis dan mau belajar,” pesan itu menjadi gas pembakar buatku untuk kembali pulang ke Bandung esok hari.

Selasa, 03 Juli 2012

The Trees and The Wild Live at MAYDAY

Before I talks about the story, I want to tell you that I was resign from my job as operator. So, I work for one day to feel the work office situation. What do you think about that?

"Tuh kan Remedy lucu banget! sekarang jadi keliatan beda," ungkap salah seorang penonton cewek yang waktu itu histeris ngeliat Remedy vokalis dari band The Trees and The Wild beberapa detik terlewati ada lagi yang bilang kalau Charita Utami makin cantik aja sekarang. Sejak panggung terisi oleh band yang dikenal lewat lagu-lagu seperti "Irish Girl", "Berlin" dan "Malino" seluruh panca inderaku telah siap untuk menerima aliran musik dari mereka.

Lagu baru yang masih asing diperkenalkan kepada penonton di acara MAYDAY! Market to Divert Your Day musik yang memukau sedari awal tak hentinya membuat tubuhku bergerak mengikuti irama, raungan, dan hentakan drum yang menggetarkan area pertunjukan. Salman ada di barisan paling depan menemani sekumpulan wanita cantik yang sengaja datang untuk melihat betapa lucunya Remedy sambil sesekali memotret. Aku menikmati lagu kedua yang judulnya "Saija" ini adalah lagu baru TTATW yang pernah aku dengar sebelumnya di YouTube. Sayangnya "Our Roots" harus jadi lagu terakhir, karena alasan musik The Trees and The Wild yang terlalu keras di area mall Paris Van Java (PVJ). Sesingkat itu padahal mereka baru pulang bermain di Singapura dan langsung datang ke Bandung.

Untuk menuju ke mall PVJ tidak mudah, aku harus berjalan ke bawah dari daerah Setiabudi karena pada saat itu aku dan Salman sempat kehilangan arah tapi tidak tersesat. Jangan pernah sekali-kali menunjukan kalau kita tidak tahu daerah yang dituju bersikaplah santai dan seolah tahu. Kalau perlu berbicaralah bahasa Indonesia agar terlihat baru pertama kali datang itu kata Salman berdasarkan tips yang dibacanya. Mall PVJ yang luas belum membuat Salman yakin kalau aku tahu tempat yang dituju, aku bilang "Kalau kita sudah sampai disini kemungkinan untuk tersesat kecil karena tempatnya tinggal dicari."

MAYDAY! digelar selama 2 hari mulai dari hari Sabtu, 30 Juni 2012 sampai hari Minggu, 1 Juli dengan bintang tamu spesial The Trees and The Willd. Ada banyak barang yang dijual mulai dari baju kemeja, kaos, celana denim, sepatu sampai makanan yang semuanya merupakan hasil karya dari mahasiswa ITB. Dekorasi unik saat masuk dirancang untuk membuat suasana terlihat berbeda dan pengunjung tertarik untuk datang. Pada saat datang aku bertemu dengan generasi merunduk, generasi kaos polos dan generasi sundel bolong. Mengapa merunduk? karena generasi ini sibuk memainkan gadget tanpa menganal waktu sehingga kepala harus merunduk. Kaos dengan sablon sudah sedikit peminatnya, maka lahirlah generasi kaos polos biasanya digunakan oleh lelaki agar terlihat maskulin. Terakhir, ada generasi sundel bolong biasanya menghinggapi wanita cantik dengan pakaian bolong dibelakangnnya. Generasi ini bangga menunjukan punggung tanpa penutup tapi untungnya hanya kaos yang bolong bukan punggungnya.

Jumat, 29 Juni 2012

Aku Mulai Bekerja Besok

Dari hari-hari kemarin aku suka memutar lagu-lagu dari Adera, solois pria yang punya suara ciamik dan kemampuan bermain gitar diatas rata-rata solois lain. Awal pertama mendengar singel "Lebih Indah" ketika diputar di salah satu radio online darisana ada rasa penasaran untuk mencari informasi lebih banyak tentang sang penyanyi. Satu singel lagi yang aku putar hari ini sekaligus menonton video klipnya yaitu "Terlambat" dengan model klipnya Sarah Shafitri. "Jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan, jangan tunda, jangan tunda" itu sedikit potongan lirik dari lagu "Terlambat" Adera.

Tidak berlebihan jika aku harus berkata ini seperti hura-hara dalam ruang kehidupan. Tepatnya hari ini, temanku Ozan datang dengan penawaran menjajikan. Penawaran untuk bekerja menjadi seorang operator dengan jadwal shift pagi. Kerjaanku cukup mudah, hanya menjawab setiap pertanyaan yang masuk lewat sms dari jam 08.00 sampai jam 20.00 malam. Tidak hentinya ia menyebut nama supervisor dan meyakinkanku dengan berbagi macam kenikmatan termasuk gaji. "Kalau setuju, sekarang aku langsung telepon pak Endang untuk bilang sudah ada yang mengisi," ungkapnya sambil mencoba memulai percakapan di handphone.

Rutinitas yang biasanya kosong harus terisi dengan kegiatan yang padat saat tawaran sudah diterima. Aku langsung berangkat ke Buah Batu untuk wawancara. Saat sampai di kantor yang dimaksud, aku tidak takjub dengan tatanan konsep rumah modern saat itu karena wajar semua rumah minimalisnya hampir sama. Operator lain sibuk bekerja menjawab setiap sms yang masuk. Kedatanganku tidak mengagetkan, aku memilih untuk duduk sesekali menatap beberapa sudut. Pak Enjang sebagai supervisor masih sibuk mengontol operator yang tengah bertugas.

Dewasa, tenang dan berwibawa tiga hal itu yang kutangkap dari sosok pak Endang ketika mulai mewawancaraiku. Pertanyaan pertama tentang kesiapan dalam hal membagi waktu. Saat bekerja seorang operator dituntut untuk menjawab setiap pertanyaan biasanya pertanyaan beragam sampai dengan curhat hal pribadi. Aku ditugaskan untuk mengisi shift pagi, belum mulai bekerja sudah ada tawaran kenaikan gaji jika sudah bekerja selama 3 bulan dilanjutkan dengan jenjang karier. Selama 1 minggu ada waktu libur 1 hari bebas untuk memilih hari hari. Ada pekerjaan lain selain menjawab pertanyaan yaitu sebagai konsultan politik. Pengakuan dari supervisornya kita tidak mendukung salah satu calon cuma kita tugasnya lebih mempopulerkan politisi yang ingin populer di masyarakat.

Senyuman indah dariku memaniskan akhir wawancara. Mulai besok, aku sudah bisa bekerja dengan membawa CV. Saatnya pagi mengerti, jangan membuatku betah berlama-lama di kasur. Biarkan air mengajakku berpetualang menjawab tantangan. Aku mulai bekerja besok :)

Selasa, 19 Juni 2012

Inilah UAS Mahasiswa Tingkat Akhir

Tuhan bantulah aku karena sesungguhnya, aku ingin menulis walau belum menemukan maksud dan tujuan dalam menulis. Ketika tadi, aku merasa benar-benar menjadi mahasiswa yang masuk kelas dengan pakaian rapi dan jas almamater untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Status mahasiswa tingkat akhir tidak berpengaruh sama sekali untuk merubah pikiran dosen. UAS mata kuliah pendalaman bahasa inggris tetap dilaksanakan hari ini. Satu persatu temanku sudah menempati kursi yang disediakan. Mimilih tempat duduk yang tepat agar bisa tenang mengerjakan dan tidak mendapat gangguan dari para pencari jawaban. Masuk ke kelas sekarang tidak bisa sembarangan karena harus dengan kartu ujian yang berwarna hijau lengkap dengan pas foto.

Saat soal sudah dibagikan dosen berpesan untuk tidak pergi ke toilet, tidak mengaktifkan handphone, dan terakhir tentu saja tidak mencontek. Kertas soal sudah aku pegang tidak ada perasaan gelisah sama sekali membebaniku. Otak mulai mencerna lalu mengajakku berkeliling mencari kebenaran tentang kekosongan jawaban. Aku memperhatikan setiap wajah mulai dari samping kiri dan kanan tidak lupa depan belakang semua terus menimbang-nimbang tentang jawaban yang benar. Kertas penuh soal itu pasti bisa aku taklukan dengan mudah tanpa perlu bantuan dari kementrian pendidikan.

UAS tidak lagi akan kutemui seandainya tidak ada kerinduan untuk mengulang mata kuliah. Sesekali aku ingin mengajakmu menikmati angkringan malam di sudut toko Dani sebagai bentuk suap agar tingkat kesulitanmu menyusut. Masih adakah rasa kepedulian, ketika UAS sudah menjadi barang langka karena skripsi telah menggerogoti setiap waktu luang mahasiswa tingkat akhir. Haruskan terjadi perselisihan antara keduanya karena berebut dari segi kepentingan.

Biarkan mahasiswa tingkat akhir sepertiku menciptakan skripsi tanpa melupakan UAS. Besok-besok aku akan membebaskan UAS dari cengkraman birokrasi kampus agar bisa membuat soal dan jawaban dengan mandiri tanpa bantuan dosen atau pembantunya.

Kamis, 31 Mei 2012

Membangun Bisnis Lewat Komunitas

Sering kali sebelum memulai sesuatu orang Indonesia lebih suka dengan kata permintaan maaf walaupun belum jelas apa kesalahan yang dibuat. Maaf menjadi jalan pembuka dalam menghadapi tantangan kehidupan.Maaf, aku telah meracuni diri dengan sengatan kata dari motivator yang membisikan ajakan untuk tidak bekerja. Wirausaha itu lebih baik daripada karyawan. Mengapa harus wirausaha? karena banyak waktu luang dan tidak perlu diatur oleh orang lain. Alasan paling jujurnya adalah ingin kaya dan bisa berbagi tidak ada alasan lain. Aku memang sengaja datang ke sebuah seminar bisnis berbasis komunitas di gedung Graha Bakti Pos lantai 10.

Belum masuk ke ruang seminar sudah tersaji berbagai macam kreatifitas anak muda kreatif. Mulai dari lukisan sketch, kaos, makanan, sampai ada yang menamakan diri Doktor Promo dengan konsep menjual ide sampai desain untuk bisnis bisa apapun itu. Ada jejak kaki dalam bentuk stiker berwarna-warni menuju tempat seminar merupakan hasil karya mereka juga.

Semua yang terjadi mulai dari pembukaan sampai seminar berakhir semua diceritakan disini. Ada banyak ideide baru dari pembicara, pelaku usaha, peserta, dll

Djoeragan Tempe
Aku baru mendengar dan belum pernah merasakan seperti apa rasa tempe yang dimaksud. Pemilik dari bisnis Tempe Gila memulai bisnis dengan menjadi sales pembalut. Semua perubahan terjadi ketika sudah dekat dengan Tuhan lebat ibadah-ibadah seperti shalat dhuha, sedekah, dll.

myOyeah
Berawal dari sebuah situs www.myoyeah.com mulai muncul pada tahun 2008 dengan satu kata BEDA dari tahun ke tahun terus melakukan inovasi termasuk mendukung industri kreatif anak muda dalam dunia wirausaha.Sekarang menjadi wadah untuk wirausahawan muda yang kreatif dalam hal memasarkan produknya. Tidak hanya sekedar komunitas myOyeah juga punya Sharing Card kartu yang digunakan untuk identitas dan interaksi antar komunitas di myOyeah. Ada sebuah wadah dengan nama Subterrestrial yang diperuntukan bagi musisi yang ingin memulai usaha dengan menjual marchandise band, kuliner, sampai kursus musik.

Doktor Promo 
Dengan baju batik coklat dan gaya yang santai, lelaki bertubuh gempal itu mempresentasikan bisnis yang tengah ia geluti bersama teman-temannya. Doktor Promo itulah bisnis yang bisa dibilang unik dan kreatif karena menjual ide, konsep, dan desain untuk promo produk secara kreatif. Bisa dibilang sebuah konsultan jasa yang menangani juga percetakan untuk promosi lewat flyer, x-banner, billboard, poster, dll. Doktor Promo punya motto "Ide Kami Mahal, Namun Gratis!" jangan takut lagi untuk pergi ke doktor karena doktor promo tidak menyuntik dengan cairan tapi menyuntik kamu dengan ide-ide kreatif untuk promosi produk bisnis. Klik www.doktorpromo.com

Bong Chandra
Motivator termuda se-Asia ini banyak menarik perhatian peserta seminar. Telah menulis buku Unlimited Wealth banyak bercerita tentang bisnis yang digeluti tentang perumahan yang dibangun di daerah gersang di Tangerang.







Selasa, 29 Mei 2012

Sosok Lain Jelmaan Malaikat

7 hari dalam seminggu kulalui dengan berbagai macam kegiatan darisana tercipta jutaan cerita. Tidak ada yang tahu kapan kegelisahan bisa muncul di hari-hari yang telah dilewati. Jika setiap hari Selasa, aku harus masuk kuliah itu bukan sebuah kegelisahan, tapi itu sebuah kecerdikan dari dosen yang mencoba menghindar dari kejamnya hari Senin. Ketika itu duduk seorang lelaki pecandu rokok dengan kumis dan jenggot yang tumbuh subur di mukanya. Aku yakin dia hadir dengan membawa kegelisahan, itu tercermin dari setiap kobaran kata-kata yang keluar dari mulutnya. Fazar Fauzan, kenapa nama itu harus melekat pada dirinya. Jangan tanya diriku, tanyalah pada kedua orangtuanya.

Sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa saja terjadi di waktu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Siang tidak seharusnya panas, Ozan (sapaan akrab Fajar Fauzan) telah berhasil menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Kedudukannya telah melebihi pemuka agama di Indonesia, ia berbicara banyak tentang islam dan bagaimana islam sekarang telah terjadi banyak perubahan. Mulai dari organisasi islam seperti NU, islam tradisionalis, sampai aksi penolakan artis lewat pemberitaan di sebuah media televisi dikupas habis-habisan. Jadi, aku, Pradi, Herton, Aad, dan Iqbal telah terbawa menjadi jemaah khutbah di hari Selasa. Jangan heran, kalau tiba-tiba diantara kami ada keinginan untuk shalat dan berbuat baik setelah itu.

"Aku jemput Siti Mariam dulu," ucap Ozan

Dengan sigap, ia melangkah keluar dari ayam Hesti dengan membawa helm untuk menjemput sesosok wanita cantik. Aku duduk menunggu datangnya mereka berdua sambil mencoba mengurai rasa sepi. Kali ini telah datang wanita jelmaan bidadari dengan sayap yang tidak terlihat. Wajahnya putih, suaranya indah, senyumnya manis melebihi manisnya gula. Aku mengerti mengapa Ozan ingin membawanya kesini. Suasana sudah cair, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus dilancarkan kepada Siti dengan maksud untuk menciptakan sebuah rasa. Keinginan untuk memiliki sebuah jalinan rasa. Sajian makanan sudah menanti, aku langsung memulai dengan minuman cappucino dingin dilanjutkan dengan nasi ayam penyet begitu juga dengan mereka berdua duduk di kursi yang saling berdekatan.

Makan siang kali ini merupakan ritual berbagi hasil dari uang beasiswa. Selesai makan, Ozan langsung mengantar Siti Mariam untuk pulang kembali ke kampus. Inilah jembatan untuk melanjutkan lewat berbagai macam jalan karena berbagai kemungkinan bisa terjadi tidak hanya di hari Selasa,bisa saja di hari Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu.

Kamis, 24 Mei 2012

Mengejar Hijaber

Ini bukan cerita tentang perlombaan lari maraton, estafet atau jenis lari lainnya.Sore tadi, aku bertemu dengan temanku Opik dari jurusan Ilmu Hukum, dia berpakian rapi layaknya pemerhati politik atau seperti asisten dosen yang baru pulang mengajar. Opik bertanya banyak hal padaku lalu aku bertanya sedikit hal kepadanya. Aku menangkap bahwa Opik suka menulis walau tidak berdasarkan teori. Hal terpenting menulis bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang dan itu benar.

Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.

Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.

Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.

Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.

Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.

Rabu, 18 April 2012

Tentang Fatia

Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia.

Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.

Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia

“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”

Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.

Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.

Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.

Minggu, 08 April 2012

Tindak Lanjut Untuk Diklat Bersama FKPMB

Sebagai mahasiswa tingkat akhir jadwal kuliahku tidak terlalu padat sehingga banyak waktu kosong. Sore hari tepatnya aku bersama Ozan pergi menuju ISOLA POS, UPI ada pertemuan antara Pimpinan Umum seluruh pers mahasiswa di Bandung untuk membicarakan agenda Diklat Bersama. Beberapa sudut jalan di Bandung terlihat basah, aku bisa merasakan segarnya udara sore sehabis hujan. Setiabudi menjadi pusat lokasi factory outlet, dan kuliner yang terkenal di Bandung. Laju akhir motor berhenti di depan pintu masuk kampus Universitas Pendidikan Indonesia.

Sampai di sekretariat ISOLA POS aku bertemu dengan Isman, Siti dan seorang wanita berkacamata yang wajahnya masih asing. Koran KOMPAS dan majalah TEMPO berserakan di lantai. Ruangan tidak tertata dengan rapi banyak sisa bungkus makanan dan minuman. Gelas menjadi asbak sudah menjadi pemandangan biasa. Sudah bisa ditebak pasti ada perokok yang menghinggapi tempat ini.

Ruangan yang tidak memadai membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk pertemuan sore itu. Satu persatu para pemimpin mulai berdatangan. Ada dari Media Parahyangan, E-Pers, Birama, Gema Suara, Daunjati, dan Suara Mahasiswa pertemuan membicarakan tentang rencana diklat bersama FKPMB. FKPMB merupakan sebuah Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung didirikan pada bulan Mei 2011 sebagai sebuah forum untuk menjalin komunikasi antar pers mahasiswa di Bandung. Sudah diputuskan Diklat Bersama akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 April 2012 di kampus II UNISBA, di daerah Ciburial. Setiap persma wajib membayar Rp 100.000,- untuk biaya acara dan mengirimkan 3-5 anggotanya. Setiap anggota wajib membayar Rp 35.000,-

Ada persolan yang belum selesai yaitu menentukan penannggung jawab konsumsi untuk acara nanti. Konsumsi dipercayakan kepada Aziz, pembayaran dan konfirmasi diklat kepada Suara Mahasiswa dan Daunjati, lalu acara seluruhnya pada ISOLA POS, dan Humas oleh SUAKA dibantu oleh Gema Suara. Malam semakin tidak bersahabat karena membawa kegelapan dan menyebar angin bercampur es. Pertemuan harus berakhir secepat kata penutup dari ISOLA sebagai tuan rumah.

Malam menjadi surga bagi mereka penikmat kehidupan malam. Sulit menemukan lokasi yang tidak terjamah oleh lampu. Mobil-mobil mewah terparkir dengan rapih, pemilknya terlihat duduk santai menikmati makanan dan minuman di cafe. Aku sempat menyambangi sebuah Cafe bernama Madtari yang terletak di bilangan jalan Tamansari. Cafe itu hasil rekomendasi dari Ozan, ia dulu pernah pergi kesana. Makanan tersaji dengan cepat, Madtari terkenal dengan taburan kejunya yang menumpuk seperti daun-daun berguguran. Malam ini aku menikmati mie goreng jumbo keju dan es milo. Nikmat sungguh rasanya.

Senin, 26 Maret 2012

Menyambangi Jakarta Menuju TRANS TV

Aksi demontrasi menolak kenaikan harga BBM akan terus berlanjut. Senin pagi tepatnya FDK, buruh, PMII dan sekelompok mahasiswa berencana pergi ke Gedung Sate, Bandung untuk berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Hilda datang membawa setetes senyuman mengusir kesepianku di waktu pagi. Tidak lama kemudian datang Siti Mariam bersama sahabat dekatnya Iis. 3 wanita itu punya keinginan yang sama datang untuk meliput aksi demontrasi di kampus.

Saat semua kondisi sudah aman, aku bersama Ozan langsung pergi ke kampus meninggalkan Asrama 2 Saudara. Belum lama muncul Nirra dengan motor mio hitam miliknya. Anggota baru SUAKA juga berkumpul di depan kampus untuk membicarakan peliputan demo ke Gedung Sate. Aku sempat melihat wajah seorang wanita di pintu gerbang masuk kampus.Kedua bola mata lentiknya menatap kearahku. Sepintas, secepat angin berlari menghampiriku. Ozan memberikan handphonenya kepadaku, katanya Tiara ingin bicara. Dengan penuh harap dia memintaku untuk ikut pergi ke Jakarta hari ini.

Aku sendiri masih belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Tiara, ia hanya ingin aku bisa membantu temannya untuk membuat sebuah cerita SKETSA yang tayang di TRANS TV. Saran dari Ozan coba dulu pergi kesana siapa tahu itu kesempatan bagus. Aku bertemu Tiara di rumahnya daerah Pasir Jati brdekatan dengan SMP 50 Bandung. Rumah Tiara ditutup rapat oleh pagar, banyak tanaman tumbuh disana. Tiara keluar rumah dengan keadaan siap untuk berangkat seperti seorang petualang wanita dengan tas yang cukup besar.

Jarak antara Bandung menuju Jakarta tidak memakan banyak waktu. Aku dan Tiara pergi kesana dengan menggunakan BARAYA Travel kami berdua turun tepat di depan kantor TRANS TV. cuaca kota Jakarta memang panas itu terasa saat aku keluar dari mobil travel. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa terlebih pergerakan manusia ibukota tidak dibatasi oleh waktu.

Outsourcing dan brainstorming 2 hal itu yang aku kerjakan selama ada di Jakarta. Aku bertemu untuk braainstorming cerita SKETSA di gedung TRANS TV lantai 7 inilah pertama kalinya bagiku melihat langsung sebuah kantor statsiun televisi. Para karyawan TRANS cukup ramah kepada setiap pengunjung yang datang. Dalam ruang SKETSA aku berkenalan satu persatu dengan karyawan disana, ada Wahid, Ika, Ilham, dll. Kekuatan dari SKETSA ada di setting tempat, alur cerita dan klimaks. Tidak jarang jika alur cerita yang biasa-biasa langsung ditolak saat brainstorming atau kejadian yang sama kembali diulang ketika di setting tempat yang baru.

Selasa, 14 Februari 2012

Teruntuk Seseorang

Sejak kehadiran blog banyak orang yang tertarik untuk mencoba layanan ini. Alasan ketertarikan mereka bermacam-macam. Mulai dari iseng-iseng, penasaran sampai serius menjalani profesi sebagai blogger. Blogspot kini telah menjadi catatan harian digital seseorang. Sebuah blog tidak hanya diisi oleh tulisan tapi bisa juga diisi dengan foto dan video. Tulisan dari seorang blogger merupakan rangkaian cerita kehidupan dimulai dari cinta sampai hal-hal yang tidak pernah dituliskan sebelumnya. Tema yang satu ini banyak menarik  perhatian para blogger. Walau pada kenyataanya tidak semuanya suka untuk menulis tentang cinta. Sebuah blog yang berisi cinta biasanya hanya bertahan sampai beberapa postingan saja seperti curhatan pribadi, puisi, lirik lagu, sampai foto mesra bersama pacar.

Perubahan yang terjadi pada dirinya banyak menarik perhatian orang-orang. Perubahan kecil yang punya dampak besar. Kini, ia seperti punya magnet kuat untuk menarik perhatian pria. Aku tidak pernah ada perasaan sama sekali kepadanya. Jalinan aku dan dirinya sebagai teman yang tidak terlalu dekat dan jauh. Kacamata yang dulu di pakai sudah ia lepas. Setiap tatapan dari dirinya penuh ketulusan dan jujur. Itulah dia telah berbeda tapi masih punya sifat yang sama. 

Jumat, 27 Januari 2012

Pertemuan Dengan Anggota Karang Taruna Unit 12

Motor mio merah datang tepat di depan mataku. Lelaki berkulit sawo matang kemudian menatap ke arahku kemudian bertanya “Nuju pada dimarana keneh nu sanes tos ngantosan?” Pertanyaan itu mengingatkanku pada Ali dan Chandra yang baru saja pergi. Aku menjawabnya “Tadi teh duaan tos kaditu dipayun ka bumi bapak”.

Aku dibawa sang pengemudi menuju sebuah tempat perkumpulan yang diketahuinya. Malam terus memperhatikan setiap laju kita. Karena gelap sulit untuk menembus jalan yang penuh kerikil di desa Cipaku. Laju motor yang gigih telah membawaku sampai di sebuah rumah. Rumah itu sudah dipenuhi oleh para penduduk yang kebanyakan anggota aktif dari karang taruna unit 12. Satu persatu penduduk aku salami. Kebanyakan dari mereka sudah berusia dewasa dan menikah. Terlihat juga ada ketua RW 12 duduk di lantai beralaskan karpet.

Acara dibuka oleh seorang pembawa acara dari warga. Aku duduk bersampingan dengan Arli sedangkan Chandra bersebelahan dengan ketua karang taruna, pak Opo Mustofa. Agar lebih leluasa bahasa sunda dipilih untuk bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Pada saat memberi sambutan, ketua Karang Taruna mulai memperkenalkan semua anggota yang hadir. Ada Aam, Tony, bu Cici, bu Susi, dll. Semua datang dari latar belakang yang berbeda.

Chandra bagian olahraga, seni dan kepemudaan di kelompok 18 mulai menjelaskan maksud kedatangan mahasiswa KKM UIN Bandung ke kampung Pabean ini. Kami ingin belajar disini dan membantu dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Selain itu akan ada pertandingan Volli dan tournament sepakbola untuk kategori anak-anak. Untuk Volli kategori A,B,C putra dan putri selanjutnya kompetisi sepakbola akan dibicarakan malam ini.

Karang Taruna kampung Pabean sudah mengerti dan berpengalaman dalam hal melaksanakan kompetisi sepakbola. Toni selaku pengurus lapangan langsung memberi masukan. Menurutnya untuk sebuah kompetisi sepakbola disebut gampang, memang gampang. Disebut sulit juga memang sulit. Banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama masalah perizinan ke pihak kepolisian. Perizinan biasanya menghabiskan banyak biaya sampai jutaan. Contoh kecil untuk perizinan awal panitia harus mengeluarkan dana sekitar Rp2.000.000,- belum lagi untuk perizinan selanjutnya. Dari pemaparan itu, aku sempat berpikir dari perizinan saja sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak belum lagi untuk hadiah,wasit, dll.

Dari penjelasan pak Toni aku, Arli dan Chandra jadi banyak tahu dan mengerti. Pada akhirnya kompetisi sepakbola bukanlah pilihan tepat. Pertandingan eksibisi menjadi pilihan pengganti untuk itu. Karena malam yang semakin larut, acara perkumpulan bersama karang taruna unit 12 langsung ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua RW 12.

Sore hari sebelum makan malam, dosen pembimbing lapangan, Ibu Eni Julaiha, M.Ag sempat berkunjung ke tempat kami. Kelompok 18 jadi persinggahan terakhirnya. Ia datang untuk mengontrol apa saja yang telah kami kerjakan di lokasi KKM. Ibu Eni banyak menyampaikan gagasan untuk masyarakat disini. Mulai dari masalah pernikahan dini yang banyak terjadi di desa, pemberantasan buta huruf sampai pesan untuk kelompok kita. Pertemuan dengannya terasa singkat seperti hembusan angin sore. Ia pergi untuk mengobati kerinduan kedua anaknya yang telah menunggu bunda di rumah.

Sabtu, 21 Januari 2012

Jomlo

Hubungan pertemanan menjadi awal untuk melangkah ke tahap yang lebih serius. Ada perbedaan ketika hubungan masih sebatas teman dan lebih dari sekedar teman. Jika masih sebatas teman obrolan masih terasa ringan seperti angin yang datang tanpa beban. Setiap coloteh yang keluar dari mulut terasa begitu mengalir tanpa ada keragu-raguan. Aku sering merasakan hal ini. Semua berbeda jika lebih dari sekedar teman. Ada benteng penutup yang membuat obrolan terasa kaku. Harus ada yang dijaga sulit lagi untuk membuatnya cair.

Sendiri itu berani. Berani untuk menjalani segala setiap hal yang ada dalam hidup. Banyak dari manusia yang terus terpenjara dalam kesendirian. Seorang pemuja kesendirian masih punya cinta. Cinta untuk masih menjadi sendiri tanpa ada peraturan undang-undang kehidupan.

Tidak semua hal bisa dibagi termasuk cinta. Dampak dari itu telah melahirkan ideologi baru dengan nama "jomlo" sebutan untuk orang-orang yang tidak punya pasangan. Jomblo bukan sebuah kutukan, bukan bencana. Inilah jalan terbaik sampai datang waktu yang tepat untuk merubah kata itu menjadi tidak jomblo lagi. 


Kamis, 19 Januari 2012

Gairah

ketika datang tahun baru banyak dari masyarakat yang bergairah untuk menyambutnya. Gairah itu bisa berupa perayaan dengan meniup terompet, membuat sajian malam, sampai membakar kembang api tepat ketika tahun baru datang. Gairah adalah sesuatu yang tidak berwujud tapi bisa dirasakan. Siapapun pernah merasakan guncangan gairah dalam jiwa.

Ada baiknya konsep yang kita punya diselamatkan lewat tulisan. Karena konsep itu seperti nyawa, jika lepas dari raga sulit untuk menemukan penggantinya. Aku punya konsep untuk membangun gairah menulis agar terus terpelihara. Bebaskan diri dalam menulis sama seperti gairah. Terus bangkitkan kata-kata, cerita, imanajinasi karena itu bagian dari ritual menulis.

Hujan menjadi saksi, aku akan terus membangkitkan gairah-gairah termasuk gairah untuk mencintai dan dicintai olehmu. Selamat datang gairah!