Sering kali sebelum memulai sesuatu orang Indonesia lebih suka dengan kata permintaan maaf walaupun belum jelas apa kesalahan yang dibuat. Maaf menjadi jalan pembuka dalam menghadapi tantangan kehidupan.Maaf, aku telah meracuni diri dengan sengatan kata dari motivator yang membisikan ajakan untuk tidak bekerja. Wirausaha itu lebih baik daripada karyawan. Mengapa harus wirausaha? karena banyak waktu luang dan tidak perlu diatur oleh orang lain. Alasan paling jujurnya adalah ingin kaya dan bisa berbagi tidak ada alasan lain. Aku memang sengaja datang ke sebuah seminar bisnis berbasis komunitas di gedung Graha Bakti Pos lantai 10.
Belum masuk ke ruang seminar sudah tersaji berbagai macam kreatifitas anak muda kreatif. Mulai dari lukisan sketch, kaos, makanan, sampai ada yang menamakan diri Doktor Promo dengan konsep menjual ide sampai desain untuk bisnis bisa apapun itu. Ada jejak kaki dalam bentuk stiker berwarna-warni menuju tempat seminar merupakan hasil karya mereka juga.
Semua yang terjadi mulai dari pembukaan sampai seminar berakhir semua diceritakan disini. Ada banyak ideide baru dari pembicara, pelaku usaha, peserta, dll
Djoeragan Tempe
Aku baru mendengar dan belum pernah merasakan seperti apa rasa tempe yang dimaksud. Pemilik dari bisnis Tempe Gila memulai bisnis dengan menjadi sales pembalut. Semua perubahan terjadi ketika sudah dekat dengan Tuhan lebat ibadah-ibadah seperti shalat dhuha, sedekah, dll.
myOyeah
Berawal dari sebuah situs www.myoyeah.com mulai muncul pada tahun 2008 dengan satu kata BEDA dari tahun ke tahun terus melakukan inovasi termasuk mendukung industri kreatif anak muda dalam dunia wirausaha.Sekarang menjadi wadah untuk wirausahawan muda yang kreatif dalam hal memasarkan produknya. Tidak hanya sekedar komunitas myOyeah juga punya Sharing Card kartu yang digunakan untuk identitas dan interaksi antar komunitas di myOyeah. Ada sebuah wadah dengan nama Subterrestrial yang diperuntukan bagi musisi yang ingin memulai usaha dengan menjual marchandise band, kuliner, sampai kursus musik.
Doktor Promo
Dengan baju batik coklat dan gaya yang santai, lelaki bertubuh gempal itu mempresentasikan bisnis yang tengah ia geluti bersama teman-temannya. Doktor Promo itulah bisnis yang bisa dibilang unik dan kreatif karena menjual ide, konsep, dan desain untuk promo produk secara kreatif. Bisa dibilang sebuah konsultan jasa yang menangani juga percetakan untuk promosi lewat flyer, x-banner, billboard, poster, dll. Doktor Promo punya motto "Ide Kami Mahal, Namun Gratis!" jangan takut lagi untuk pergi ke doktor karena doktor promo tidak menyuntik dengan cairan tapi menyuntik kamu dengan ide-ide kreatif untuk promosi produk bisnis. Klik www.doktorpromo.com
Bong Chandra
Motivator termuda se-Asia ini banyak menarik perhatian peserta seminar. Telah menulis buku Unlimited Wealth banyak bercerita tentang bisnis yang digeluti tentang perumahan yang dibangun di daerah gersang di Tangerang.
Kamis, 31 Mei 2012
Selasa, 29 Mei 2012
Sosok Lain Jelmaan Malaikat
7 hari dalam seminggu kulalui dengan berbagai macam kegiatan darisana tercipta jutaan cerita. Tidak ada yang tahu kapan kegelisahan bisa muncul di hari-hari yang telah dilewati. Jika setiap hari Selasa, aku harus masuk kuliah itu bukan sebuah kegelisahan, tapi itu sebuah kecerdikan dari dosen yang mencoba menghindar dari kejamnya hari Senin. Ketika itu duduk seorang lelaki pecandu rokok dengan kumis dan jenggot yang tumbuh subur di mukanya. Aku yakin dia hadir dengan membawa kegelisahan, itu tercermin dari setiap kobaran kata-kata yang keluar dari mulutnya. Fazar Fauzan, kenapa nama itu harus melekat pada dirinya. Jangan tanya diriku, tanyalah pada kedua orangtuanya.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa saja terjadi di waktu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Siang tidak seharusnya panas, Ozan (sapaan akrab Fajar Fauzan) telah berhasil menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Kedudukannya telah melebihi pemuka agama di Indonesia, ia berbicara banyak tentang islam dan bagaimana islam sekarang telah terjadi banyak perubahan. Mulai dari organisasi islam seperti NU, islam tradisionalis, sampai aksi penolakan artis lewat pemberitaan di sebuah media televisi dikupas habis-habisan. Jadi, aku, Pradi, Herton, Aad, dan Iqbal telah terbawa menjadi jemaah khutbah di hari Selasa. Jangan heran, kalau tiba-tiba diantara kami ada keinginan untuk shalat dan berbuat baik setelah itu.
"Aku jemput Siti Mariam dulu," ucap Ozan
Dengan sigap, ia melangkah keluar dari ayam Hesti dengan membawa helm untuk menjemput sesosok wanita cantik. Aku duduk menunggu datangnya mereka berdua sambil mencoba mengurai rasa sepi. Kali ini telah datang wanita jelmaan bidadari dengan sayap yang tidak terlihat. Wajahnya putih, suaranya indah, senyumnya manis melebihi manisnya gula. Aku mengerti mengapa Ozan ingin membawanya kesini. Suasana sudah cair, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus dilancarkan kepada Siti dengan maksud untuk menciptakan sebuah rasa. Keinginan untuk memiliki sebuah jalinan rasa. Sajian makanan sudah menanti, aku langsung memulai dengan minuman cappucino dingin dilanjutkan dengan nasi ayam penyet begitu juga dengan mereka berdua duduk di kursi yang saling berdekatan.
Makan siang kali ini merupakan ritual berbagi hasil dari uang beasiswa. Selesai makan, Ozan langsung mengantar Siti Mariam untuk pulang kembali ke kampus. Inilah jembatan untuk melanjutkan lewat berbagai macam jalan karena berbagai kemungkinan bisa terjadi tidak hanya di hari Selasa,bisa saja di hari Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa saja terjadi di waktu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Siang tidak seharusnya panas, Ozan (sapaan akrab Fajar Fauzan) telah berhasil menjelma menjadi malaikat tanpa sayap. Kedudukannya telah melebihi pemuka agama di Indonesia, ia berbicara banyak tentang islam dan bagaimana islam sekarang telah terjadi banyak perubahan. Mulai dari organisasi islam seperti NU, islam tradisionalis, sampai aksi penolakan artis lewat pemberitaan di sebuah media televisi dikupas habis-habisan. Jadi, aku, Pradi, Herton, Aad, dan Iqbal telah terbawa menjadi jemaah khutbah di hari Selasa. Jangan heran, kalau tiba-tiba diantara kami ada keinginan untuk shalat dan berbuat baik setelah itu.
"Aku jemput Siti Mariam dulu," ucap Ozan
Dengan sigap, ia melangkah keluar dari ayam Hesti dengan membawa helm untuk menjemput sesosok wanita cantik. Aku duduk menunggu datangnya mereka berdua sambil mencoba mengurai rasa sepi. Kali ini telah datang wanita jelmaan bidadari dengan sayap yang tidak terlihat. Wajahnya putih, suaranya indah, senyumnya manis melebihi manisnya gula. Aku mengerti mengapa Ozan ingin membawanya kesini. Suasana sudah cair, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus dilancarkan kepada Siti dengan maksud untuk menciptakan sebuah rasa. Keinginan untuk memiliki sebuah jalinan rasa. Sajian makanan sudah menanti, aku langsung memulai dengan minuman cappucino dingin dilanjutkan dengan nasi ayam penyet begitu juga dengan mereka berdua duduk di kursi yang saling berdekatan.
Makan siang kali ini merupakan ritual berbagi hasil dari uang beasiswa. Selesai makan, Ozan langsung mengantar Siti Mariam untuk pulang kembali ke kampus. Inilah jembatan untuk melanjutkan lewat berbagai macam jalan karena berbagai kemungkinan bisa terjadi tidak hanya di hari Selasa,bisa saja di hari Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu.
Kamis, 24 Mei 2012
Mengejar Hijaber
Ini bukan cerita tentang perlombaan lari maraton, estafet atau jenis lari lainnya.Sore tadi, aku bertemu dengan temanku Opik dari jurusan Ilmu Hukum, dia berpakian rapi layaknya pemerhati politik atau seperti asisten dosen yang baru pulang mengajar. Opik bertanya banyak hal padaku lalu aku bertanya sedikit hal kepadanya. Aku menangkap bahwa Opik suka menulis walau tidak berdasarkan teori. Hal terpenting menulis bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang dan itu benar.
Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.
Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.
Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.
Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.
Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.
Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.
Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.
Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.
Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.
Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.
Rabu, 18 April 2012
Tentang Fatia
Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Minggu, 08 April 2012
Tindak Lanjut Untuk Diklat Bersama FKPMB
Sebagai mahasiswa tingkat akhir jadwal kuliahku tidak terlalu padat sehingga banyak waktu kosong. Sore hari tepatnya aku bersama Ozan pergi menuju ISOLA POS, UPI ada pertemuan antara Pimpinan Umum seluruh pers mahasiswa di Bandung untuk membicarakan agenda Diklat Bersama. Beberapa sudut jalan di Bandung terlihat basah, aku bisa merasakan segarnya udara sore sehabis hujan. Setiabudi menjadi pusat lokasi factory outlet, dan kuliner yang terkenal di Bandung. Laju akhir motor berhenti di depan pintu masuk kampus Universitas Pendidikan Indonesia.
Sampai di sekretariat ISOLA POS aku bertemu dengan Isman, Siti dan seorang wanita berkacamata yang wajahnya masih asing. Koran KOMPAS dan majalah TEMPO berserakan di lantai. Ruangan tidak tertata dengan rapi banyak sisa bungkus makanan dan minuman. Gelas menjadi asbak sudah menjadi pemandangan biasa. Sudah bisa ditebak pasti ada perokok yang menghinggapi tempat ini.
Ruangan yang tidak memadai membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk pertemuan sore itu. Satu persatu para pemimpin mulai berdatangan. Ada dari Media Parahyangan, E-Pers, Birama, Gema Suara, Daunjati, dan Suara Mahasiswa pertemuan membicarakan tentang rencana diklat bersama FKPMB. FKPMB merupakan sebuah Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung didirikan pada bulan Mei 2011 sebagai sebuah forum untuk menjalin komunikasi antar pers mahasiswa di Bandung. Sudah diputuskan Diklat Bersama akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 April 2012 di kampus II UNISBA, di daerah Ciburial. Setiap persma wajib membayar Rp 100.000,- untuk biaya acara dan mengirimkan 3-5 anggotanya. Setiap anggota wajib membayar Rp 35.000,-
Ada persolan yang belum selesai yaitu menentukan penannggung jawab konsumsi untuk acara nanti. Konsumsi dipercayakan kepada Aziz, pembayaran dan konfirmasi diklat kepada Suara Mahasiswa dan Daunjati, lalu acara seluruhnya pada ISOLA POS, dan Humas oleh SUAKA dibantu oleh Gema Suara. Malam semakin tidak bersahabat karena membawa kegelapan dan menyebar angin bercampur es. Pertemuan harus berakhir secepat kata penutup dari ISOLA sebagai tuan rumah.
Malam menjadi surga bagi mereka penikmat kehidupan malam. Sulit menemukan lokasi yang tidak terjamah oleh lampu. Mobil-mobil mewah terparkir dengan rapih, pemilknya terlihat duduk santai menikmati makanan dan minuman di cafe. Aku sempat menyambangi sebuah Cafe bernama Madtari yang terletak di bilangan jalan Tamansari. Cafe itu hasil rekomendasi dari Ozan, ia dulu pernah pergi kesana. Makanan tersaji dengan cepat, Madtari terkenal dengan taburan kejunya yang menumpuk seperti daun-daun berguguran. Malam ini aku menikmati mie goreng jumbo keju dan es milo. Nikmat sungguh rasanya.
Sampai di sekretariat ISOLA POS aku bertemu dengan Isman, Siti dan seorang wanita berkacamata yang wajahnya masih asing. Koran KOMPAS dan majalah TEMPO berserakan di lantai. Ruangan tidak tertata dengan rapi banyak sisa bungkus makanan dan minuman. Gelas menjadi asbak sudah menjadi pemandangan biasa. Sudah bisa ditebak pasti ada perokok yang menghinggapi tempat ini.
Ruangan yang tidak memadai membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk pertemuan sore itu. Satu persatu para pemimpin mulai berdatangan. Ada dari Media Parahyangan, E-Pers, Birama, Gema Suara, Daunjati, dan Suara Mahasiswa pertemuan membicarakan tentang rencana diklat bersama FKPMB. FKPMB merupakan sebuah Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung didirikan pada bulan Mei 2011 sebagai sebuah forum untuk menjalin komunikasi antar pers mahasiswa di Bandung. Sudah diputuskan Diklat Bersama akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 April 2012 di kampus II UNISBA, di daerah Ciburial. Setiap persma wajib membayar Rp 100.000,- untuk biaya acara dan mengirimkan 3-5 anggotanya. Setiap anggota wajib membayar Rp 35.000,-
Ada persolan yang belum selesai yaitu menentukan penannggung jawab konsumsi untuk acara nanti. Konsumsi dipercayakan kepada Aziz, pembayaran dan konfirmasi diklat kepada Suara Mahasiswa dan Daunjati, lalu acara seluruhnya pada ISOLA POS, dan Humas oleh SUAKA dibantu oleh Gema Suara. Malam semakin tidak bersahabat karena membawa kegelapan dan menyebar angin bercampur es. Pertemuan harus berakhir secepat kata penutup dari ISOLA sebagai tuan rumah.
Malam menjadi surga bagi mereka penikmat kehidupan malam. Sulit menemukan lokasi yang tidak terjamah oleh lampu. Mobil-mobil mewah terparkir dengan rapih, pemilknya terlihat duduk santai menikmati makanan dan minuman di cafe. Aku sempat menyambangi sebuah Cafe bernama Madtari yang terletak di bilangan jalan Tamansari. Cafe itu hasil rekomendasi dari Ozan, ia dulu pernah pergi kesana. Makanan tersaji dengan cepat, Madtari terkenal dengan taburan kejunya yang menumpuk seperti daun-daun berguguran. Malam ini aku menikmati mie goreng jumbo keju dan es milo. Nikmat sungguh rasanya.
Senin, 26 Maret 2012
Menyambangi Jakarta Menuju TRANS TV
Aksi demontrasi menolak kenaikan harga BBM akan terus berlanjut. Senin pagi tepatnya FDK, buruh, PMII dan sekelompok mahasiswa berencana pergi ke Gedung Sate, Bandung untuk berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Hilda datang membawa setetes senyuman mengusir kesepianku di waktu pagi. Tidak lama kemudian datang Siti Mariam bersama sahabat dekatnya Iis. 3 wanita itu punya keinginan yang sama datang untuk meliput aksi demontrasi di kampus.
Saat semua kondisi sudah aman, aku bersama Ozan langsung pergi ke kampus meninggalkan Asrama 2 Saudara. Belum lama muncul Nirra dengan motor mio hitam miliknya. Anggota baru SUAKA juga berkumpul di depan kampus untuk membicarakan peliputan demo ke Gedung Sate. Aku sempat melihat wajah seorang wanita di pintu gerbang masuk kampus.Kedua bola mata lentiknya menatap kearahku. Sepintas, secepat angin berlari menghampiriku. Ozan memberikan handphonenya kepadaku, katanya Tiara ingin bicara. Dengan penuh harap dia memintaku untuk ikut pergi ke Jakarta hari ini.
Aku sendiri masih belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Tiara, ia hanya ingin aku bisa membantu temannya untuk membuat sebuah cerita SKETSA yang tayang di TRANS TV. Saran dari Ozan coba dulu pergi kesana siapa tahu itu kesempatan bagus. Aku bertemu Tiara di rumahnya daerah Pasir Jati brdekatan dengan SMP 50 Bandung. Rumah Tiara ditutup rapat oleh pagar, banyak tanaman tumbuh disana. Tiara keluar rumah dengan keadaan siap untuk berangkat seperti seorang petualang wanita dengan tas yang cukup besar.
Jarak antara Bandung menuju Jakarta tidak memakan banyak waktu. Aku dan Tiara pergi kesana dengan menggunakan BARAYA Travel kami berdua turun tepat di depan kantor TRANS TV. cuaca kota Jakarta memang panas itu terasa saat aku keluar dari mobil travel. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa terlebih pergerakan manusia ibukota tidak dibatasi oleh waktu.
Outsourcing dan brainstorming 2 hal itu yang aku kerjakan selama ada di Jakarta. Aku bertemu untuk braainstorming cerita SKETSA di gedung TRANS TV lantai 7 inilah pertama kalinya bagiku melihat langsung sebuah kantor statsiun televisi. Para karyawan TRANS cukup ramah kepada setiap pengunjung yang datang. Dalam ruang SKETSA aku berkenalan satu persatu dengan karyawan disana, ada Wahid, Ika, Ilham, dll. Kekuatan dari SKETSA ada di setting tempat, alur cerita dan klimaks. Tidak jarang jika alur cerita yang biasa-biasa langsung ditolak saat brainstorming atau kejadian yang sama kembali diulang ketika di setting tempat yang baru.
Saat semua kondisi sudah aman, aku bersama Ozan langsung pergi ke kampus meninggalkan Asrama 2 Saudara. Belum lama muncul Nirra dengan motor mio hitam miliknya. Anggota baru SUAKA juga berkumpul di depan kampus untuk membicarakan peliputan demo ke Gedung Sate. Aku sempat melihat wajah seorang wanita di pintu gerbang masuk kampus.Kedua bola mata lentiknya menatap kearahku. Sepintas, secepat angin berlari menghampiriku. Ozan memberikan handphonenya kepadaku, katanya Tiara ingin bicara. Dengan penuh harap dia memintaku untuk ikut pergi ke Jakarta hari ini.
Aku sendiri masih belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Tiara, ia hanya ingin aku bisa membantu temannya untuk membuat sebuah cerita SKETSA yang tayang di TRANS TV. Saran dari Ozan coba dulu pergi kesana siapa tahu itu kesempatan bagus. Aku bertemu Tiara di rumahnya daerah Pasir Jati brdekatan dengan SMP 50 Bandung. Rumah Tiara ditutup rapat oleh pagar, banyak tanaman tumbuh disana. Tiara keluar rumah dengan keadaan siap untuk berangkat seperti seorang petualang wanita dengan tas yang cukup besar.
Jarak antara Bandung menuju Jakarta tidak memakan banyak waktu. Aku dan Tiara pergi kesana dengan menggunakan BARAYA Travel kami berdua turun tepat di depan kantor TRANS TV. cuaca kota Jakarta memang panas itu terasa saat aku keluar dari mobil travel. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa terlebih pergerakan manusia ibukota tidak dibatasi oleh waktu.
Outsourcing dan brainstorming 2 hal itu yang aku kerjakan selama ada di Jakarta. Aku bertemu untuk braainstorming cerita SKETSA di gedung TRANS TV lantai 7 inilah pertama kalinya bagiku melihat langsung sebuah kantor statsiun televisi. Para karyawan TRANS cukup ramah kepada setiap pengunjung yang datang. Dalam ruang SKETSA aku berkenalan satu persatu dengan karyawan disana, ada Wahid, Ika, Ilham, dll. Kekuatan dari SKETSA ada di setting tempat, alur cerita dan klimaks. Tidak jarang jika alur cerita yang biasa-biasa langsung ditolak saat brainstorming atau kejadian yang sama kembali diulang ketika di setting tempat yang baru.
Selasa, 14 Februari 2012
Teruntuk Seseorang
Sejak kehadiran blog banyak orang yang tertarik untuk mencoba layanan ini. Alasan ketertarikan mereka bermacam-macam. Mulai dari iseng-iseng, penasaran sampai serius menjalani profesi sebagai blogger. Blogspot kini telah menjadi catatan harian digital seseorang. Sebuah blog tidak hanya diisi oleh tulisan tapi bisa juga diisi dengan foto dan video. Tulisan dari seorang blogger merupakan rangkaian cerita kehidupan dimulai dari cinta sampai hal-hal yang tidak pernah dituliskan sebelumnya. Tema yang satu ini banyak menarik perhatian para blogger. Walau pada kenyataanya tidak semuanya suka untuk menulis tentang cinta. Sebuah blog yang berisi cinta biasanya hanya bertahan sampai beberapa postingan saja seperti curhatan pribadi, puisi, lirik lagu, sampai foto mesra bersama pacar.
Perubahan yang terjadi pada dirinya banyak menarik perhatian orang-orang. Perubahan kecil yang punya dampak besar. Kini, ia seperti punya magnet kuat untuk menarik perhatian pria. Aku tidak pernah ada perasaan sama sekali kepadanya. Jalinan aku dan dirinya sebagai teman yang tidak terlalu dekat dan jauh. Kacamata yang dulu di pakai sudah ia lepas. Setiap tatapan dari dirinya penuh ketulusan dan jujur. Itulah dia telah berbeda tapi masih punya sifat yang sama.
Perubahan yang terjadi pada dirinya banyak menarik perhatian orang-orang. Perubahan kecil yang punya dampak besar. Kini, ia seperti punya magnet kuat untuk menarik perhatian pria. Aku tidak pernah ada perasaan sama sekali kepadanya. Jalinan aku dan dirinya sebagai teman yang tidak terlalu dekat dan jauh. Kacamata yang dulu di pakai sudah ia lepas. Setiap tatapan dari dirinya penuh ketulusan dan jujur. Itulah dia telah berbeda tapi masih punya sifat yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
