ketika datang tahun baru banyak dari masyarakat yang bergairah untuk menyambutnya. Gairah itu bisa berupa perayaan dengan meniup terompet, membuat sajian malam, sampai membakar kembang api tepat ketika tahun baru datang. Gairah adalah sesuatu yang tidak berwujud tapi bisa dirasakan. Siapapun pernah merasakan guncangan gairah dalam jiwa.
Ada baiknya konsep yang kita punya diselamatkan lewat tulisan. Karena konsep itu seperti nyawa, jika lepas dari raga sulit untuk menemukan penggantinya. Aku punya konsep untuk membangun gairah menulis agar terus terpelihara. Bebaskan diri dalam menulis sama seperti gairah. Terus bangkitkan kata-kata, cerita, imanajinasi karena itu bagian dari ritual menulis.
Hujan menjadi saksi, aku akan terus membangkitkan gairah-gairah termasuk gairah untuk mencintai dan dicintai olehmu. Selamat datang gairah!
Kamis, 19 Januari 2012
Selasa, 27 Desember 2011
Konsep Baru Tabloid SUAKA
Hujan datang dan pergi dengan bebas. Tidak ada satupun manusia yang bisa membaca datangnya hujan termasuk aku. Aku percaya hujan berteman baik dengan awan kelabu dan suara petir bernada tinggi. Desember bukan bulan yang ditunggu tapi bulan penutup dimana akan tergadinya pergantian tahun.
Dalam suasana pagi yang cerah, aku masih setia menatap awan sesekali aku mencoba untuk mencengkram mentari. Itulah kegiatanku selama di Asrama 2 Saudara, sebuah tempat yang kini menjadi sarang berkumpulnya para aktivis kampus. SUAKA sendiri menguasai dua ruangan bernomor 11 dan 12
Tulisan ini belum selesai dan akan disambung di edisi selanjutnya.
Dalam suasana pagi yang cerah, aku masih setia menatap awan sesekali aku mencoba untuk mencengkram mentari. Itulah kegiatanku selama di Asrama 2 Saudara, sebuah tempat yang kini menjadi sarang berkumpulnya para aktivis kampus. SUAKA sendiri menguasai dua ruangan bernomor 11 dan 12
Tulisan ini belum selesai dan akan disambung di edisi selanjutnya.
Selasa, 29 November 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Pengenalan SUAKA Lewat Video
Pers Mahasiswa adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang penerbitan media yang ada di kampus. Media itu bisa berbentuk majalah, tabloid, buletin, selembaran, dll
Video ini mencoba menggambarkan pristiwa yang terjadi selama ini di kampus dalam bentuk visualisasi.
Video ini mencoba menggambarkan pristiwa yang terjadi selama ini di kampus dalam bentuk visualisasi.
Sabtu, 17 September 2011
Panitia OPAK Yang Kurang Bertanggung Jawab
Banyak hal menarik yang bisa ditemukan dalam OPAK tahun ini. Salah satunya serangan tiba-tiba dari sejumlah orang ke kantor panitia OPAK. Malam itu sejumlah orang datang ke kantor panitia OPAK, seorang dari mereka memukul panitia sambil berteriak “mana panitia OPAK teh?” tidak ada dari panitia lain yang berani untuk melawannya. Semua hanya bisa melihat apa yang terjadi. Setelah puas memukul, lelaki itu pergi ke luar bersama temannya yang lain. Ada apa sebenarnya dibalik aksi pemukulan itu?
Ini semua pasti erat kaitannya dengan proyek OPAK. Proyek untuk meraih keuntungan dari setiap kegiatan yang dijalani mahasiswa baru. Seorang mahasiswa baru mulai bercerita, ia kesal ketika panitia menolak perlengkapan baksos yang dibawanya dari rumah. Menurut panitia perlengkapan baksos harus dibeli ditempat yang sudah ditentukan. Sungguh tragis, dimana hati nurani mereka? Sampai-sampai baksos harus dibuat sebagai alat untuk meraih keuntungan.
Sehabis serangan itu tidak ada seorangpun panitia yang berani untuk diam di kantor. Semua pergi menghilang entah kemana, padahal malam itu harus ada acara penutupan OPAK. Di lapangan hanya nampak beberapa panitia dan dua orang pembawa acara yang gagah berani. Bayangkan siapa yang mengatur ribuan mahasiswa baru. Acara malam itu berantakan mahasiswa baru bebas berkeliaran dan acara penutupan OPAK terkesan terpaksa.
Panas dan debu itulah dua hal yang akan menjadi ingatan untuk mahasiswa baru. Acara yang telah dijadwalkan tidak pernah berjalan tepat waktu. Mahasiswa baru banyak kecewa dari segi pelayanan yang kurang memuaskan. Harusnya kehadiran mereka ke kampus ini disambut dengan sebaik-baiknya. Itulah tugas dari panitia OPAK jangan hanya mengejar materi semata. Ingat kinerja panitia lain yang telah berusaha semaksimal mungkin. Jangan buat mereka kecewa dan putus asa.
Tanpa mengurangi rasa hormat harusnya fasilitas OPAK dipersiapkan jauh-jauh hari. Berikan tender kepada orang yang tepat. Dengan itu tidak akan ada lagi mahasiswa baru yang mengeluh dan menagih fasilitas OPAK. Hal ini masih terbukti sampai sekarang banyak dari mereka yang belum mendapat fasilitas itu.
Kalian boleh tersenyum bahagia atas materi yang telah didapat dari OPAK. Ingatlah masih ada orang-orang yang akan mengawasi apa yang kalian perbuat selanjutnya, termasuk kami. Jadilah panitia yang bertanggung jawab jangan lari dari masalah yang ada di depan mata. Beginilah nasib kampus yang penguasanya tidak bisa apa-apa. Lebih baik jadi mahasiswa apatis yang bisa bersenang-senang dengan uang dari orang tua bukan uang dari uang mahasiswa.
Ini semua pasti erat kaitannya dengan proyek OPAK. Proyek untuk meraih keuntungan dari setiap kegiatan yang dijalani mahasiswa baru. Seorang mahasiswa baru mulai bercerita, ia kesal ketika panitia menolak perlengkapan baksos yang dibawanya dari rumah. Menurut panitia perlengkapan baksos harus dibeli ditempat yang sudah ditentukan. Sungguh tragis, dimana hati nurani mereka? Sampai-sampai baksos harus dibuat sebagai alat untuk meraih keuntungan.
Sehabis serangan itu tidak ada seorangpun panitia yang berani untuk diam di kantor. Semua pergi menghilang entah kemana, padahal malam itu harus ada acara penutupan OPAK. Di lapangan hanya nampak beberapa panitia dan dua orang pembawa acara yang gagah berani. Bayangkan siapa yang mengatur ribuan mahasiswa baru. Acara malam itu berantakan mahasiswa baru bebas berkeliaran dan acara penutupan OPAK terkesan terpaksa.
Panas dan debu itulah dua hal yang akan menjadi ingatan untuk mahasiswa baru. Acara yang telah dijadwalkan tidak pernah berjalan tepat waktu. Mahasiswa baru banyak kecewa dari segi pelayanan yang kurang memuaskan. Harusnya kehadiran mereka ke kampus ini disambut dengan sebaik-baiknya. Itulah tugas dari panitia OPAK jangan hanya mengejar materi semata. Ingat kinerja panitia lain yang telah berusaha semaksimal mungkin. Jangan buat mereka kecewa dan putus asa.
Tanpa mengurangi rasa hormat harusnya fasilitas OPAK dipersiapkan jauh-jauh hari. Berikan tender kepada orang yang tepat. Dengan itu tidak akan ada lagi mahasiswa baru yang mengeluh dan menagih fasilitas OPAK. Hal ini masih terbukti sampai sekarang banyak dari mereka yang belum mendapat fasilitas itu.
Kalian boleh tersenyum bahagia atas materi yang telah didapat dari OPAK. Ingatlah masih ada orang-orang yang akan mengawasi apa yang kalian perbuat selanjutnya, termasuk kami. Jadilah panitia yang bertanggung jawab jangan lari dari masalah yang ada di depan mata. Beginilah nasib kampus yang penguasanya tidak bisa apa-apa. Lebih baik jadi mahasiswa apatis yang bisa bersenang-senang dengan uang dari orang tua bukan uang dari uang mahasiswa.
Sabtu, 20 Agustus 2011
FKPMB Bicara Tentang Pluralisme Agama
Sambil menunggu datangnya adzan maghrib, FKPMB (Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung) kembali menggelar diskusi bulanan bertempat di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selasa (16/08). Diskusi ini mengangkat tema tentang prularisme agama.
“Isu seputar agama masih jadi hal yang seksi untuk dibicarakan” ungkap Fajar Fauzan selaku moderator.
Diskusi dimulai sekitar pukul 16.30 dengan pembicara Iki, mahasiswa dari jurusan Aqidah Filsafat yang aktif di LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman). Dia memaparkan awal terjadinya pluralisme dari dulu sampai sekarang.
Setelah pemaparan dari pembicara, acara dilanjutkan dengan diskusi publik. Setiap persma yang datang diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan mereka tentang pluralisme yang terjadi. Diskusi terus berlanjut, namun tidak terasa adzan maghrib telah berkumandang sebagai tanda waktu berbuka puasa.
Diskusi bulanan FKPMB diakhiri dengan acara berbuka puasa bersama dengan minuman es buah yang segar ditambah dengan gorengan ala kadarnya.
Tulisan ini dimuat di SUAKA Online:
http://www.suakaonline.com/2011/08/17/fkpmb-bicara-tentang-pluralisme-agama/
“Isu seputar agama masih jadi hal yang seksi untuk dibicarakan” ungkap Fajar Fauzan selaku moderator.
Diskusi dimulai sekitar pukul 16.30 dengan pembicara Iki, mahasiswa dari jurusan Aqidah Filsafat yang aktif di LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman). Dia memaparkan awal terjadinya pluralisme dari dulu sampai sekarang.
Setelah pemaparan dari pembicara, acara dilanjutkan dengan diskusi publik. Setiap persma yang datang diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan mereka tentang pluralisme yang terjadi. Diskusi terus berlanjut, namun tidak terasa adzan maghrib telah berkumandang sebagai tanda waktu berbuka puasa.
Diskusi bulanan FKPMB diakhiri dengan acara berbuka puasa bersama dengan minuman es buah yang segar ditambah dengan gorengan ala kadarnya.
Tulisan ini dimuat di SUAKA Online:
http://www.suakaonline.com/2011/08/17/fkpmb-bicara-tentang-pluralisme-agama/
Langganan:
Postingan (Atom)

