Jumat, 27 Januari 2012

Pertemuan Dengan Anggota Karang Taruna Unit 12

Motor mio merah datang tepat di depan mataku. Lelaki berkulit sawo matang kemudian menatap ke arahku kemudian bertanya “Nuju pada dimarana keneh nu sanes tos ngantosan?” Pertanyaan itu mengingatkanku pada Ali dan Chandra yang baru saja pergi. Aku menjawabnya “Tadi teh duaan tos kaditu dipayun ka bumi bapak”.

Aku dibawa sang pengemudi menuju sebuah tempat perkumpulan yang diketahuinya. Malam terus memperhatikan setiap laju kita. Karena gelap sulit untuk menembus jalan yang penuh kerikil di desa Cipaku. Laju motor yang gigih telah membawaku sampai di sebuah rumah. Rumah itu sudah dipenuhi oleh para penduduk yang kebanyakan anggota aktif dari karang taruna unit 12. Satu persatu penduduk aku salami. Kebanyakan dari mereka sudah berusia dewasa dan menikah. Terlihat juga ada ketua RW 12 duduk di lantai beralaskan karpet.

Acara dibuka oleh seorang pembawa acara dari warga. Aku duduk bersampingan dengan Arli sedangkan Chandra bersebelahan dengan ketua karang taruna, pak Opo Mustofa. Agar lebih leluasa bahasa sunda dipilih untuk bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Pada saat memberi sambutan, ketua Karang Taruna mulai memperkenalkan semua anggota yang hadir. Ada Aam, Tony, bu Cici, bu Susi, dll. Semua datang dari latar belakang yang berbeda.

Chandra bagian olahraga, seni dan kepemudaan di kelompok 18 mulai menjelaskan maksud kedatangan mahasiswa KKM UIN Bandung ke kampung Pabean ini. Kami ingin belajar disini dan membantu dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Selain itu akan ada pertandingan Volli dan tournament sepakbola untuk kategori anak-anak. Untuk Volli kategori A,B,C putra dan putri selanjutnya kompetisi sepakbola akan dibicarakan malam ini.

Karang Taruna kampung Pabean sudah mengerti dan berpengalaman dalam hal melaksanakan kompetisi sepakbola. Toni selaku pengurus lapangan langsung memberi masukan. Menurutnya untuk sebuah kompetisi sepakbola disebut gampang, memang gampang. Disebut sulit juga memang sulit. Banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama masalah perizinan ke pihak kepolisian. Perizinan biasanya menghabiskan banyak biaya sampai jutaan. Contoh kecil untuk perizinan awal panitia harus mengeluarkan dana sekitar Rp2.000.000,- belum lagi untuk perizinan selanjutnya. Dari pemaparan itu, aku sempat berpikir dari perizinan saja sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak belum lagi untuk hadiah,wasit, dll.

Dari penjelasan pak Toni aku, Arli dan Chandra jadi banyak tahu dan mengerti. Pada akhirnya kompetisi sepakbola bukanlah pilihan tepat. Pertandingan eksibisi menjadi pilihan pengganti untuk itu. Karena malam yang semakin larut, acara perkumpulan bersama karang taruna unit 12 langsung ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua RW 12.

Sore hari sebelum makan malam, dosen pembimbing lapangan, Ibu Eni Julaiha, M.Ag sempat berkunjung ke tempat kami. Kelompok 18 jadi persinggahan terakhirnya. Ia datang untuk mengontrol apa saja yang telah kami kerjakan di lokasi KKM. Ibu Eni banyak menyampaikan gagasan untuk masyarakat disini. Mulai dari masalah pernikahan dini yang banyak terjadi di desa, pemberantasan buta huruf sampai pesan untuk kelompok kita. Pertemuan dengannya terasa singkat seperti hembusan angin sore. Ia pergi untuk mengobati kerinduan kedua anaknya yang telah menunggu bunda di rumah.

Sabtu, 21 Januari 2012

Jomlo

Hubungan pertemanan menjadi awal untuk melangkah ke tahap yang lebih serius. Ada perbedaan ketika hubungan masih sebatas teman dan lebih dari sekedar teman. Jika masih sebatas teman obrolan masih terasa ringan seperti angin yang datang tanpa beban. Setiap coloteh yang keluar dari mulut terasa begitu mengalir tanpa ada keragu-raguan. Aku sering merasakan hal ini. Semua berbeda jika lebih dari sekedar teman. Ada benteng penutup yang membuat obrolan terasa kaku. Harus ada yang dijaga sulit lagi untuk membuatnya cair.

Sendiri itu berani. Berani untuk menjalani segala setiap hal yang ada dalam hidup. Banyak dari manusia yang terus terpenjara dalam kesendirian. Seorang pemuja kesendirian masih punya cinta. Cinta untuk masih menjadi sendiri tanpa ada peraturan undang-undang kehidupan.

Tidak semua hal bisa dibagi termasuk cinta. Dampak dari itu telah melahirkan ideologi baru dengan nama "jomlo" sebutan untuk orang-orang yang tidak punya pasangan. Jomblo bukan sebuah kutukan, bukan bencana. Inilah jalan terbaik sampai datang waktu yang tepat untuk merubah kata itu menjadi tidak jomblo lagi. 


Kamis, 19 Januari 2012

Gairah

ketika datang tahun baru banyak dari masyarakat yang bergairah untuk menyambutnya. Gairah itu bisa berupa perayaan dengan meniup terompet, membuat sajian malam, sampai membakar kembang api tepat ketika tahun baru datang. Gairah adalah sesuatu yang tidak berwujud tapi bisa dirasakan. Siapapun pernah merasakan guncangan gairah dalam jiwa.

Ada baiknya konsep yang kita punya diselamatkan lewat tulisan. Karena konsep itu seperti nyawa, jika lepas dari raga sulit untuk menemukan penggantinya. Aku punya konsep untuk membangun gairah menulis agar terus terpelihara. Bebaskan diri dalam menulis sama seperti gairah. Terus bangkitkan kata-kata, cerita, imanajinasi karena itu bagian dari ritual menulis.

Hujan menjadi saksi, aku akan terus membangkitkan gairah-gairah termasuk gairah untuk mencintai dan dicintai olehmu. Selamat datang gairah!

Selasa, 27 Desember 2011

Konsep Baru Tabloid SUAKA

Hujan datang dan pergi dengan bebas. Tidak ada satupun manusia yang bisa membaca datangnya hujan termasuk aku. Aku percaya hujan berteman baik dengan awan kelabu dan suara petir bernada tinggi. Desember bukan bulan yang ditunggu tapi bulan penutup dimana akan tergadinya pergantian tahun.

Dalam suasana pagi yang cerah, aku masih setia menatap awan sesekali aku mencoba untuk mencengkram mentari. Itulah kegiatanku selama di Asrama 2 Saudara, sebuah tempat yang kini menjadi sarang berkumpulnya para aktivis kampus. SUAKA sendiri menguasai dua ruangan bernomor 11 dan 12

Tulisan ini belum selesai dan akan disambung di edisi selanjutnya.

Senin, 17 Oktober 2011

Pengenalan SUAKA Lewat Video

Pers Mahasiswa adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang penerbitan media yang ada di kampus. Media itu bisa berbentuk majalah, tabloid, buletin, selembaran, dll

Video ini mencoba menggambarkan pristiwa yang terjadi selama ini di kampus dalam bentuk visualisasi.

Sabtu, 17 September 2011

Panitia OPAK Yang Kurang Bertanggung Jawab

Banyak hal menarik yang bisa ditemukan dalam OPAK tahun ini. Salah satunya serangan tiba-tiba dari sejumlah orang ke kantor panitia OPAK. Malam itu sejumlah orang datang ke kantor panitia OPAK, seorang dari mereka memukul panitia sambil berteriak “mana panitia OPAK teh?” tidak ada dari panitia lain yang berani untuk melawannya. Semua hanya bisa melihat apa yang terjadi. Setelah puas memukul, lelaki itu pergi ke luar bersama temannya yang lain. Ada apa sebenarnya dibalik aksi pemukulan itu?

Ini semua pasti erat kaitannya dengan proyek OPAK. Proyek untuk meraih keuntungan dari setiap kegiatan yang dijalani mahasiswa baru. Seorang mahasiswa baru mulai bercerita, ia kesal ketika panitia menolak perlengkapan baksos yang dibawanya dari rumah. Menurut panitia perlengkapan baksos harus dibeli ditempat yang sudah ditentukan. Sungguh tragis, dimana hati nurani mereka? Sampai-sampai baksos harus dibuat sebagai alat untuk meraih keuntungan.

Sehabis serangan itu tidak ada seorangpun panitia yang berani untuk diam di kantor. Semua pergi menghilang entah kemana, padahal malam itu harus ada acara penutupan OPAK. Di lapangan hanya nampak beberapa panitia dan dua orang pembawa acara yang gagah berani. Bayangkan siapa yang mengatur ribuan mahasiswa baru. Acara malam itu berantakan mahasiswa baru bebas berkeliaran dan acara penutupan OPAK terkesan terpaksa.

Panas dan debu itulah dua hal yang akan menjadi ingatan untuk mahasiswa baru. Acara yang telah dijadwalkan tidak pernah berjalan tepat waktu. Mahasiswa baru banyak kecewa dari segi pelayanan yang kurang memuaskan. Harusnya kehadiran mereka ke kampus ini disambut dengan sebaik-baiknya. Itulah tugas dari panitia OPAK jangan hanya mengejar materi semata. Ingat kinerja panitia lain yang telah berusaha semaksimal mungkin. Jangan buat mereka kecewa dan putus asa.

Tanpa mengurangi rasa hormat harusnya fasilitas OPAK dipersiapkan jauh-jauh hari. Berikan tender kepada orang yang tepat. Dengan itu tidak akan ada lagi mahasiswa baru yang mengeluh dan menagih fasilitas OPAK. Hal ini masih terbukti sampai sekarang banyak dari mereka yang belum mendapat fasilitas itu.
Kalian boleh tersenyum bahagia atas materi yang telah didapat dari OPAK. Ingatlah masih ada orang-orang yang akan mengawasi apa yang kalian perbuat selanjutnya, termasuk kami. Jadilah panitia yang bertanggung jawab jangan lari dari masalah yang ada di depan mata. Beginilah nasib kampus yang penguasanya tidak bisa apa-apa. Lebih baik jadi mahasiswa apatis yang bisa bersenang-senang dengan uang dari orang tua bukan uang dari uang mahasiswa.