Ini bukan cerita tentang perlombaan lari maraton, estafet atau jenis lari lainnya.Sore tadi, aku bertemu dengan temanku Opik dari jurusan Ilmu Hukum, dia berpakian rapi layaknya pemerhati politik atau seperti asisten dosen yang baru pulang mengajar. Opik bertanya banyak hal padaku lalu aku bertanya sedikit hal kepadanya. Aku menangkap bahwa Opik suka menulis walau tidak berdasarkan teori. Hal terpenting menulis bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang dan itu benar.
Hari kemarin, aku mengikuti seminar konvergensi media yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dalam rangka memeriahkan ulang tahun yang ke-14. Di seminar itu aku mendapat banyak ide baru dari para pembicara seperti Yudha (Praktisi Citizen Journalism), Heri Ruslan (Redaktur Republika Online), dan Enjang Muhaemin. Saat seminar sudah berlangsung, aku ingin mengajak seseorang yang biasanya aku godai. Senyum indahnya sudah lama tidak melintas di telingaku, suaranya tidak bisa aku raba, itulah alasan mengapa aku ingin dia ada. Fatia, aku memanggilmu untuk datang bersamaku.
Sapaan lain datang ketika telepon genggamku mulai berdering seperti jeritan halilintar, aku berbicara dengan suara wanita yang masih asing. Asing bukan karena belum pernah bertemu karena belum aku ketahui maksud dan tujuannya meneleponku. Kini percakapan antara kita sudah terjalin, wanita itu adalah panitia dari Hijab Fest 2012 yang ingin menyampaikan kalau kampus UIN mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komunitas hijabers di acara nanti. Penampilan bisa dengan berbagai macam seperti fashion show, penampilan kreasi seni, kampanye, dll. Setahuku di kampus belum ada komunitas hijaber tapi ada beberapa orang yang mahasiswi yang aktif di komunitas hijaber luar kampus. Setelah telepon berakhir, aku harus langsung mencari dan menemukan komunitas hijaber itu. Momen pertama yang sayang untuk dilewatkan.
Tidak mudah jika aku hanya diam dan tidak mencari komunitas hijaber untuk mewakili kampus. Langkah awal adalah bertanya kepada teman. Dari banyaknya teman yang aku tanyai tidak seorangpun yang tahu bahkan berbalik tanya tentang apa itu hijab? Pencarian berlanjut lewat jejaring sosial twitter darisana mulai muncul mention dari followers yang berbagi banyak informasi. Aku menemukan seorang mahasiswi bernama Putri Imaniar @putri_imaniar jurusan psikologi yang aktif di komunitas Hijaber Bandung. Menurutnya kegiatan dari komunitas ini teramat banyak seperti tugas yang ditumpuk Mulai dari pengajian, workshop, personality class, sampai hijab tutorial.
Saat ditemui aku harus menerima kenyataan kalau memang Putri adalah anggota hijaber yang totalitas. Terlihat dari pakaian dan kerudung yang digunakan, dipadu dengan polesan make up menjadikan dirinya seorang pejuang hijaber. Itu nyata dan tidak ada rekayasa. Jadwal padat menjadikan obrolan siang itu harus padat berisi. Selama aktif di komunitas hijaber, hanya sedikit dari mahasiswi UIN yang tertarik untuk bergabung. Jadi untuk di kampus sendiri tidak ada komunitas hijaber. Isi otakku berkata, harus ada perwakilan dari kampus UIN yang tampil di acara Hijab Fest bulan Juni nanti. Putri mencoba membantuku dengan menghubungi teman hijabernya yang lain. Memang sedikit dari UIN yang ikut komunitas jadi untuk bisa ngobrol sulit sekali. Ada beberapa anggota lainnya seperti Alawiyah dan Rere.
Jadi, selain aktif di komunitas Putri juga mempunyai sebuah butik dan menjadi personil dari grup musik islami Fatira. Fatira beranggotakan Putri, Yora dan Atifah biasa bernyanyi minus one lagu "Muhasabah Cinta". Jika dirasa tepat Fatira akan mewakili kampus untuk tampil di Hijab Fest 2012. Namun itu belum diputuskan karena mengejar hijaber lainnya dirasa perlu dan tidak bisa dilewatkan. Hijab tidak lagi menjadi penutup kepala. Tapim kini ada nilai lain yang diangkat yaitu gaya hidup dan status.
Kamis, 24 Mei 2012
Rabu, 18 April 2012
Tentang Fatia
Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.
Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia
“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”
Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.
Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.
Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.
Minggu, 08 April 2012
Tindak Lanjut Untuk Diklat Bersama FKPMB
Sebagai mahasiswa tingkat akhir jadwal kuliahku tidak terlalu padat sehingga banyak waktu kosong. Sore hari tepatnya aku bersama Ozan pergi menuju ISOLA POS, UPI ada pertemuan antara Pimpinan Umum seluruh pers mahasiswa di Bandung untuk membicarakan agenda Diklat Bersama. Beberapa sudut jalan di Bandung terlihat basah, aku bisa merasakan segarnya udara sore sehabis hujan. Setiabudi menjadi pusat lokasi factory outlet, dan kuliner yang terkenal di Bandung. Laju akhir motor berhenti di depan pintu masuk kampus Universitas Pendidikan Indonesia.
Sampai di sekretariat ISOLA POS aku bertemu dengan Isman, Siti dan seorang wanita berkacamata yang wajahnya masih asing. Koran KOMPAS dan majalah TEMPO berserakan di lantai. Ruangan tidak tertata dengan rapi banyak sisa bungkus makanan dan minuman. Gelas menjadi asbak sudah menjadi pemandangan biasa. Sudah bisa ditebak pasti ada perokok yang menghinggapi tempat ini.
Ruangan yang tidak memadai membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk pertemuan sore itu. Satu persatu para pemimpin mulai berdatangan. Ada dari Media Parahyangan, E-Pers, Birama, Gema Suara, Daunjati, dan Suara Mahasiswa pertemuan membicarakan tentang rencana diklat bersama FKPMB. FKPMB merupakan sebuah Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung didirikan pada bulan Mei 2011 sebagai sebuah forum untuk menjalin komunikasi antar pers mahasiswa di Bandung. Sudah diputuskan Diklat Bersama akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 April 2012 di kampus II UNISBA, di daerah Ciburial. Setiap persma wajib membayar Rp 100.000,- untuk biaya acara dan mengirimkan 3-5 anggotanya. Setiap anggota wajib membayar Rp 35.000,-
Ada persolan yang belum selesai yaitu menentukan penannggung jawab konsumsi untuk acara nanti. Konsumsi dipercayakan kepada Aziz, pembayaran dan konfirmasi diklat kepada Suara Mahasiswa dan Daunjati, lalu acara seluruhnya pada ISOLA POS, dan Humas oleh SUAKA dibantu oleh Gema Suara. Malam semakin tidak bersahabat karena membawa kegelapan dan menyebar angin bercampur es. Pertemuan harus berakhir secepat kata penutup dari ISOLA sebagai tuan rumah.
Malam menjadi surga bagi mereka penikmat kehidupan malam. Sulit menemukan lokasi yang tidak terjamah oleh lampu. Mobil-mobil mewah terparkir dengan rapih, pemilknya terlihat duduk santai menikmati makanan dan minuman di cafe. Aku sempat menyambangi sebuah Cafe bernama Madtari yang terletak di bilangan jalan Tamansari. Cafe itu hasil rekomendasi dari Ozan, ia dulu pernah pergi kesana. Makanan tersaji dengan cepat, Madtari terkenal dengan taburan kejunya yang menumpuk seperti daun-daun berguguran. Malam ini aku menikmati mie goreng jumbo keju dan es milo. Nikmat sungguh rasanya.
Sampai di sekretariat ISOLA POS aku bertemu dengan Isman, Siti dan seorang wanita berkacamata yang wajahnya masih asing. Koran KOMPAS dan majalah TEMPO berserakan di lantai. Ruangan tidak tertata dengan rapi banyak sisa bungkus makanan dan minuman. Gelas menjadi asbak sudah menjadi pemandangan biasa. Sudah bisa ditebak pasti ada perokok yang menghinggapi tempat ini.
Ruangan yang tidak memadai membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk pertemuan sore itu. Satu persatu para pemimpin mulai berdatangan. Ada dari Media Parahyangan, E-Pers, Birama, Gema Suara, Daunjati, dan Suara Mahasiswa pertemuan membicarakan tentang rencana diklat bersama FKPMB. FKPMB merupakan sebuah Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung didirikan pada bulan Mei 2011 sebagai sebuah forum untuk menjalin komunikasi antar pers mahasiswa di Bandung. Sudah diputuskan Diklat Bersama akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 April 2012 di kampus II UNISBA, di daerah Ciburial. Setiap persma wajib membayar Rp 100.000,- untuk biaya acara dan mengirimkan 3-5 anggotanya. Setiap anggota wajib membayar Rp 35.000,-
Ada persolan yang belum selesai yaitu menentukan penannggung jawab konsumsi untuk acara nanti. Konsumsi dipercayakan kepada Aziz, pembayaran dan konfirmasi diklat kepada Suara Mahasiswa dan Daunjati, lalu acara seluruhnya pada ISOLA POS, dan Humas oleh SUAKA dibantu oleh Gema Suara. Malam semakin tidak bersahabat karena membawa kegelapan dan menyebar angin bercampur es. Pertemuan harus berakhir secepat kata penutup dari ISOLA sebagai tuan rumah.
Malam menjadi surga bagi mereka penikmat kehidupan malam. Sulit menemukan lokasi yang tidak terjamah oleh lampu. Mobil-mobil mewah terparkir dengan rapih, pemilknya terlihat duduk santai menikmati makanan dan minuman di cafe. Aku sempat menyambangi sebuah Cafe bernama Madtari yang terletak di bilangan jalan Tamansari. Cafe itu hasil rekomendasi dari Ozan, ia dulu pernah pergi kesana. Makanan tersaji dengan cepat, Madtari terkenal dengan taburan kejunya yang menumpuk seperti daun-daun berguguran. Malam ini aku menikmati mie goreng jumbo keju dan es milo. Nikmat sungguh rasanya.
Senin, 26 Maret 2012
Menyambangi Jakarta Menuju TRANS TV
Aksi demontrasi menolak kenaikan harga BBM akan terus berlanjut. Senin pagi tepatnya FDK, buruh, PMII dan sekelompok mahasiswa berencana pergi ke Gedung Sate, Bandung untuk berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Hilda datang membawa setetes senyuman mengusir kesepianku di waktu pagi. Tidak lama kemudian datang Siti Mariam bersama sahabat dekatnya Iis. 3 wanita itu punya keinginan yang sama datang untuk meliput aksi demontrasi di kampus.
Saat semua kondisi sudah aman, aku bersama Ozan langsung pergi ke kampus meninggalkan Asrama 2 Saudara. Belum lama muncul Nirra dengan motor mio hitam miliknya. Anggota baru SUAKA juga berkumpul di depan kampus untuk membicarakan peliputan demo ke Gedung Sate. Aku sempat melihat wajah seorang wanita di pintu gerbang masuk kampus.Kedua bola mata lentiknya menatap kearahku. Sepintas, secepat angin berlari menghampiriku. Ozan memberikan handphonenya kepadaku, katanya Tiara ingin bicara. Dengan penuh harap dia memintaku untuk ikut pergi ke Jakarta hari ini.
Aku sendiri masih belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Tiara, ia hanya ingin aku bisa membantu temannya untuk membuat sebuah cerita SKETSA yang tayang di TRANS TV. Saran dari Ozan coba dulu pergi kesana siapa tahu itu kesempatan bagus. Aku bertemu Tiara di rumahnya daerah Pasir Jati brdekatan dengan SMP 50 Bandung. Rumah Tiara ditutup rapat oleh pagar, banyak tanaman tumbuh disana. Tiara keluar rumah dengan keadaan siap untuk berangkat seperti seorang petualang wanita dengan tas yang cukup besar.
Jarak antara Bandung menuju Jakarta tidak memakan banyak waktu. Aku dan Tiara pergi kesana dengan menggunakan BARAYA Travel kami berdua turun tepat di depan kantor TRANS TV. cuaca kota Jakarta memang panas itu terasa saat aku keluar dari mobil travel. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa terlebih pergerakan manusia ibukota tidak dibatasi oleh waktu.
Outsourcing dan brainstorming 2 hal itu yang aku kerjakan selama ada di Jakarta. Aku bertemu untuk braainstorming cerita SKETSA di gedung TRANS TV lantai 7 inilah pertama kalinya bagiku melihat langsung sebuah kantor statsiun televisi. Para karyawan TRANS cukup ramah kepada setiap pengunjung yang datang. Dalam ruang SKETSA aku berkenalan satu persatu dengan karyawan disana, ada Wahid, Ika, Ilham, dll. Kekuatan dari SKETSA ada di setting tempat, alur cerita dan klimaks. Tidak jarang jika alur cerita yang biasa-biasa langsung ditolak saat brainstorming atau kejadian yang sama kembali diulang ketika di setting tempat yang baru.
Saat semua kondisi sudah aman, aku bersama Ozan langsung pergi ke kampus meninggalkan Asrama 2 Saudara. Belum lama muncul Nirra dengan motor mio hitam miliknya. Anggota baru SUAKA juga berkumpul di depan kampus untuk membicarakan peliputan demo ke Gedung Sate. Aku sempat melihat wajah seorang wanita di pintu gerbang masuk kampus.Kedua bola mata lentiknya menatap kearahku. Sepintas, secepat angin berlari menghampiriku. Ozan memberikan handphonenya kepadaku, katanya Tiara ingin bicara. Dengan penuh harap dia memintaku untuk ikut pergi ke Jakarta hari ini.
Aku sendiri masih belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Tiara, ia hanya ingin aku bisa membantu temannya untuk membuat sebuah cerita SKETSA yang tayang di TRANS TV. Saran dari Ozan coba dulu pergi kesana siapa tahu itu kesempatan bagus. Aku bertemu Tiara di rumahnya daerah Pasir Jati brdekatan dengan SMP 50 Bandung. Rumah Tiara ditutup rapat oleh pagar, banyak tanaman tumbuh disana. Tiara keluar rumah dengan keadaan siap untuk berangkat seperti seorang petualang wanita dengan tas yang cukup besar.
Jarak antara Bandung menuju Jakarta tidak memakan banyak waktu. Aku dan Tiara pergi kesana dengan menggunakan BARAYA Travel kami berdua turun tepat di depan kantor TRANS TV. cuaca kota Jakarta memang panas itu terasa saat aku keluar dari mobil travel. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi pemandangan biasa terlebih pergerakan manusia ibukota tidak dibatasi oleh waktu.
Outsourcing dan brainstorming 2 hal itu yang aku kerjakan selama ada di Jakarta. Aku bertemu untuk braainstorming cerita SKETSA di gedung TRANS TV lantai 7 inilah pertama kalinya bagiku melihat langsung sebuah kantor statsiun televisi. Para karyawan TRANS cukup ramah kepada setiap pengunjung yang datang. Dalam ruang SKETSA aku berkenalan satu persatu dengan karyawan disana, ada Wahid, Ika, Ilham, dll. Kekuatan dari SKETSA ada di setting tempat, alur cerita dan klimaks. Tidak jarang jika alur cerita yang biasa-biasa langsung ditolak saat brainstorming atau kejadian yang sama kembali diulang ketika di setting tempat yang baru.
Label:
Personal
Selasa, 14 Februari 2012
Teruntuk Seseorang
Sejak kehadiran blog banyak orang yang tertarik untuk mencoba layanan ini. Alasan ketertarikan mereka bermacam-macam. Mulai dari iseng-iseng, penasaran sampai serius menjalani profesi sebagai blogger. Blogspot kini telah menjadi catatan harian digital seseorang. Sebuah blog tidak hanya diisi oleh tulisan tapi bisa juga diisi dengan foto dan video. Tulisan dari seorang blogger merupakan rangkaian cerita kehidupan dimulai dari cinta sampai hal-hal yang tidak pernah dituliskan sebelumnya. Tema yang satu ini banyak menarik perhatian para blogger. Walau pada kenyataanya tidak semuanya suka untuk menulis tentang cinta. Sebuah blog yang berisi cinta biasanya hanya bertahan sampai beberapa postingan saja seperti curhatan pribadi, puisi, lirik lagu, sampai foto mesra bersama pacar.
Perubahan yang terjadi pada dirinya banyak menarik perhatian orang-orang. Perubahan kecil yang punya dampak besar. Kini, ia seperti punya magnet kuat untuk menarik perhatian pria. Aku tidak pernah ada perasaan sama sekali kepadanya. Jalinan aku dan dirinya sebagai teman yang tidak terlalu dekat dan jauh. Kacamata yang dulu di pakai sudah ia lepas. Setiap tatapan dari dirinya penuh ketulusan dan jujur. Itulah dia telah berbeda tapi masih punya sifat yang sama.
Perubahan yang terjadi pada dirinya banyak menarik perhatian orang-orang. Perubahan kecil yang punya dampak besar. Kini, ia seperti punya magnet kuat untuk menarik perhatian pria. Aku tidak pernah ada perasaan sama sekali kepadanya. Jalinan aku dan dirinya sebagai teman yang tidak terlalu dekat dan jauh. Kacamata yang dulu di pakai sudah ia lepas. Setiap tatapan dari dirinya penuh ketulusan dan jujur. Itulah dia telah berbeda tapi masih punya sifat yang sama.
Jumat, 27 Januari 2012
Pertemuan Dengan Anggota Karang Taruna Unit 12
Motor mio merah datang tepat di depan mataku. Lelaki berkulit sawo matang kemudian menatap ke arahku kemudian bertanya “Nuju pada dimarana keneh nu sanes tos ngantosan?” Pertanyaan itu mengingatkanku pada Ali dan Chandra yang baru saja pergi. Aku menjawabnya “Tadi teh duaan tos kaditu dipayun ka bumi bapak”.
Aku dibawa sang pengemudi menuju sebuah tempat perkumpulan yang diketahuinya. Malam terus memperhatikan setiap laju kita. Karena gelap sulit untuk menembus jalan yang penuh kerikil di desa Cipaku. Laju motor yang gigih telah membawaku sampai di sebuah rumah. Rumah itu sudah dipenuhi oleh para penduduk yang kebanyakan anggota aktif dari karang taruna unit 12. Satu persatu penduduk aku salami. Kebanyakan dari mereka sudah berusia dewasa dan menikah. Terlihat juga ada ketua RW 12 duduk di lantai beralaskan karpet.
Acara dibuka oleh seorang pembawa acara dari warga. Aku duduk bersampingan dengan Arli sedangkan Chandra bersebelahan dengan ketua karang taruna, pak Opo Mustofa. Agar lebih leluasa bahasa sunda dipilih untuk bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Pada saat memberi sambutan, ketua Karang Taruna mulai memperkenalkan semua anggota yang hadir. Ada Aam, Tony, bu Cici, bu Susi, dll. Semua datang dari latar belakang yang berbeda.
Chandra bagian olahraga, seni dan kepemudaan di kelompok 18 mulai menjelaskan maksud kedatangan mahasiswa KKM UIN Bandung ke kampung Pabean ini. Kami ingin belajar disini dan membantu dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Selain itu akan ada pertandingan Volli dan tournament sepakbola untuk kategori anak-anak. Untuk Volli kategori A,B,C putra dan putri selanjutnya kompetisi sepakbola akan dibicarakan malam ini.
Karang Taruna kampung Pabean sudah mengerti dan berpengalaman dalam hal melaksanakan kompetisi sepakbola. Toni selaku pengurus lapangan langsung memberi masukan. Menurutnya untuk sebuah kompetisi sepakbola disebut gampang, memang gampang. Disebut sulit juga memang sulit. Banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama masalah perizinan ke pihak kepolisian. Perizinan biasanya menghabiskan banyak biaya sampai jutaan. Contoh kecil untuk perizinan awal panitia harus mengeluarkan dana sekitar Rp2.000.000,- belum lagi untuk perizinan selanjutnya. Dari pemaparan itu, aku sempat berpikir dari perizinan saja sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak belum lagi untuk hadiah,wasit, dll.
Dari penjelasan pak Toni aku, Arli dan Chandra jadi banyak tahu dan mengerti. Pada akhirnya kompetisi sepakbola bukanlah pilihan tepat. Pertandingan eksibisi menjadi pilihan pengganti untuk itu. Karena malam yang semakin larut, acara perkumpulan bersama karang taruna unit 12 langsung ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua RW 12.
Sore hari sebelum makan malam, dosen pembimbing lapangan, Ibu Eni Julaiha, M.Ag sempat berkunjung ke tempat kami. Kelompok 18 jadi persinggahan terakhirnya. Ia datang untuk mengontrol apa saja yang telah kami kerjakan di lokasi KKM. Ibu Eni banyak menyampaikan gagasan untuk masyarakat disini. Mulai dari masalah pernikahan dini yang banyak terjadi di desa, pemberantasan buta huruf sampai pesan untuk kelompok kita. Pertemuan dengannya terasa singkat seperti hembusan angin sore. Ia pergi untuk mengobati kerinduan kedua anaknya yang telah menunggu bunda di rumah.
Aku dibawa sang pengemudi menuju sebuah tempat perkumpulan yang diketahuinya. Malam terus memperhatikan setiap laju kita. Karena gelap sulit untuk menembus jalan yang penuh kerikil di desa Cipaku. Laju motor yang gigih telah membawaku sampai di sebuah rumah. Rumah itu sudah dipenuhi oleh para penduduk yang kebanyakan anggota aktif dari karang taruna unit 12. Satu persatu penduduk aku salami. Kebanyakan dari mereka sudah berusia dewasa dan menikah. Terlihat juga ada ketua RW 12 duduk di lantai beralaskan karpet.
Acara dibuka oleh seorang pembawa acara dari warga. Aku duduk bersampingan dengan Arli sedangkan Chandra bersebelahan dengan ketua karang taruna, pak Opo Mustofa. Agar lebih leluasa bahasa sunda dipilih untuk bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Pada saat memberi sambutan, ketua Karang Taruna mulai memperkenalkan semua anggota yang hadir. Ada Aam, Tony, bu Cici, bu Susi, dll. Semua datang dari latar belakang yang berbeda.
Chandra bagian olahraga, seni dan kepemudaan di kelompok 18 mulai menjelaskan maksud kedatangan mahasiswa KKM UIN Bandung ke kampung Pabean ini. Kami ingin belajar disini dan membantu dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Selain itu akan ada pertandingan Volli dan tournament sepakbola untuk kategori anak-anak. Untuk Volli kategori A,B,C putra dan putri selanjutnya kompetisi sepakbola akan dibicarakan malam ini.
Karang Taruna kampung Pabean sudah mengerti dan berpengalaman dalam hal melaksanakan kompetisi sepakbola. Toni selaku pengurus lapangan langsung memberi masukan. Menurutnya untuk sebuah kompetisi sepakbola disebut gampang, memang gampang. Disebut sulit juga memang sulit. Banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama masalah perizinan ke pihak kepolisian. Perizinan biasanya menghabiskan banyak biaya sampai jutaan. Contoh kecil untuk perizinan awal panitia harus mengeluarkan dana sekitar Rp2.000.000,- belum lagi untuk perizinan selanjutnya. Dari pemaparan itu, aku sempat berpikir dari perizinan saja sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak belum lagi untuk hadiah,wasit, dll.
Dari penjelasan pak Toni aku, Arli dan Chandra jadi banyak tahu dan mengerti. Pada akhirnya kompetisi sepakbola bukanlah pilihan tepat. Pertandingan eksibisi menjadi pilihan pengganti untuk itu. Karena malam yang semakin larut, acara perkumpulan bersama karang taruna unit 12 langsung ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua RW 12.
Sore hari sebelum makan malam, dosen pembimbing lapangan, Ibu Eni Julaiha, M.Ag sempat berkunjung ke tempat kami. Kelompok 18 jadi persinggahan terakhirnya. Ia datang untuk mengontrol apa saja yang telah kami kerjakan di lokasi KKM. Ibu Eni banyak menyampaikan gagasan untuk masyarakat disini. Mulai dari masalah pernikahan dini yang banyak terjadi di desa, pemberantasan buta huruf sampai pesan untuk kelompok kita. Pertemuan dengannya terasa singkat seperti hembusan angin sore. Ia pergi untuk mengobati kerinduan kedua anaknya yang telah menunggu bunda di rumah.
Sabtu, 21 Januari 2012
Jomlo
Hubungan pertemanan menjadi awal untuk melangkah ke tahap yang lebih serius. Ada perbedaan ketika hubungan masih sebatas teman dan lebih dari sekedar teman. Jika masih sebatas teman obrolan masih terasa ringan seperti angin yang datang tanpa beban. Setiap coloteh yang keluar dari mulut terasa begitu mengalir tanpa ada keragu-raguan. Aku sering merasakan hal ini. Semua berbeda jika lebih dari sekedar teman. Ada benteng penutup yang membuat obrolan terasa kaku. Harus ada yang dijaga sulit lagi untuk membuatnya cair.
Sendiri itu berani. Berani untuk menjalani segala setiap hal yang ada dalam hidup. Banyak dari manusia yang terus terpenjara dalam kesendirian. Seorang pemuja kesendirian masih punya cinta. Cinta untuk masih menjadi sendiri tanpa ada peraturan undang-undang kehidupan.
Tidak semua hal bisa dibagi termasuk cinta. Dampak dari itu telah melahirkan ideologi baru dengan nama "jomlo" sebutan untuk orang-orang yang tidak punya pasangan. Jomblo bukan sebuah kutukan, bukan bencana. Inilah jalan terbaik sampai datang waktu yang tepat untuk merubah kata itu menjadi tidak jomblo lagi.
Sendiri itu berani. Berani untuk menjalani segala setiap hal yang ada dalam hidup. Banyak dari manusia yang terus terpenjara dalam kesendirian. Seorang pemuja kesendirian masih punya cinta. Cinta untuk masih menjadi sendiri tanpa ada peraturan undang-undang kehidupan.
Tidak semua hal bisa dibagi termasuk cinta. Dampak dari itu telah melahirkan ideologi baru dengan nama "jomlo" sebutan untuk orang-orang yang tidak punya pasangan. Jomblo bukan sebuah kutukan, bukan bencana. Inilah jalan terbaik sampai datang waktu yang tepat untuk merubah kata itu menjadi tidak jomblo lagi.
Langganan:
Entri (Atom)