Sabtu, 30 Juni 2012
Unforgettable Moment, One Day with Hijabers
Untuk pertama kalinya di Indonesia festival hijab digelar di Sabuga Bandung mulai dari tanggal 1315 Juni 2012 telah berhasil menarik perhatian pengunjung yang tidak sedikit.
Jumat, 29 Juni 2012
Aku Mulai Bekerja Besok
Dari hari-hari kemarin aku suka memutar lagu-lagu dari Adera, solois pria yang punya suara ciamik dan kemampuan bermain gitar diatas rata-rata solois lain. Awal pertama mendengar singel "Lebih Indah" ketika diputar di salah satu radio online darisana ada rasa penasaran untuk mencari informasi lebih banyak tentang sang penyanyi. Satu singel lagi yang aku putar hari ini sekaligus menonton video klipnya yaitu "Terlambat" dengan model klipnya Sarah Shafitri. "Jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan, jangan tunda, jangan tunda" itu sedikit potongan lirik dari lagu "Terlambat" Adera.
Tidak berlebihan jika aku harus berkata ini seperti hura-hara dalam ruang kehidupan. Tepatnya hari ini, temanku Ozan datang dengan penawaran menjajikan. Penawaran untuk bekerja menjadi seorang operator dengan jadwal shift pagi. Kerjaanku cukup mudah, hanya menjawab setiap pertanyaan yang masuk lewat sms dari jam 08.00 sampai jam 20.00 malam. Tidak hentinya ia menyebut nama supervisor dan meyakinkanku dengan berbagi macam kenikmatan termasuk gaji. "Kalau setuju, sekarang aku langsung telepon pak Endang untuk bilang sudah ada yang mengisi," ungkapnya sambil mencoba memulai percakapan di handphone.
Rutinitas yang biasanya kosong harus terisi dengan kegiatan yang padat saat tawaran sudah diterima. Aku langsung berangkat ke Buah Batu untuk wawancara. Saat sampai di kantor yang dimaksud, aku tidak takjub dengan tatanan konsep rumah modern saat itu karena wajar semua rumah minimalisnya hampir sama. Operator lain sibuk bekerja menjawab setiap sms yang masuk. Kedatanganku tidak mengagetkan, aku memilih untuk duduk sesekali menatap beberapa sudut. Pak Enjang sebagai supervisor masih sibuk mengontol operator yang tengah bertugas.
Dewasa, tenang dan berwibawa tiga hal itu yang kutangkap dari sosok pak Endang ketika mulai mewawancaraiku. Pertanyaan pertama tentang kesiapan dalam hal membagi waktu. Saat bekerja seorang operator dituntut untuk menjawab setiap pertanyaan biasanya pertanyaan beragam sampai dengan curhat hal pribadi. Aku ditugaskan untuk mengisi shift pagi, belum mulai bekerja sudah ada tawaran kenaikan gaji jika sudah bekerja selama 3 bulan dilanjutkan dengan jenjang karier. Selama 1 minggu ada waktu libur 1 hari bebas untuk memilih hari hari. Ada pekerjaan lain selain menjawab pertanyaan yaitu sebagai konsultan politik. Pengakuan dari supervisornya kita tidak mendukung salah satu calon cuma kita tugasnya lebih mempopulerkan politisi yang ingin populer di masyarakat.
Senyuman indah dariku memaniskan akhir wawancara. Mulai besok, aku sudah bisa bekerja dengan membawa CV. Saatnya pagi mengerti, jangan membuatku betah berlama-lama di kasur. Biarkan air mengajakku berpetualang menjawab tantangan. Aku mulai bekerja besok :)
Tidak berlebihan jika aku harus berkata ini seperti hura-hara dalam ruang kehidupan. Tepatnya hari ini, temanku Ozan datang dengan penawaran menjajikan. Penawaran untuk bekerja menjadi seorang operator dengan jadwal shift pagi. Kerjaanku cukup mudah, hanya menjawab setiap pertanyaan yang masuk lewat sms dari jam 08.00 sampai jam 20.00 malam. Tidak hentinya ia menyebut nama supervisor dan meyakinkanku dengan berbagi macam kenikmatan termasuk gaji. "Kalau setuju, sekarang aku langsung telepon pak Endang untuk bilang sudah ada yang mengisi," ungkapnya sambil mencoba memulai percakapan di handphone.
Rutinitas yang biasanya kosong harus terisi dengan kegiatan yang padat saat tawaran sudah diterima. Aku langsung berangkat ke Buah Batu untuk wawancara. Saat sampai di kantor yang dimaksud, aku tidak takjub dengan tatanan konsep rumah modern saat itu karena wajar semua rumah minimalisnya hampir sama. Operator lain sibuk bekerja menjawab setiap sms yang masuk. Kedatanganku tidak mengagetkan, aku memilih untuk duduk sesekali menatap beberapa sudut. Pak Enjang sebagai supervisor masih sibuk mengontol operator yang tengah bertugas.
Dewasa, tenang dan berwibawa tiga hal itu yang kutangkap dari sosok pak Endang ketika mulai mewawancaraiku. Pertanyaan pertama tentang kesiapan dalam hal membagi waktu. Saat bekerja seorang operator dituntut untuk menjawab setiap pertanyaan biasanya pertanyaan beragam sampai dengan curhat hal pribadi. Aku ditugaskan untuk mengisi shift pagi, belum mulai bekerja sudah ada tawaran kenaikan gaji jika sudah bekerja selama 3 bulan dilanjutkan dengan jenjang karier. Selama 1 minggu ada waktu libur 1 hari bebas untuk memilih hari hari. Ada pekerjaan lain selain menjawab pertanyaan yaitu sebagai konsultan politik. Pengakuan dari supervisornya kita tidak mendukung salah satu calon cuma kita tugasnya lebih mempopulerkan politisi yang ingin populer di masyarakat.
Senyuman indah dariku memaniskan akhir wawancara. Mulai besok, aku sudah bisa bekerja dengan membawa CV. Saatnya pagi mengerti, jangan membuatku betah berlama-lama di kasur. Biarkan air mengajakku berpetualang menjawab tantangan. Aku mulai bekerja besok :)
Selasa, 19 Juni 2012
Inilah UAS Mahasiswa Tingkat Akhir
Tuhan bantulah aku karena sesungguhnya, aku ingin menulis walau belum menemukan maksud dan tujuan dalam menulis. Ketika tadi, aku merasa benar-benar menjadi mahasiswa yang masuk kelas dengan pakaian rapi dan jas almamater untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Status mahasiswa tingkat akhir tidak berpengaruh sama sekali untuk merubah pikiran dosen. UAS mata kuliah pendalaman bahasa inggris tetap dilaksanakan hari ini. Satu persatu temanku sudah menempati kursi yang disediakan. Mimilih tempat duduk yang tepat agar bisa tenang mengerjakan dan tidak mendapat gangguan dari para pencari jawaban. Masuk ke kelas sekarang tidak bisa sembarangan karena harus dengan kartu ujian yang berwarna hijau lengkap dengan pas foto.
Saat soal sudah dibagikan dosen berpesan untuk tidak pergi ke toilet, tidak mengaktifkan handphone, dan terakhir tentu saja tidak mencontek. Kertas soal sudah aku pegang tidak ada perasaan gelisah sama sekali membebaniku. Otak mulai mencerna lalu mengajakku berkeliling mencari kebenaran tentang kekosongan jawaban. Aku memperhatikan setiap wajah mulai dari samping kiri dan kanan tidak lupa depan belakang semua terus menimbang-nimbang tentang jawaban yang benar. Kertas penuh soal itu pasti bisa aku taklukan dengan mudah tanpa perlu bantuan dari kementrian pendidikan.
UAS tidak lagi akan kutemui seandainya tidak ada kerinduan untuk mengulang mata kuliah. Sesekali aku ingin mengajakmu menikmati angkringan malam di sudut toko Dani sebagai bentuk suap agar tingkat kesulitanmu menyusut. Masih adakah rasa kepedulian, ketika UAS sudah menjadi barang langka karena skripsi telah menggerogoti setiap waktu luang mahasiswa tingkat akhir. Haruskan terjadi perselisihan antara keduanya karena berebut dari segi kepentingan.
Biarkan mahasiswa tingkat akhir sepertiku menciptakan skripsi tanpa melupakan UAS. Besok-besok aku akan membebaskan UAS dari cengkraman birokrasi kampus agar bisa membuat soal dan jawaban dengan mandiri tanpa bantuan dosen atau pembantunya.
Saat soal sudah dibagikan dosen berpesan untuk tidak pergi ke toilet, tidak mengaktifkan handphone, dan terakhir tentu saja tidak mencontek. Kertas soal sudah aku pegang tidak ada perasaan gelisah sama sekali membebaniku. Otak mulai mencerna lalu mengajakku berkeliling mencari kebenaran tentang kekosongan jawaban. Aku memperhatikan setiap wajah mulai dari samping kiri dan kanan tidak lupa depan belakang semua terus menimbang-nimbang tentang jawaban yang benar. Kertas penuh soal itu pasti bisa aku taklukan dengan mudah tanpa perlu bantuan dari kementrian pendidikan.
UAS tidak lagi akan kutemui seandainya tidak ada kerinduan untuk mengulang mata kuliah. Sesekali aku ingin mengajakmu menikmati angkringan malam di sudut toko Dani sebagai bentuk suap agar tingkat kesulitanmu menyusut. Masih adakah rasa kepedulian, ketika UAS sudah menjadi barang langka karena skripsi telah menggerogoti setiap waktu luang mahasiswa tingkat akhir. Haruskan terjadi perselisihan antara keduanya karena berebut dari segi kepentingan.
Biarkan mahasiswa tingkat akhir sepertiku menciptakan skripsi tanpa melupakan UAS. Besok-besok aku akan membebaskan UAS dari cengkraman birokrasi kampus agar bisa membuat soal dan jawaban dengan mandiri tanpa bantuan dosen atau pembantunya.
Kamis, 31 Mei 2012
Membangun Bisnis Lewat Komunitas
Sering kali sebelum memulai sesuatu orang Indonesia lebih suka dengan kata permintaan maaf walaupun belum jelas apa kesalahan yang dibuat. Maaf menjadi jalan pembuka dalam menghadapi tantangan kehidupan.Maaf, aku telah meracuni diri dengan sengatan kata dari motivator yang membisikan ajakan untuk tidak bekerja. Wirausaha itu lebih baik daripada karyawan. Mengapa harus wirausaha? karena banyak waktu luang dan tidak perlu diatur oleh orang lain. Alasan paling jujurnya adalah ingin kaya dan bisa berbagi tidak ada alasan lain. Aku memang sengaja datang ke sebuah seminar bisnis berbasis komunitas di gedung Graha Bakti Pos lantai 10.
Belum masuk ke ruang seminar sudah tersaji berbagai macam kreatifitas anak muda kreatif. Mulai dari lukisan sketch, kaos, makanan, sampai ada yang menamakan diri Doktor Promo dengan konsep menjual ide sampai desain untuk bisnis bisa apapun itu. Ada jejak kaki dalam bentuk stiker berwarna-warni menuju tempat seminar merupakan hasil karya mereka juga.
Semua yang terjadi mulai dari pembukaan sampai seminar berakhir semua diceritakan disini. Ada banyak ideide baru dari pembicara, pelaku usaha, peserta, dll
Djoeragan Tempe
Aku baru mendengar dan belum pernah merasakan seperti apa rasa tempe yang dimaksud. Pemilik dari bisnis Tempe Gila memulai bisnis dengan menjadi sales pembalut. Semua perubahan terjadi ketika sudah dekat dengan Tuhan lebat ibadah-ibadah seperti shalat dhuha, sedekah, dll.
myOyeah
Berawal dari sebuah situs www.myoyeah.com mulai muncul pada tahun 2008 dengan satu kata BEDA dari tahun ke tahun terus melakukan inovasi termasuk mendukung industri kreatif anak muda dalam dunia wirausaha.Sekarang menjadi wadah untuk wirausahawan muda yang kreatif dalam hal memasarkan produknya. Tidak hanya sekedar komunitas myOyeah juga punya Sharing Card kartu yang digunakan untuk identitas dan interaksi antar komunitas di myOyeah. Ada sebuah wadah dengan nama Subterrestrial yang diperuntukan bagi musisi yang ingin memulai usaha dengan menjual marchandise band, kuliner, sampai kursus musik.
Doktor Promo
Dengan baju batik coklat dan gaya yang santai, lelaki bertubuh gempal itu mempresentasikan bisnis yang tengah ia geluti bersama teman-temannya. Doktor Promo itulah bisnis yang bisa dibilang unik dan kreatif karena menjual ide, konsep, dan desain untuk promo produk secara kreatif. Bisa dibilang sebuah konsultan jasa yang menangani juga percetakan untuk promosi lewat flyer, x-banner, billboard, poster, dll. Doktor Promo punya motto "Ide Kami Mahal, Namun Gratis!" jangan takut lagi untuk pergi ke doktor karena doktor promo tidak menyuntik dengan cairan tapi menyuntik kamu dengan ide-ide kreatif untuk promosi produk bisnis. Klik www.doktorpromo.com
Bong Chandra
Motivator termuda se-Asia ini banyak menarik perhatian peserta seminar. Telah menulis buku Unlimited Wealth banyak bercerita tentang bisnis yang digeluti tentang perumahan yang dibangun di daerah gersang di Tangerang.
Belum masuk ke ruang seminar sudah tersaji berbagai macam kreatifitas anak muda kreatif. Mulai dari lukisan sketch, kaos, makanan, sampai ada yang menamakan diri Doktor Promo dengan konsep menjual ide sampai desain untuk bisnis bisa apapun itu. Ada jejak kaki dalam bentuk stiker berwarna-warni menuju tempat seminar merupakan hasil karya mereka juga.
Semua yang terjadi mulai dari pembukaan sampai seminar berakhir semua diceritakan disini. Ada banyak ideide baru dari pembicara, pelaku usaha, peserta, dll
Djoeragan Tempe
Aku baru mendengar dan belum pernah merasakan seperti apa rasa tempe yang dimaksud. Pemilik dari bisnis Tempe Gila memulai bisnis dengan menjadi sales pembalut. Semua perubahan terjadi ketika sudah dekat dengan Tuhan lebat ibadah-ibadah seperti shalat dhuha, sedekah, dll.
myOyeah
Berawal dari sebuah situs www.myoyeah.com mulai muncul pada tahun 2008 dengan satu kata BEDA dari tahun ke tahun terus melakukan inovasi termasuk mendukung industri kreatif anak muda dalam dunia wirausaha.Sekarang menjadi wadah untuk wirausahawan muda yang kreatif dalam hal memasarkan produknya. Tidak hanya sekedar komunitas myOyeah juga punya Sharing Card kartu yang digunakan untuk identitas dan interaksi antar komunitas di myOyeah. Ada sebuah wadah dengan nama Subterrestrial yang diperuntukan bagi musisi yang ingin memulai usaha dengan menjual marchandise band, kuliner, sampai kursus musik.
Doktor Promo
Dengan baju batik coklat dan gaya yang santai, lelaki bertubuh gempal itu mempresentasikan bisnis yang tengah ia geluti bersama teman-temannya. Doktor Promo itulah bisnis yang bisa dibilang unik dan kreatif karena menjual ide, konsep, dan desain untuk promo produk secara kreatif. Bisa dibilang sebuah konsultan jasa yang menangani juga percetakan untuk promosi lewat flyer, x-banner, billboard, poster, dll. Doktor Promo punya motto "Ide Kami Mahal, Namun Gratis!" jangan takut lagi untuk pergi ke doktor karena doktor promo tidak menyuntik dengan cairan tapi menyuntik kamu dengan ide-ide kreatif untuk promosi produk bisnis. Klik www.doktorpromo.com
Bong Chandra
Motivator termuda se-Asia ini banyak menarik perhatian peserta seminar. Telah menulis buku Unlimited Wealth banyak bercerita tentang bisnis yang digeluti tentang perumahan yang dibangun di daerah gersang di Tangerang.
Selasa, 29 Mei 2012
Sosok Lain Jelmaan Malaikat
7 hari dalam seminggu kulalui dengan berbagai macam kegiatan darisana tercipta jutaan cerita. Tidak ada yang tahu kapan kegelisahan bisa muncul di hari-hari yang telah dilewati. Jika setiap hari Selasa, aku harus masuk kuliah itu bukan sebuah kegelisahan, tapi itu sebuah kecerdikan dari dosen yang mencoba menghindar dari kejamnya hari Senin. Ketika itu duduk seorang lelaki pecandu rokok dengan kumis dan jenggot yang tumbuh subur di mukanya. Aku yakin dia hadir dengan membawa kegelisahan, itu tercermin dari setiap kobaran kata-kata yang keluar dari mulutnya. Fazar Fauzan, kenapa nama itu harus melekat pada dirinya. Jangan tanya diriku, tanyalah pada kedua orangtuanya.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa saja terjadi di waktu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Siang tidak seharusnya panas, Ozan (sapaan akrab Fajar Fauzan) telah berhasil menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Kedudukannya telah melebihi pemuka agama di Indonesia, ia berbicara banyak tentang islam dan bagaimana islam sekarang telah terjadi banyak perubahan. Mulai dari organisasi islam seperti NU, islam tradisionalis, sampai aksi penolakan artis lewat pemberitaan di sebuah media televisi dikupas habis-habisan. Jadi, aku, Pradi, Herton, Aad, dan Iqbal telah terbawa menjadi jemaah khutbah di hari Selasa. Jangan heran, kalau tiba-tiba diantara kami ada keinginan untuk shalat dan berbuat baik setelah itu.
"Aku jemput Siti Mariam dulu," ucap Ozan
Dengan sigap, ia melangkah keluar dari ayam Hesti dengan membawa helm untuk menjemput sesosok wanita cantik. Aku duduk menunggu datangnya mereka berdua sambil mencoba mengurai rasa sepi. Kali ini telah datang wanita jelmaan bidadari dengan sayap yang tidak terlihat. Wajahnya putih, suaranya indah, senyumnya manis melebihi manisnya gula. Aku mengerti mengapa Ozan ingin membawanya kesini. Suasana sudah cair, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus dilancarkan kepada Siti dengan maksud untuk menciptakan sebuah rasa. Keinginan untuk memiliki sebuah jalinan rasa. Sajian makanan sudah menanti, aku langsung memulai dengan minuman cappucino dingin dilanjutkan dengan nasi ayam penyet begitu juga dengan mereka berdua duduk di kursi yang saling berdekatan.
Makan siang kali ini merupakan ritual berbagi hasil dari uang beasiswa. Selesai makan, Ozan langsung mengantar Siti Mariam untuk pulang kembali ke kampus. Inilah jembatan untuk melanjutkan lewat berbagai macam jalan karena berbagai kemungkinan bisa terjadi tidak hanya di hari Selasa,bisa saja di hari Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa saja terjadi di waktu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Siang tidak seharusnya panas, Ozan (sapaan akrab Fajar Fauzan) telah berhasil menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Kedudukannya telah melebihi pemuka agama di Indonesia, ia berbicara banyak tentang islam dan bagaimana islam sekarang telah terjadi banyak perubahan. Mulai dari organisasi islam seperti NU, islam tradisionalis, sampai aksi penolakan artis lewat pemberitaan di sebuah media televisi dikupas habis-habisan. Jadi, aku, Pradi, Herton, Aad, dan Iqbal telah terbawa menjadi jemaah khutbah di hari Selasa. Jangan heran, kalau tiba-tiba diantara kami ada keinginan untuk shalat dan berbuat baik setelah itu.
"Aku jemput Siti Mariam dulu," ucap Ozan
Dengan sigap, ia melangkah keluar dari ayam Hesti dengan membawa helm untuk menjemput sesosok wanita cantik. Aku duduk menunggu datangnya mereka berdua sambil mencoba mengurai rasa sepi. Kali ini telah datang wanita jelmaan bidadari dengan sayap yang tidak terlihat. Wajahnya putih, suaranya indah, senyumnya manis melebihi manisnya gula. Aku mengerti mengapa Ozan ingin membawanya kesini. Suasana sudah cair, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus dilancarkan kepada Siti dengan maksud untuk menciptakan sebuah rasa. Keinginan untuk memiliki sebuah jalinan rasa. Sajian makanan sudah menanti, aku langsung memulai dengan minuman cappucino dingin dilanjutkan dengan nasi ayam penyet begitu juga dengan mereka berdua duduk di kursi yang saling berdekatan.
Makan siang kali ini merupakan ritual berbagi hasil dari uang beasiswa. Selesai makan, Ozan langsung mengantar Siti Mariam untuk pulang kembali ke kampus. Inilah jembatan untuk melanjutkan lewat berbagai macam jalan karena berbagai kemungkinan bisa terjadi tidak hanya di hari Selasa,bisa saja di hari Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu.
Kamis, 24 Mei 2012
Mengejar Hijaber
Ini bukan cerita tentang perlombaan lari maraton, estafet atau jenis lari lainnya.Sore tadi, aku bertemu dengan temanku Opik dari jurusan Ilmu Hukum, dia berpakian rapi layaknya pemerhati politik atau seperti asisten dosen yang baru pulang mengajar. Opik bertanya banyak hal padaku lalu aku bertanya sedikit hal kepadanya. Aku menangkap bahwa Opik suka menulis walau tidak berdasarkan teori. Hal terpenting menulis bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang dan itu benar.
Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.
Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.
Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.
Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.
Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.
Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.
Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.
Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.
Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.
Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.
Rabu, 18 April 2012
Tentang Fatia
Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Langganan:
Postingan (Atom)
