Senin, 13 Agustus 2012

Buka Puasa Bersama FKPMB di Punclut

Kemacetan di Punclut menjelang buka puasa. Minggu (12/08).















Karena kemarin ada acara buka bersama teman-teman dari Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) aku menunda kepulangan ke rumah. Ramadhan tinggal tersisa beberapa hari lagi sudah dipastikan jalanan di Bandung pasti macet terutama di hari Minggu. Aku, Ozan, Lette dan HVK berangkat dari kostan sekitar pukul 15.00 menuju kampus STIE Equitas untuk bertemu dengan Tiara. Perjalanan singkat telah membawa kami sampai di kampus Equitas, Ozan turun dari mobil untuk bertemu Tiara. Setelah bertemu Tiara belum ditentukan tempat mana yang akan kita kunjungi. Rencana awal di Punclut namun masih ada rasa ragu dari Ozan sedangkan Tiara sendiri sudah yakin. Maka diputuskan Punclut jadi tempat tujuan buka bersama FKPMB. Tiara langsung sibuk dengan menghubungi teman-teman yang lain yang dipastikan akan ikut kesana.

Belum lama Siti muncul dari kejauhan dan langsung naik ke dalam mobil. Dia adalah salah satu anggota dari ISOLA Pos yang baru pulang KKN dari Garut. Saat melewati jalan-jlaan strategis di Bandung seperti Gasibu dan Dago belum terasa sama sekali kemacetan. Mobil dan mobil masih bisa berjalan seperti biasa tanpa harus menunggu. Waktu adzan maghrib sudah semakin dekat, kita mulai memasuki daerah Ciumbeluit. Saat aku masih menunggu Isman, ada-ada saja kelakuan dari Lette dan HVK mereka yang duduk di jok paling belakang ke luar untuk mencari gorengan dan air minum. Perjalanan kembali dilanjutkan langit sudah mulai gerimis Isman masih ada diluar lalu masuk ke dalam mobil.

Laju mobil harus terhenti saat jalanan sudah dipenuhi oleh tumpukan mobil dan mobil. Jalan menuju Punclut mulai macet terlebih waktu buka puasa sebentar lagi. Keputusan tepat harus diambil, aku mengusulkan untuk buka puasa di warung yang ada didepan. Ozan memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang hampir dekat dengan jurang. Lahan itu memang bukan tempat yang tepat untuk parkir. Belum juga satu menit berselang sudah ada mobil lagi yang parkir disana mengikuti jejak kita. Jadi, kalau di Indonesia segala sesuatu harus ada yang mengawali. Kemacetan total semakin menjadi-jadi. Mobil dan motor sulit untuk bergerak sudah tidak ada ruang kosong lagi. Punclut sore itu macet total. Kita dan orang-orang yang ada disanalah yang jadi saksinya.

Nasi, ayam, tahu dan tempe ditambah sambel sudah tersaji dengan rapi di depan mataku. Alhamdulillah sudah adzan maghrib walau belum terdengar karena aku tahu itu dari twitter @infobandung dengan twitnya “Selamat berbuka puasa untuk warga Bandung dan sekitarnya” . “Kamu lebih percaya ke twitter daripada adzan maghrib,” kata Isman. Aku tersenyum sambil mulai minum segelas teh manis hangat. Lette dan HVK sudah sibuk dengan gorengannya. Prediksi mereka berdua tepat. Gorengan yang sudah dibeli jadi konsumsi kita semua. Kemacetan di Punclut jadi pemandangan pelengkap buka puasa.
Tidak perlu diceritakan seperti apa aku makan. Cukup bayangkan saja bagaimana nikmatnya makan nasi, ayam bakar, tahu-tempe dan sambal. Buka puasa bersama FKPM sore itu tidak lengkap yg tidak bisa datang diantaranya Gandjar Daun Djati, Aziz Birama UNIKOM, Pimen Jumpa, Teta Djatinangor, Ucayy Gema Suara, dll.

Selesai makan satu-persatu pers mahasiswa mulai menceritakan permasalahannya masing-masing. SUAKA misalnya yang sekarang sedang menggarap majalah tapi para anggota barunya tidak kuat untuk rapat berlama-lama. Suara Mahasiswa (SM) baru saja punya pimpinan umum yang baru namanya Ujang. Tidak lupa kelanjutan forum ini dibicarakan. FKPMB sekarang kehilangan sosok figur tidak seperti Gandjar. Sekjen FKPMB, Ucayy masih belum bisa merangkul anggota pers lain itu curhanan hati para senior FKPMB. Untuk website saja yang diusulan dari jauh-jauh hari belum sama sekali dibuat. Ozan bilang paling tidak gunakan layanan gratis dulu seperti blogspot lalu nanti baru dijadikan website. Aku sendiri merasa FKPMB sudah tidak berapi-api lagi. Setiap persma yang tegabung di forum terutama sekjen berperan besar untuk membuat api itu tetap menyala. Regenerasi harus tetap ada jangan biarkan ketika satu orang hilang semuanya menghilang.

Dari kejauhan terlihat cahaya lampu di kota Bandung sudah semakin terang, itu menunjukan malam semakin terasa gelap. Masih ada banyak mobil dan motor yang menuju Punclut. Aku bersama yang lainnya kembali pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada ketika pergi. Pasti ada cerita lain di hari esok bukan lagi tentang Punclut dan kemacetannya.

2 komentar: